Menyikapi Kampenye Nikah Muda yang Keblinger
berita
Humaniora
Sumber Foto : twitter.com (gie/watyutink.com) 26 September 2018 16:30
Pekan lalu viral sebuah gambar di jagat Twitter. Gambar itu memperlihatkan seorang wanita berhijab tampak tertawa sambil menutup mulut, seperti malu-malu. Di gambar terdapat tulisan dengan huruf warna pink dan hitam: "Hauss? Minum!; Lapar?? Makan!; Bokek?? Nikah! Biar ada yang nafkahin." 

Kontan saja gambar itu segera viral dan jadi perbincangan yang mengundang pro-kontra. Yang pro mengatakan, tidak ada yang salah dari tulisan di gambar itu. Dalam biduk rumah tangga, tugas suami yang mencari nafkah. Maka, sah saja bila perempuan ingin menikah agar ada yang menafkahi. Namun, yang kontra juga tak sedikit. Yang tak setuju mempertanyakan, memangnya tujuan menikah sekadar agar ingin dinafkahi pria? 

Mengandalkan pria sebagai satu-satunya sumber nafkah untuk memenuhi kebutuhannya juga mereduksi peran perempuan. Di balik pandangan macam begitu ada sikap perempuan tak boleh mandiri, punya penghasilan sendiri dan menentukan jalan hidupnya. Begitu menikah, perempuan sepenuhnya menggantungkan hidup pada pria (suami). 

Sebetulnya, bukan kali ini kampanye ajakan nikah muda di media sosial jadi perbincangan. Hanya kali ini pesannya beda. Kali ini yang jadi fokus pesan adalah: segeralah menikah agar ada yang menafkahi, sehingga tak perlu repot cari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kali lain, pesannya segeralah menikah, agar hubungan seks menjadi halal. 

Bagi yang mengkampanyekan nikah muda, pernikahan adalah solusi untuk menghindari zina. Alih-alih mengedukasi risiko hubungan seks di usia dini, gerakan ini mengajak generasi muda menghalalkan seks lewat pernikahan. Seolah perkara pernikahan semata urusan menghalalkan hubungan seks. Tidakkah kampanye nikah muda dengan pesan-pesan di atas tersebut keblinger namanya?

Kampanye gerakan menikah muda kini semakin masif bermain di media sosial. Umumnya, kampanye itu berisi kutipan-kutipan romantis ditambah dalil-dalil agar semakin meyakinkan generasi muda untuk segera menikah. Entah alpa atau ada alasan lain, kampanye itu tak pernah sekalipun menyebut kompleksitas kehidupan rumah tangga.

Soal nafkah, misalnya. Untuk memperoleh penghasilan, menikah bukan solusi utama. Bila bokek alias tak punya uang, orang sepatutnya bekerja. Selain itu, meski kewajiban pria menafkahi istrinya, rumah tangga akan lebih mudah dijalani bila pasangan telah mapan secara finansial. Kebutuhan hidup yang harus dipenuhi setelah pernikahan tak sedikit. Sandang, pangan, dan papan tak bisa dipenuhi hanya dengan cinta. Bukankah tak pantas bila status suami-istri tapi kebutuhan hidup masih dipenuhi mertua atau orangtua?  Pernikahan tidak seharusnya malah menambah beban orangtua, bukan? 

Soal alasan menikah demi seks yang halal pun pantas digugat. Mereduksi makna pernikahan jadi “legalisasi” seks belaka menodai institusi suci bernama rumah tangga. Kita sepakat zina dilarang. Namun, untuk membuat zina jadi halal pernikahan bukan satu-satunya solusi. Seharusnya generasi muda diedukasi perempuan yang melakukan hubungan seks dalam usia dini berisiko kanker serviks. Kanker serviks adalah pembunuh nomor dua perempuan Indonesia. Kenapa yang dikedepankan bukan edukasi seks oleh gerakan nikah muda ini?      

Sejatinya, kita sepakat menikah lebih baik daripada seks bebas. Sebagaimana menikah muda, seks bebas di usia muda juga berisiko pada kesehatan reproduksi. Namun solusi dari persoalan seks bebas sesungguhnya pula bukan sekadar pernikahan. Hanya saja, di sini edukasi kesehatan reproduksi langsung dicurigai kampanye seks bebas. Menikah yang akhirnya dipilih jadi jawaban. Namun, apa jadinya sebuah pernikahan tanpa kesiapan mental dan fisik?

Apa pendapat Anda? Watyutink?   

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penulis buku

Ada dua argumentasi yang paling sering digunakan kelompok fundamentalis dalam mengampanyekan nikah muda. Pertama dari sisi individu adalah menghindari diri dari hubungan seks di luar nikah yang dalam terminologi agama termasuk perbuatan dosa besar. Kedua, dari sisi kemajuan umat yaitu  keyakinan bahwa dengan cepat menambah populasi niscaya akan kuat pula sebagai kelompok masyarakat.  

Jika dilihat, kedua argumentasi ini memang cenderung bersifat simplistik dan tidak memperhatikan derajat kompleksitas kehidupan manusia.  

Dugaan saya, dalam konstelasi pertarungan pemikiran dan kekuatan politik, pilihan menggunakan isu yang primal (seperti seksualitas, hubungan intim manusia dan keluarga) didorong oleh kondisi sosial budaya yang membuat  kampanye tersebut  mudah ‘dibeli’ oleh publik. Kampanye seperti ini dipilih karena hanya melanggengkan nilai-nilai patriarki yang usianya mungkin lebih tua dari agama itu sendiri. 

Jika diperhatikan, kampanye menikah muda itu juga berbanding lurus dengan semakin kerasnya tekanan untuk berhijab bagi perempuan, gencarnya kampanye poligami dan seruan lain yang senada. Semua kampanye ini memiliki kesamaan yaitu dorongan yang besar untuk mengendalikan perempuan dan menjadikannya alat untuk mencapai kekuasaan. Ada kekuatan yang berupaya kembali mendomestikasi perempuan dan melucuti otoritas perempuan atas dirinya, karena itu adalah strategi tertua dan sayangnya masih kerap berhasil hingga sekarang. 

Padahal salah satu terobosan terpenting yang dibawa ajaran Islam adalah kesetaraan perempuan dan laki-laki yang antara lain terlihat dari ajaran yang mengutamakan pernikahan monogami, memberikan ruang bagi perempuan untuk menjadi  pemimpin dan tidak menghakimi cara perempuan berpakaian. Namun dari waktu ke waktu, nilai-nilai keadilan terhadap perempuan yang diusung Islam justru kerap dimanipulasi oleh sebagian pihak yang ingin melanggengkan kemapanan sistem patriarkis.  

Sejarah dan tradisi Islam dipenuhi kisah figur perempuan yang berdaya. Khadijah istri pertama Rasulullah adalah seorang pedagang sukses. Aisyah istri Rasulullah setelah Khadijah wafat adalah seorang intelektual yang bahkan pernah memimpin perang. Banyak lagi figur seperti ini dalam sejarah Islam yang sepertinya justru dikaburkan dan nyaris tak pernah diangkat. Jadi kampanye nikah muda dengan pesan-pesan yang mendomestikasi dan bahkan merendahkan perempuan sesungguhnya tidak dapat dianggap sepenuhnya mewakili ajaran Islam. 

Jadi fenomena gerakan menikah muda ini tidak dapat dianggap berdiri sendiri. Ia mesti ditempatkan di dalam konteks besar sebagai upaya kelompok tertentu untuk menggalang kekuatan mereka demi mendapatkan kekuasaan. Agama dijadikan alat untuk menghilangkan keunikan individu dan menjadikan manusia tak ubahnya sekadar suatu sekrup saja untuk mendorong kepentingan amat besar. Kelompok ini tidak akan melakukan upaya serius untuk memberikan pendidikan keluarga terlebih seks, karena mereka tidak benar-benar peduli pada isu tersebut dan karena pendidikan kesetaraan hanya akan mengguncang dan  mengancam agenda politik mereka. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog, Founder & CEO PT.l Personal Growth

Menyangkut kampanye gerakan nikah muda dengan bilang "Bokek? Nikah!" yang berarti menikah semata untuk ada yang menafkahi adalah pernyataan yang sangat kasar, dan menghina perempuan. Maka, menghina diri sendiri sebagai perempuan, jika hal itu diamini oleh perempuan.

Selain itu, pernikahan semata karena agar ada yang menafkahi juga merendahkan kesakralan perkawinan yang suci. Perkawinan itu sakral. Pernyataan tadi membuat perkawinan jadi setara dengan pelacuran.

Karena sakral, maka persiapan yang serius menjadi penting. Termasuk secara psikologis, sosial, dan ekonomi. Perkawinan semestinya dilakukan oleh sepasang orang dewasa, yang setara usianya, dan siap untuk menjalankan relasi orang dewasa sebagai suami-istri, dan juga siap untuk menjadi orangtua, saat anak-anak hadir ke dalam kehidupan perkawinan mereka. 

Menurut saya, kampanye nikah muda ini merupakan manipulasi ajaran agama. Semua ajaran agama mengajarkan kebaikan, dan berpihak kepada kehidupan, yang artinya menempatkan perkawinan sebagai hal yang sakral dan suci, sebagaimana yang saya jelaskan di atas. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Di era digital ini, di mana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih alias sophisticated ini, seperti hadirnya berbagai macam media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, LinkedIn dan lain-lain, semakin menambah ruang ekspresi dan menjadi tempat menumpahkan berbagai hal, termasuk uneg-uneg. Dunia maya, begitu disebutkan sekarang, menjadi tempat memuntahkan segala hal, termasuk kebencian dan bahkan berita bohong yang kita kenal dengan hoax.

Secara nyata, di dunia maya, semakin banyak hal aneh dan terkadang tidak masuk di akal sehat kita. Dikatakan aneh, karena tidak semua hal bisa berjalan lurus, mengikuti rel dan berjalan seiring sejalan. Banyak hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, ya itu pula yang diperbanyak. Banyak hal yang dilarang, maka segala yang dilarang itu didobrak. Ada hal yang tidak perlu dikampanyekan, malah menjadi bahan kampanye yang sifatnya viral. Salah satunya adalah kampanye nikah mudah yang keblinger itu. Kampanye yang ditanggapi beragam, ada pro dan kontra serta netral. Paling tidak, Ade Irwansyah di www.watyutink.com  menyorot soal  kampanye nikah muda seperti berikut:

Pekan lalu viral sebuah gambar di jagat Twitter. Gambar itu memperlihatkan seorang perempuan berhijab tampak tertawa sambil menutup mulut, seperti malu-malu. Di gambar terdapat tulisan dengan huruf warna pink dan hitam: "Hauss? Minum!; Lapar?? Makan!; Bokek?? Nikah! Biar ada yang nafkahin.". Ya, itulah pernyataan perempuan itu yang kemudian memicu pro dan kontra.

Seharusnya, hal itu tidak menjadi viral, bila tidak ditanggapi serius. Bisa saja si penulisnya iseng atau ingin menjadi popular dengan mengangkat  isu pernikahan dini atau muda itu, namun karena sudah terlanjur viral, selayaknya juga kita respon dengan cara-cara yang lebih rasional. Sebagaimana kita ketahui bahwa pernikahan itu adalah hal yang sakral dan tidak untuk dimain-mainkan, apalagi dijadikan bahan olok-olok atau dianggap sebagai solusi untuk menyelamatkan perempuan.

Apalagi yang namanya pernikahan usia muda atau bahkan di bawah umur (usia dini) dijadikan sebagai barang dagangan atau solusi untuk hidup lebih baik. Akan sangat membahayakan nasib perempuan. Bukan untung yang bakal didapat, tetapi malang yang datang. Dikatakan demikian, karena nikah muda itu, akan lebih banyak mudharatnya dari pada untung. Jadi, pelaku kampanye nikah muda itu sebenarnya adalah orang yang sedang galau dan kacau pikirannya. Ini adalah sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan.

Betapa bodoh dan dungunya kita di era yang semakin modern ini, bila mau mengaku bahwa menikah muda tersebut agar ada orang atau lelaki yang akan menafkahi perempuan. Ini bukan zamannya lagi, perempuan harus bergantung dan memnggantungkan hidup kepada suami. Buktinya, akhir-akhir ini di banyak daerah, angka kasus gugat cerai yang dilakukan oleh perempuan terhadap suami, karena suami tidak mampu menafkahi istri terus meningkat. NU Online 14 Maret 2018 menulis bahwa Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI mengatakan, angka perceraian di Indonesia masih sangat tinggi. dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2016 misalnya, perceraian terjadi pada sekitar 350.000 pasangan. “Sekitar 70 persen permintaan cerai dari pihak istri, sementara dari pihak suami 30 persen. Nah, dalam kondisi semacam ini, masihkah akan banyak perempuan yang akan mencari laki-laki di usia muda menjadi pemberi nafkah perempuan?

Saat ini perempuan semakin cerdas. Buktinya, mereka berani memilih cerai dari pada berharap nafkah dari suami yang tidak cukup itu. Mereka bahkan semakin sadar bahwa sesungguhnya tidak ada seorang laki-laki pun yang bisa menjamin hidup perempuan itu, kecuali dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bila persoalannya ekonomi, maka jalan terbaik bagi perempuan adalah membangun kemandirian ekonomi perempuan secara optimal, bukan dengan kawin muda untuk mencari laki-laki sebagai penyangga atau pencari nafkah perempuan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri