Mudik Lebaran 2019: Jalan Tol Satu Arah, Solusi atau Masalah Baru?
berita
Humaniora
Sumber Foto: news.detik.com 26 May 2019 15:30
Watyutink.com - Musim mudik Lebaran tahun 2019 bakal sedikit berbeda. Perjalanan pemudik dari Jakarta ke Jawa Tengah lewat jalan tol Trans Jawa maupun sebaliknya pada saat arus balik boleh jadi bakal lebih lancar, karena rekayasa lalu lintas berupa jalan satu arah. 

Rencananya, dari KM 29 GT Cikarang Utama-KM 262 GT Brebes Barat akan diberlakukan searah ke sisi timur pada tanggal 30 Mei-2 Juni 2019 mendatang. Sebaliknya pada 8-10 Juni 2019, dari KM 188 GT Palimanan-KM 29 GT Cikarang Utama akan diberlakukan searah menuju barat.

Memberlakukan tol satu arah adalah jurus mutakhir pemerintah mengatasi kemacetan saat musim mudik. Hasil penelitian Balitbang Perhubungan (April 2019), memprediksi pemudik tahun 2019 sekitar 18,2 juta orang. 

Moda pilihan terbesar menggunakan mobil pribadi 4,3 orang (28,9 persen), bus ekonomi 2,4 juta (16,1 persen) dan bus eksekutif 2,1 juta (23,9 persen). Sebanyak 1.000.080 mobil paling banyak memilih jalan Tol Trans Jawa, yakni 399.962 mobil (40 persen).

Dengan volume kendaraan sebanyak itu, potensi kemacetan sangat mungkin terjadi. Biasanya kemacetan memanjang di sekitar setiap rest area. Maka, tol satu arah dianggap bisa jadi solusi. Tapi benarkah kebijakan ini bakal jadi solusi? Bagaimana bila yang terjadi justru masalah baru?

Kemacetan, misalnya, bakal beralih ke jalan non-tol. Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi memprediksi bakal terjadi kemacetan di jalur Pantai Utara (Pantura) di wilayah setempat selama arus mudik dan balik lebaran 2019. Diperkirakan kemacetan naik jadi 30 persen akibat imbas jalan tol satu arah. 

Dampak kemacetan ini akan membuat bus-bus yang datang dari arah timur ke barat jadi terhambat. Efek turunannya penumpang menumpuk di terminal-terminal akibat menunggu bus datang. Itu sebabnya pihak Organda membuat surat terbuka meminta pemberlakuan tol satu arah tidak berlaku 24 jam penuh. 

Sykurlah pihak Kepolisian Lalu-lintas langsung responsif, mengatakan tol satu arah bakal kondisional. Tapi apakah itu cukup mengatasi problem?

Masalah yang mengintai bukan cuma bus yang terhambat dan potensi penumpukan penumpang di terminal. Psikologi pengendara mobil di jalur yang diubah juga patut dipikirkan. Terutama terkait rest area di arah timur ke barat. 

Karena satu arah ke timur semua, rest area jadi berada di sebelah kanan. Sementara itu, kita biasa menggunakan jalur kanan untuk mengebut dan mendahului. Ini bisa jadi potensi kecelakaan baru. Bagaimana solusinya?

Mudik lebaran adalah fenomena tahunan. Tapi saban tahun juga selalu ada masalah yang terjadi. Belum lekang dari ingatan kita kemacetan Brexit yang memaksa pemudik bermalam di mobil. Atau ratusan orang yang meninggal sepanjang musim mudik. Apakah kita tak pernah belajar dari masalah-masalah terdahulu dan datang dengan solusi instan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat transportasi

Selama ini tol satu arah sudah berlaku, tapi namanys contra flow, yakni hanya mengambil satu jalur dari tiga lajur di sebelahnya. Tapi sekarang karena ada peningkatan jumlah pemudik, sekarang semua lajur diambil untuk satu arah. 

Hal ini memang ada konsekuensinya. Di satu sisi akan melancarkan, di sisi lain akan menghambat bus dari arah berlawanan. Makanya, teman-teman dari perusahaan bus kemarin teriak, oke jalannya jadi lancar tapi mereka kan harus balik lagi mencari penumpang.

Bersyukur kalau kebijakan satu arah di tol ini tidak berlaku seluruhnya selama 24 jam. Semoga waktunya bisa luwes, bisa dimainkan. Katakanlah 6 jam melihat perkembangan alur lalu lintas yang ada. 

Mungkin akan ada penumpukan di terminal karena bus yang datang terganggu. Tapi persoalan intinya begini, hal ini terjadi akibat jalan non tol tidak dipelihara pemerintah. Ini harus jadi pelajaran agar jalan non tol tidak seperti itu. 

Andai jalan non tol Jakarta-Cikampek masih ada dan bagus karena dirawat, orang akan lewat sana, tidak ke tol semua dan tidal perlu ada kebijakan satu arah. 

Kalau sekarang orang tidak tahu jalan non tolnya lewat mana dan di mana. Yang kedua, kalaupun ada jalannya sudah banyak hambatan. Ke depan jalan non tol harus diperbanyak. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

Di atas kertas tampaknya mudik lebaran 2019 akan lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Saya kira kecelakaan lalu lintas akan turun. Tapi jika melihat angka itu hanya dari sisi statistik, jumlah kecelakaan masih tinggi. Terutama pada sepeda motor. 

Memang sepeda motor adalah moda transportasi mudik paling murah, namun juga paling tidak aman.  Saya berharap bapak-bapak dari kepolisian dan Dishub (Dinas Perhubungan) benar-benar bisa mengawal (pemudik sepeda motor).

Jangan memberi permakluman atas nama sisi manusiawi. Karena permakluman adalah awal dari kecelakaan. 

Itu poin pertama. Yang kedua, yang ingin saya tekankan, penanganan mudik jangan hanya Jawa oriented. Karena yang mudik lebaran bukan hanya di Jawa saja, tapi juga di pulau-pulau lain. Misalnya, pelayaran rakyat di Indonesia timur yang belum dapat perhatian, sehingga kecelakaan masih sering terjadi. 

Makanya, pelayaran rakyat harus diperhatikan betul. Terutama aspek over capacity. Karena minim armada, masyarakat sering memaksakan (naik kapal). Sementara syahbandar menyerah. Itu saya kira tidak boleh. Faktor safety harus jadi prioritas dalam hal transportasi. Jadi, tidak boleh ada cerita kapal tenggelam karena over capacity. Apapun alasannya. KM Sinar Bangun di Danau Toba telah makan korban puluhan orang. Tidak boleh lagi terjadi kejadian tragis karena pemakluman-pemakluman. 

Sedangkan jalan tol, ini memang era di mana pembangunan infrastruktur begitu dominan. Harapan saya, jalan tol tidak hanya difasilitasi di saat musim lebaran saja. Karena jalan tol dibangun untuk jangka panjang. 

Soal jalan tol ini, saya ada dua poin. Pertama, rest area harus dapat titik perhatian khusus. Terutama toilet perempuan. Toilet untuk perempuan harus lebih banyak daripada toilet laki-laki. 

Betul, di atas kertas tol akan lebih lancar tapi kemacetan akan ada di sekitar rest area, maka perlu manajemen traffic yang sangat besar di rest area. Salah satu pemicu kemacetan adalah kurangnya toilet yang membuat antrian jadi lama. 

Sedangkan soal one way traffic atau tol satu arah, di satu sisi saya apresiasi, tapi di sisi lain saya juga memberi warning. Jangan sampai kebijakan ini yang tadinya jadi solusi malah menciptakan masalah baru. 

Kami sudah menyampaikan one way traffic jangan sampai berlaku penuh 24 jam selama tiga hari, sehingga bus-bus tidak tersendat, penumpang yang sudah bayar tidak terangkut. 

Jadi jangan sampai niat baik memberi karpet merah pada pemudik (bermobil), tapi menciptakan karpet hitam bagi yang lain (pemudik memakai bus). (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei