Muslimah Tak Berjilbab, Minoritas Baru?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 04 July 2019 13:30
Watyutink.com - Ketika Ani Yudhoyono meninggal dunia awal Juni lalu, ada netizen berkomentar yang kira-kira nadanya begini: "Sayang sekali, meski berperangai baik, Ibu Ani tak berjilbab hingga akhir hayatnya." Komentar macam begitu mudah ditemukan di dunia maya. Bila iseng, tengoklah kolom komentar seleb di Instagram. Bila si seleb perempuan tak berjilbab, pasti ada saja yang menulis, "Lebih cantik berjilbab, deh" atau "Kok, belum berhijab mbak/teh?"

Berjilbab atau menutup kepala dan leher dengan kerudung kini kian terasa umum di Indonesia. Yang tak berjilbab justru tampak minoritas. Tengok tempat umum macam stasiun kereta, pasar, terminal bus hingga mall, wanita berjilbab terlihat di mana-mana. Hal serupa juga terjadi di perkantoran, entah pegawai negeri atau swasta. Begitupun sekolah dari tingkat TK sampai perguruan tinggi. Belakangan, malah ada sekolah umum yang mewajibkan siswinya berjilbab.  Gejala apa ini? Apa ini pertanda kita makin religius? 

Yang harus diketahui dahulu, fenomena lautan jilbab di bumi Nusantara ini fenomena yang relatif baru, mungkin baru kita rasakan di dekade kedua abad ke-21 ini. Sebelumnya, mayoritas perempuan Indonesia tak berjilbab. Bahkan, sampai 1990-an, berjilbab adalah lambang pembangkangan dan aktivisme. 

Generasi 1990-an masih merasakan di foto ijazah harus melepaskan jilbab dengan alasan kuping harus kelihatan. Yang menolak diminta tanda tangan surat pernyataan. Tapi kemudian, yang berjilbab lama-lama kian banyak. Aturan soal foto itu dihapus. 

Banyaknya muslimah Indonesia yang berjilbab hari ini--entah apapun bentuk jilbabnya, yang berkategori syar'i maupun yang belum--adalah bukti keberhasilan dakwah para ustaz dan ustazah selama puluhan tahun. Ini tidak bisa dibantah. Namun tak bisa dibantah pula kapitalisme turut pula mengambil peluang pasar ini.

Ada yang menganalisis, kebanyakan wanita Indonesia berjilbab berbarengan dengan kebangkitan jumlah kelas menengah muslim. Kelas ini memiliki kesadaran berislam dalam kehidupan sehari-hari lebih dari generasi sebelumnya. Mereka ingin memakai parfum atau kosmetik halal, menyekolahkan anak ke sekolah Islam, berumrah, banyak berderma hingga berbusana pun ingin menutup aurat. Meminjam istilah cendekiawan Iran Asef Bayat, Indonesia tengah mengalami fase Post-Islamisme. Era pengislaman telah berakhir. Kini masanya menjalani sendi kehidupan islami dalam hidup sehari-hari. Sahihkah tesis ini?

Tidak ada masalah bila orang ingin menjalani hidup sesuai agama yang ia yakini. Bagi Islam, menutup aurat wajib hukumnya. Namun, untuk menjalani perintah itu setiap orang sepatutnya diberi kebebasan menjalaninya. Sebab, dosa ditanggung masing-masing. Dengan prinsip begitu, sahkah bila ada kantor pemerintah atau sekolah mewajibkan pegawai atau siswinya berjilbab?

Bila hal yang disinggung di atas mudah dijawab karena prinsipnya jelas, ada persoalan lain yang tak kasat mata: mereka yang tidak atau belum berjilbab jadi minoritas baru. Kini, memutuskan tak berjilbab suatu anomali. Apalagi bila sebelumnya memakai, lalu melepasnya. 

Ketika yang tak berjilbab jadi minoritas, perasaan menjadi sang liyan, atau yang lain, turut mengemuka. Yang tak berjilbab menghadapi tekanan, entah langsung (dari lingkungan keluarga atau pertemanan) maupun tak langsung (merasa asing di tempat publik). Bukan rahasia, ketika di tempat umum ada yang tak berjilbab, orang itu akan dikira non-muslim. 

Hal ini bisa memicu seseorang berjilbab karena terpaksa: melihat lingkungannya mayoritas berjilbab atau tak mau disangka non-muslim. Lantas, baikkah berjilbab karena merasa tertekan seperti itu?

Dulu ada ungkapan yang jadi alasan seseorang tak berjilbab: "Sebelum menjilbabkan kepala, ingin menjilbabkan hati dulu." Cara ngeles macam begitu kini tak laku. Kini yang berperangai buruk maupun tidak, umumnya berjilbab. Di sekolah atau kampus, yang jilbab tetap menyontek atau plagiat. Di kantor, tetap ada yang korupsi. Di tempat umum, ada yang berbuat tak senonoh meski berjilbab. Bila sudah begitu, buat apa menjilbabkan kepala tapi perangai buruk tak hilang?

Tentu tak bisa pukul rata. Yang berjilbab dan berakhlak mulia juga banyak. Namun, jilbab tak bisa jadi jaminan 100 persen ikut membentengi perilaku seseorang. Lantas, apa yang bisa jadi jaminan? 

Persoalan ini kian kompleks bila ditarik ke identitas nasional NKRI. Bertahun-tahun silam, kebaya dan konde jadi kebanggaan busana nasional kita. Siapa kini yang keluyuran ke luar rumah, menghadiri acara resmi masih pakai kebaya dan konde? Apa ini pertanda kita menghadapi krisis identitas nasional? Apa kita tengah mencari identitas baru di era Post-Islamisme?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Sebelum ramainya komentar soal jilbab Ibu Ani Yudhoyono di media sosial, saya sudah mendengar sejumlah keluhan dari beberapa teman. 

Mereka adalah muslimah tidak berjilbab yang mendapatkan "tekanan" ringan dari rekan-rekan di kantor karena tidak memakai jilbab. 

Saya pribadi masih menganggap jilbab adalah kewajiban. Tapi, itu bukan berarti saya membenarkan tekanan itu. Meyakini suatu hal bukan berarti meminta orang lain juga meyakini hal yang sama. 

Jadi, kalaupun kita menganggap jilbab wajib, kita punya cara yang simpatik agar orang lain mengerti keyakinan kita. 

Selain itu, meyakinkan orang lain dengan cara yang agresif pada akhirnya tidak memberi manfaat untuk siapapun, termasuk untuk yang meyakini kewajiban berjilbab. Allah SWT dalam banyak ayat menegaskan cara-cara yang sangat bijak dalam berdakwah. Itulah yang harus kita lakukan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sejarawan UI, pemerhati sejarah Islam Indonesia

Saya kurang tahu kalau sekarang ada yang merasa ditekan untuk berjilbab. Namun jumlah yang mengenakan jilbab atau yang sekarang disebut hijab memang tampak jauh lebih besar dibanding dahulu. Bahkan ada beberapa produk yang dulu tak menyentuh kaum jilbabers kini justru menyasarnya.

Tidak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya mereka akan menggunakan perempuan berjilbab sebagai bintang iklannya. Hari ini malah mereka seolah merayakan itu. 

Artinya, soal jilbab yang tampak jadi mayoritas ini karena ada dampak yang kuat juga dari industri fesyen. Malah orang yang berjilbab saat ini menjadikannya juga sebagai mode, selain pertimbangan syariahnya. Perempuan tetap ingin tampil cantik saat menggunakan jilbab. Saya suudzon-nya begitu. 

Maka, dari sisi penggunaan jilbab karena alasan syariah, belum 100 persen dakwah jilbab berhasil. Karena alasan fesyen, mengikuti mode dan tren ikut mengemuka. Juga ada pula perempuan yang on/off pakai jilbab. Ketika pergi ke suatu acara (bernuansa keagamaan Islam) saja memakai, kali lain tidak. 

Para aktivis dakwah punya standar penggunaan jilbab sendiri, menutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah, tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Beda dengan jilbab fesyen. Namun, fenomena jilbab dipakai mayoritas wanita ini tahapan yang bagus buat dakwah mereka. Paling tidak, orang sudah masuk ke satu fase menutup aurat.  

Perlu diketahui, penggunaan simbol seperti jilbab ini tak hanya terjadi di perempuan. Di laki-laki muslim pun juga ada. Ketika ke Tanah Suci, Mekkah saya melihat orang Indonesia tampak berpakaian seperti orang Arab, Pakistan atau India. Saya menjadi minoritas ketika ke sana pakai sarung. 

Kita memang masih menganggap simbol-simbol dalam berpakaian ini penting. Padahal, saya lihat, orang Turki lebih rileks. Saya pernah lihat ada orang Turki shalat di Masjidil Haram memakai jas. 

Perlu diingat juga, kapitalisme selalu bermain di berbagai kesempatan. Ia akan selalu mendukung gejala baru, tak terkecuali fenomena maraknya jilbab, yang penting para kapitalis ini untung. 

Sayangnya orang Indonesia kurang perhatian soal itu. Karena kita konsumen, kita bangsa yang gemar mengkonsumsi. Begitu ada perubahan tren, kita ikutan. Termasuk perubahan mode, kita anggap konsumsi baru yang perlu dikonsumsi.

Namun bila dikaitkan maraknya jilbab dengan apa kita sedang cari uniform identitas nasional baru, rasanya masih jauh. Menurut saya ini hanya fenomena di perkotaan dan Indonesia luas sekali. Di wilayah pelosok yang belum terjangkau televisi atau budaya konsumtif akibat iklan yang sangat masif, uniform atau busana lokal masih dipertahankan. 

Yang patut dicatat di sini, kalaulah kita sedang mencari bentuk uniform (seragam) nasional baru lewat jilbab yang kini tampak mayoritas, itu gejala budaya yang alamiah. Asalkan, ketika uniform nasional itu diwujudkan hal tersebut tidak menjadi kewajiban bagi setiap orang mengenakannya. Tidak boleh ada tekanan untuk memakai uniform tersebut--apapun itu jenis busananya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Penulis buku

Pertama, menurut saya penting digarisbawahi bahwa kewajiban berjilbab itu masih menjadi perdebatan di kalangan ulama-ulama Islam terkemuka. Artinya pernyataan ‘dalam Islam berjilbab adalah suatu kewajiban’ itu saja sudah merupakan persoalan tersendiri, karena sadar atau tidak sadar telah menghilangkan nuansa perbedaan pemahaman tersebut. 

Kenapa ini adalah persoalan? Sebab keyakinan bahwa hanya ada satu kepastian bahwa ‘Islam mewajibkan berjilbab’ membuat bagaimanapun berjilbab dianggap pasti lebih baik daripada tidak berjilbab.  

Ini adalah persoalan paling mendasar. Semua anjuran, aturan, tekanan, teguran, lahir dari keyakinan ini, bahwa tidak ada kemungkinan lain, berjilbab pasti lebih baik dari pada tidak berjilbab.

Kita belum lagi masuk kepada persoalan tekanan untuk berjilbab.

Dalam perjalanannya di Indonesia, gagasan tentang jilbab juga sudah mengalami sejumlah transformasi, termasuk di dalamnya adalah gagasan tentang perempuan yang berjilbab dan tidak berjilbab ikut mengalami negosiasi di dalam proses tersebut. Ada fase di tahun 2000-an di mana industri fesyen jilbab sangat ramai dengan berbagai model penutup kepala dan pakaian. 

Namun jika kita perhatikan, tren itu kini telah bergeser, dalam berjilbab mulai muncul ‘kasta’. Ada jilbab biasa, ada jilbab syarí yang lebih panjang.   Lalu setelah beberapa waktu, jilbab syarí kemudian tidak cukup lagi, lalu muncullah tren menutup wajah atau niqab yang saat ini diartikulasikan dengan istilah ‘hijrah.’

Maka saya mulai melihat teman-teman saya yang berjilbab ‘biasa’ kemudian seperti merasa ‘kurang cukup’dengan jilbabnya. Mereka mulai menyatakan sesuatu seperti, ‘semoga suatu hari nanti saya siap hijrah’ dan yang dimaksudkan dengan ‘hijrah ‘di sini adalah siap untuk lebih menutup tubuh dan wajahnya alias berniqab.

Pembedaan perempuan yang didasarkan pada pakaiannya pun menjadi semakin kompleks di sini, dan semakin merugikan perempuan. Moral dan kualitas keimanan perempuan lagi-lagi hanya disandarkan kepada seberapa panjang dan tertutup pakaiannya. Kepada seberapa banyak bagian tubuhnya yang boleh terbuka.  
Landasan berpikir seperti ini, jika kita runut dengan teliti memiliki jalur berpikir yang sama dengan kenyataan bahwa perempuan masih selalu disalahkan jika menjadi korban pelecehan dan kejahatan seksual dalam berbagai bentuk. Landasan berpikir ini berada dalam jalur yang sama dengan mereka yang mengobjektifikasi perempuan seperti ustad yang menyamakan perempuan tak berjilbab setara lollipop yang terbuka.   

Saat ini,  muslimah yang tidak berjilbab memang kerap mendapat tekanan sosial dalam berbagai bentuk dari yang halus (kamu lebih cantik lho kalau berjilbab) hingga yang mengancam (nanti saja berjilbab, neraka masih luas kok).  

Saya  juga pernah mendengar kisah beberapa teman yang mengalami hambatan dalam kariernya karena tidak berjilbab.  Perempuan yang tidak berjilbab akan selalu cenderung diarah-arahkan untuk ‘menjadi lebih baik’ dan itu hampir selalu harus ditunjukkan dengan mengenakan jilbab, bagaimana pun bentuknya.

Jadi sebelum kita masuk kepada persoalan represi kepada perempuan untuk mengenakan jilbab, saya justru ingin menggali persoalan yang menjadi akarnya terlebih dulu, yang saat ini seolah menjadi satu-satunya kebenaran yaitu keyakinan bahwa berjilbab adalah kewajiban dalam Islam. JIlbab bukan perdebatan baru dalam Islam, tapi tidak semua pihak –bahkan yang menempatkan diri sebagai Muslim moderat pun – mau terbuka pada kemungkinan penafsiran berbeda. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF