Orang Betawi Berpolemik Soal Si Pitung: Tunggal atau Tujuh?
berita
Humaniora

Sumber Foto: twitter.com

10 December 2017 16:00
Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan soal Setya Novanto dan Gatot Nurmantyo, rasanya tak banyak yang tahu kalau orang Betawi tengah berpolemik soal pahlawan kebanggaan mereka: Pitung. 

Muasalnya adalah buku Pitung - Pituan Pitulung yang ditulis oleh Iwan Mahmoed Al Fattah yang belum lama ini terbit. Buku ini antara lain berdasar Kitab Al-Fatawi yang ditulis Datuk Meong Tuntu, yang kemudian pada tahun 1910 disalin kembali dalam bahasa Arab Melayu oleh KH Ratu Bagus Ahmad Syari'i Mertakusuma. Iwan meyakini Pitung sejatinya adalah singkatan dari "Pituan Pitulung" kelompok tujuh pendekar Betawi yang membela rakyat kecil dari penjajah Belanda dan tuan tanah licik. 

Masalahnya, tak banyak orang Betawi yang percaya Pitung berjumlah tujuh orang. Bagi orang Betawi, sosok si Pitung hanya seorang. Ia dipercaya lahir di Pos Pengumben, Sukabumi Ilir, Rawa Belong, Jakarta Barat tahun 1864. Pitung bungsu dari 4 bersaudara pasangan Piun-Pinah. Ia tumbuh di daerah Rawa Belong yang dikenal sebagai arena para jagoan mengadu dan mengembangkan ilmu maen pukul. Saat remaja, ia belajar tarekat di Pecenongan pada Sapirin bin Usman bin Fadli. Ia kemudian belajar silat Cimande Sera pada Haji Naipin.   

Pada satu bagian novel Rumah Kaca (buku keempat tetralogi Pulau Buru) Pramoedya Ananta Toer melukiskan Pitung berkumis dan berjenggot jarang, berkulit langsat, tidak tinggi, berbadan gempal. Setiap melakukan penyerangan, ia berjubah putih, bersorban, pada kiri dan kanannya berjalan dua pembantunya mengapit membawakan tempat sirih dan senjatanya. (Rumah Kaca, edisi 2002, hal. 58)

Menurut sejarawan Belanda Margreet van Till dalam “In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legend”, dimuat jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 152, 1996, sosok Si Pitung sosok nyata yang hidup pada paruh kedua abad ke-19. Si Pitung melakukan perampokan pada 1892-1893.

Margreet membongkar nama asli Si Pitung. Ketika tertangkap polisi, dalam dokumen pemeriksaan terungkap nama aslinya: Salihoen. Si Pitung alias Salihoen tewas ditembak polisi Belanda van Hinne pada Sabtu, 17 Oktober 1893, di usia 29 tahun. Jadi, ada berapa sosok si Pitung? Satu atau tujuh? 

Buku Pitung - Pituan Pitulung ditampik karena dianggap cacat sebagai buku sejarah. Penulisnya dikritik terlalu percaya pada satu sumber naskah. Ia tak mencari fakta pembanding atau menelusuri jejak keturunan Pitung yang hingga kini masih hidup. Namun, sebetulnya juga, kisah soal Pitung sebuah komplotan bukan kali ini saja muncul. Di laporan penelitiannya, Margreet van Till juga menyebut ada cerita lisan yang mengatakan nama Pitung turunan dari bahasa Jawa, pituan pitulung (kelompok tujuh). 

Terbitnya buku ini sepatutnya jadi momentum bagi sejarawan. Dibanding pahlawan nasional yang lain yang jelas kisah kepahlawananya, cerita Pitung lebih kental aroma mitos. Maka, kenapa tak menjadikan polemik ini kesempatan kita mengkaji Si Pitung sebagai sosok sejarah? Haruskah ia terbenam dalam kisah mitis yang hidup dalam cerita lenong dan film saja? Bukankah ia layak masuk buku sejarah, kisah perjuangannya diajarkan di sekolah tak sekadar jadi folklor

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Budayawan Betawi, banyak menulis buku tentang sejarah dan budaya Betawi

Saya tak mau komentari buku (Pitung - Pituan Pitulung) itu. Menurut saya buku itu ngaco. Logikanya nggak ada. Masak kita bilang Bung Karno ada tujuh. Reaksi masyarakat Betawi menyikapi buku itu biasa-biasa saja. Saya jadi rendah kalau disuruh bahas buku itu. 

Orang Betawi nggak usah ribut-ribut, karena kalau ribut orang malah jadi pengin tahu. Buat saya buku itu tak penting.   

Saya cuma mau cerita soal si Pitung saja. Pitung baru muncul tahun 1886. Kita tak bisa mengetahui dari mana asal-muasalnya, sebab dalam ilmu sejarah kita tak bisa menebak-nebak. Kita cuma tahu ada  peristiwa di sebuah jembatan di daerah Bandengan, Kota. Peristiwanya dia membunuh orang di situ tahun 1886. Jembatan itu kini dikenal sebagai jembatan si Pitung. 

Kemudian ia dicari dan tertangkap. Menurut versi Belanda, ia merampok. Ada versi lain ia berebut jalan di jembatan dengan seorang jago dari Glodok mau lewat jembatan yang sama tapi tak ada yang mau mengalah, lantas berkelahi (hingga lawannya tewas terbunuh). Tapi menurut Belanda itu peristiwa perampokan. 

Pitung lalu dibawa ke penjara Glodok dan menjalani persidangan. Waktu itu belum sampai divonis, dia dipindahkan ke penjara Bukit Duri. Di penjara itu ia mendapat kabar sepupunya, si Ji'ih, dibunuh oleh Demang  Kebayoran. Lalu ia meloloskan diri, kabur dari tahanan. Di situ ia dibilang banyak ilmunya karena bisa kabur. Padahal orang yang meloloskan diri dari penjara banyak. Bukan dia saja. Jadi nggak ada cerita (hubungannya) dengan ilmu (kesaktian).       

Pitung akhirnya membunuh Demang Kebayoran dan buron. Saat ia buron kota Batavia gempar, karena ia telah membunuh dua kali. Polisi Belanda Schout van Hinne kemudian mengarahkan segala kemampuannya. Akhirnya ia tertangkap di Pondok Kopi, Kali Malang. Kejadian di Pondok Kopi tahun 1894. Ia dibunuh tapi tak langsung mati. Dalam perjalanan ke rumah sakit militer ia meninggal. Itu sejarahnya. 

Kalau ada cerita ia merampok lalu dibagi-bagi ke rakyat tak ada bukti (sejarah ilmiah). Yang kita tahu, nama Pitung adalah Solihun karena dari bukti surat yang ia tulis ke pengurus mesjid. Apa itu nama asli atau bukan, kita tak tahu. Yang jelas ia bisa baca-tulis. 

Nggak pernah ada soal Pitung dari pituan pitulung. (Orang Betawi) sebut tujuh ya tujuh. Pituan maksudnya apa? Nggak ada yang dipanggil "tuan". Saya tak mau komentari buku itu.

Yang mau saya komentari, kita susah menempatkan Pitung dalam konteks sejarah. Kita tak pernah tahu motivasinya merampok karena ada dua versi tadi. Sedang pembunuhan yang kedua kita tahu motivasinya balas dendam. Jadi si Pitung ini kisah pembunuhan yang populer saja di masa itu.      

Kalau kita mau menempatkannya seperti Diponegoro atau Patimura, saya bertanya balik: Emangnye si Pitung lawan siape

Misalnya, Pramoedya menyebut "gerombolan Pitung" yang berarti ia menempatkan Pitung sebagai kriminal. Kita hargai pendapatnya. Sementara itu sejarawan Belanda Margreet van Till juga mencatat si Pitung dengan berbagai catatan kriminalnya dari surat kabar pada waktu itu. 

Dari posisi saya sebagai peminat sejarah, saya tak melihat tempatnya (Pitung) dalam sejarah. (Bagi saya) ia hanya terlibat dalam peristiwa pembunuhan yang terkenal. Itu saja. Apa motivasinya membunuh tak tahu. Kalau soal Robin Hood Betawi nggaklah. Itu (cerita) khayal semua.   

Kini bukan masanya mendidik orang dengan dongeng. Kapan kita bisa maju kalau begitu? Yang harus dibangun adalah konstruksi berpikir rasionil. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Budayawan Betawi, penulis buku "Maen Pukulan Khas Betawi"

Untuk ukuran buku sekarah, buku Pitung - Pituan Pitulung banyak yang a-histori. Jadi buku itu cacat secara akademis. Dari segi penulisan juga lemah. 

Juga jujur saja keberadaan kitab Al-Fatawi (yang jadi sumber utama buku Pitung - Pituan Pitulung--red) baru tahu belakangan ini. Kata penulis bukunya sendiri yang ia pakai adalah salinan. Jadi, keberadaan kitab ini perlu dipertanyakan lebih lanjut. Masyarakat Betawi atau peminat sejarah Betawi tak pernah merujuk ke kitab ini sebelumnya. 

Selama ini yang dirujuk tak hanya kitab dari Betawi tapi juga ada beberapa babad yang dikeluarkan dari daerah sekitarnya yang menceritakan kejadian di Betawi seperti Rangke-rangke Banten atau Carbon Nagari. Tapi uniknya kitab Al-Fatawi ini tak pernah disinggung.  
 
Beda dengan yang dilakukan sejarawan Belanda Margreet van Till yang memakai berbagai arsip lama. Jujur saya katakan pemerintah Belanda lebih tertib dokumentasi. Jadi tak ada salahnya ini yang kita pakai. Sementara orang-orang kita banyak yang menafikan hal itu. 

Misalnya, baik itu koran Bataviaasch Nieuwsblad atau De Locomotief yang jadi rujukan tentang si Pitung ada banyak wartawannya yang memperjuangkan rakyat kita. Seperti Ernest Douwes Dekker atau Setiabudi dan juga Pieter Brooshooft, seorang aktivis politik etis, yang kerap mengkritik pemerintah kolonial. Jadi, itu bisa dipakai sebagai sumber sejarah.  

Jadi Pitung itu cuma satu. Yang punya asli Solihun. Kalau pun ia punya anak buah, menurut saya itu hal yang wajar. Misalnya, kelompok Mat Item. Yang namanya Mat Item cuma satu, sementara kelompoknya terdiri atas beberapa orang. 

Pada akhir abad ke-19 itu sedang musimnya "rampok partai" atau bandit berkelompok. Margreet van Till sendiri pernah menulis buku Banditry in West Java: 1869-1942. Di situ disebutkan akhir abad ke-19 sedang ramai perbanditan khususnya di pulau Jawa bagian barat atau Betawi.  
 
Yang mungkin ada Pitung dan komplotannya. Penulis buku Pitung - Pituan Pitulung mendasarkan pada bahasa Jawa. Sementara menurut kelaziman bahasa Jawa sendiri, pitu yang berarti tujuh atau numeral, harus disertai dengan nomina. Jadi "ng" ini pengait antara numeral dan nomina. Jadi kata "pitung" tidak bisa berdiri sendiri.

Tidak ada sumber yang menyebut asal usul nama Pitung. Hanya, kelompok bandit biasa punya nama geng atau nama alias. 

Mengenai mitosnya, cerita Pitung berasal dari wartawan Belanda Jan Fabricius. Dia mengarang cerita Pitung bisa menghilang membikin orang takut, yang tujuannya mengarahkan cerita ke sisi negatif. Sementara Pitung ini manusia biasa. Kalaupun ia dibilang bisa menghilang, pada waktu dahulu cahaya listrik belum seterang sekarang. Jadi, ia dianggap bisa menghilang. 

Cerita kepahlawanan si Pitung bisa jadi diajarkan di sekolah sebagai pelajaran sekolah, tapi yang pertama perlu kesepahaman di antara orang Betawi sendiri. Ada beberapa orang Betawi yang percaya mitos si Pitung dan sejarah makin absurd. Akhirnya masing-masing orang punya peranan menceritakan ceritanya sendiri. 

Terkait buku Pitung - Pituan Pitulung perlu ada action dari akademisi, buku dilawan dengan buku. Saya lebih setuju untuk ada buku si Pitung yang kajian historinya lebih kuat dibanding unsur folklor atau cerita rakyatnya. Karena sumber-sumber dari Belanda meragukan (soal mitis) itu. Jadi, tinggal diatur saja satu kesepahaman bersama tentang sejarah. Ketika bicara sejarah mau tidak mau harus ada data dan fakta. (ade)   
       
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri