Pelajaran dari Pelecehan yang Dialami Via Vallen
berita
Humaniora
Sumber Foto : matamata.com (gie/watyutink.com) 06 June 2018 19:00
Apa yang Anda lakukan bila mendapat pesan mesum via chat atau direct message (DM) di media sosial? Reaksi orang bisa berbeda. Tapi Via Vallen tak hanya diam. Ia membagi kisahnya ke media sosial. 

Belum lama ini, lewat Insta Story, fitur berbagi cerita di Instagram, penyanyi lagu "Sayang" itu mengatakan mendapat pesan mesum via DM dari seseorang berbunyi: "I want u sign (mungkin typo, sing--red) for me in my bedroom, wearing sexy clothes (Aku ingin kamu menyanyi di kamarku, pakai baju seksi)." Tulisan itu ditangkap-layar (screenshot) olehnya, diberi lingkaran merah dan ditambahi tulisannya sendiri: "Nggak kenal dan nggak pernah ketemu Tiba2 nge DM ngirim gambar text gambar kayak gini"; "As a singer, I was being humiliated by a famous football player in country RIGHT NOW (Sebagai penyanyi, saya merasa dipermalukan pemain bola terkenal di negeri ini)"; "I'AM NOT THAT KIND OF A GILR, DUDE! (Saya bukan tipe cewek seperti itu, bung)!"

Pesepakbola yang dimaksud konon Marco Simic, asal Kroasia yang saat ini berlaga di Indonesia untuk tim Persija Jakarta.  

Yang terjadi kemudian, masyarakat dunia maya alias netizen terbelah. Penggemarnya, sejumlah selebritas serta aktivis perempuan mendukung apa yang ia lakukan. Apa yang dialami Via masuk kategori pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan di dunia maya. Sebagai seleb yang punya jutaan pengikut di medsos dan videoklipnya ditonton ratusan juta kali, langkah Via bisa jadi contoh untuk tak mendiamkan pelecehan pada perempuan. Sepatutnya, bila mengalami pelecehan verbal atau fisik, di dunia nyata maupun dunia maya, perempuan tak berdiam diri. 

Tahun 2017 Komnas Perempuan menerima 65 laporan kasus kekerasan di dunia maya. Banyak yang percaya angka itu puncak gunung es. Yang tak melapor lebih banyak. Data Komnas Perempuan juga menyebut pelakunya merentang dari pacar, mantan pacar, mantan suami hingga orang tak dikenal.

Namun di lain pihak, ada pula yang menganggap Via tengah cari sensasi, mengunggah hal privat demi dapat perhatian media. Anggapan lain, ia dinilai berlebihan. Buat yang berpandangan begini, Via tak mengerti budaya pergaulan bule. Katanya juga, bukan berarti ajakan itu serius. Hm, apa betul Via telah berlaku lebay dan tak mengerti budaya asing yang permisif? 

Yang lain lagi menyalahkan penampilan dan statusnya sebagai penyanyi dangdut. Kata orang-orang yang beranggapan begini, bila tak mau dilecehkan orang, Via Vallen sebaiknya berhenti berlenggak-lenggok jadi sebagai penyanyi. Lho, memangnya dengan bergoyang di depan orang banyak apa dengan begitu ia boleh dilecehkan? 

Yang menarik ditelisik juga, yang beranggapan Via lebay tak sedikit dari kalangan perempuan. Menjadi tanya lalu, kenapa perempuan tak satu suara membela Via (baca: sesama perempuan)? Sampai di mana sebetulnya batasan sebuah kiriman DM cabul atau mesum dianggap sekadar lelucon dan tindak pelecehan? Apa Via sebaiknya membawa masalahnya ke jalur hukum atau cukup dengan mengunggah ke medsos? 

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Musisi dan politikus, anggota DPR RI

Kita harus mendukung langkah Via Vallen yang membuka tindakan tidak patut oleh siapapun terhadap perempuan. Bila perlu, bawa masalah tersebut ke ranah hukum. Tindakan orang tersebut telah merendahkan perempuan dan profesi pekerja seni. Ini harus kita lawan bersama-sama. 

Peristiwa ini juga buat catatan bagi pekerja asing yang bekerja di Indonesia, selain kewajiban bisa berbahasa Indonesia, mereka juga harus paham kultur Indonesia, budaya ketimuran. 

Saya menyerahkan sepenuhnya ke PSSI untuk bersikap. Jika mnggunakan perspektif perlindungan perempuan, tindakan oknum tersebut semestinya harus mendapat sanksi. Ini sebagai wujud komitmen negara memberi perlindungan kepada perempuan. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Komisioner Komnas Perempuan

Via Vallen sudah bertindak dengan benar dengan bicara ke publik. Saya meyakini (apa yang ia alami) bukan sekali. Barangkali dia sudah mengalami hal seperti (pelecehan) itu untuk yang ke sekian kali, sehingga dia ingin memberikan pelajaran bahwa jangan karena (pelakunya) orang terkenal bisa melakukan tindakan semena-mena kepada perempuan.

Jenis kekerasan yang dialami Via ini adalah kekerasan berbasis cyber crime. Dalam catatan Komnas Perempuan cyber crime atau sexual harassment terkait di media (dunia maya) termasuk tinggi, menempati urutan kedua. Maka, (yang dilakukan Via) ini bisa jadi pembelajaran bagi masyarakat karena sejatinya kasus-kasus kekerasan di media cyber cukup tinggi, meskipun yang terjadi ini jenis kekerasan seksual tanpa bersentuhan langsung dengan badan. Non body contact. Ini lewat omongan, pembicaraan ataupun tulisan.    

Di Indonesia belum punya aturan khusus terkait hal ini. Tapi Komnas Perempuan mengkategorikannya sebagai kasus kekerasan seksual. Kasus ini sangat mungkin dibawa ke ranah hukum dengan UU ITE, tetapi kami mendorong Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual segera hadir
(disahkan), karena ini bagian dari yang dialami korban. Yakni pola-pola kekerasan seksual seperti ini terus menguat. 

Selain UU ITE kita butuh payung hukum secara khusus atau lex specialis karena ini jenisnya kekerasan seksual. Sementara bisa gunakan UU ITE tapi ke depan harus jadi wacana publik kita butuh UU khusus. Wacana ini juga perlu dikenalkan ke masyarakat luas agar setiap orang harus saling menghargai.

Via orang yang berani, punya pengetahuan tentang (pelecehan seksual), dia ingin memberi pelajaran. Via juga hendak bilang tidak semua artis hidupnya bebas. Dia penyanyi dangdut yang tidak menggunakan goyangan yang terlalu bagaimana. Goyangan dia biasa; berpakaian sopan; dia memaknai dangdut bagian dari seni. Via juga ingin bilang, tidak semua penyanyi dangdut seperti yang dibayangkan oleh masyarakat. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sejarawan, pemerhati isu perempuan, kordinator dan peneliti di Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Indonesia  

Yang dialami Via Valen adalah kekerasan seksual online harassment. Saya sangat setuju atas apa yang dilakukan Via Vallen dengan mengunggah pesan cabul. Jadi itu adalah hal yang benar. 

Sebab, jika pelecehan seksual dibiarkan dan dijadikan norma umum yang merugikan perempuan. Maka perempuam harus bicara dan bertindak.

Menurut saya yang dilakukan Via sama sekali tidak berlebihan. Kita memang terbiasa dengan budaya pemerkosa di mana pelecehan seksual dan perkosaan terhadap perempuan dianggap hal yang wajar. Ini yang harus didobrak dan apa yang dilakukan Via Vallen sudah benar.

Tapi di lain pihak juga, ada perempuan mencemoon Via Vallen atas harassment online. Itu adalah bukti bahwa patriarki tidak kenal jenis kelamin, perempuan juga punya mental patriarki dan membenarkan budaya perkosaan. Bukan menjadi perempuan berarti dia jadi otomatis feminis. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri