Plagiarisme, Korupsi Intelektual!
berita
Humaniora
30 August 2017 00:00
Lagi-lagi temuan plagiarisme di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) telah mencoreng wajah dunia pendidikan Indonesia. Contohnya, temuan Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) atas disertasi Gubernur Nur Alam yang terbukti mencangkok laporan karya ilmiah orang lain. Tak pelak, berita memalukan dunia akademik itu langsung menyebar ke berbagai situs jejaring sosial.

Perilaku plagiarisme yang terjadi di beberapa universitas dipengaruhi oleh budaya shortcut, instan, dan malas berfikir. Kreatifitas yang sejatinya akan melahirkan otentisitas justru dipenjara oleh nafsu untuk segera menyandang gelar akademik. Sangat menyedihkan. Jangan sampai hakikat pendidikan untuk mencerahkan dan membebaskan jadi kehilangan arah!

Maraknya plagiarisme mendorong pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Mengenai Pencegahan Dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.  PP ini ternyata belum memberi efek jera. Bahkan perilaku menyimpang semakin terorganisir dan tersistematis.  Aneh, apakah sulit memahami hubungan realitas antara pendidikan dan kejujuran? Kalau memang tidak ada korelasinya, lantas untuk apa kita menyelenggarakan pendidikan?

Di satu sisi, kita sebagai bangsa yang beradab, tahu sopan santun dan selalu lazim menyampaikan permisi. Namun di sisi lain, terkuaknya kasus plagiat seperti rumah kita sedang dibobol maling. Sayangnya maling itu individu akademikus sendiri. Ironis. Apakah di dunia akademisi kita, sopan santun dan budaya malu sudah luntur tergerus semangat hedonisme? Atau, plagiarisme sengaja dibiarkan menjadi pembunuh daya kreatif generasi penerus bangsa? 

Idealnya, perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan tempat para calon intelektual menuntut ilmu pengetahuan, melatih keterampilan, dan membangun sikap dan kepribadiannya. Pergumulan ide, karya, dan hasil penelitian yang terjadi, diharapkan memberi manfaat terhadap peningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Namun, akankah cita mulia ini terwujud di tengah gempuran plagiarisme? Bagaimana dengan revolusi mental? Akankah menjawab karut marutnya plagiaisme di republik ini?

 Apa pendapat Anda? Watyutink?

(cmk)

SHARE ON
OPINI PENALAR

Maraknya plagiaisme tidak hanya terjadi di perguruan tinggi, tetapi di mana-mana. Seyogyanya pendidikan keperibadian harus ditanamkan sejak dini untuk menghasilkan anak didik yang jujur. Saat ini prestasi sering dinilai dengan nilai evalusi atau rangking.

Buat apa nilai tinggi dan prestasi tapi moralnya rusak. Meskipun nilai pas-pa an ternyata hasil kerja sendiri lebih membanggakan. Dibutuhkan kejujuran bagi bangsa ini agar membuahkan orang cerdas dan jujur!

Kembali ke masalah moral bangsa, kecurangan, ketidakjujuran, ketidak disiplinan ditambah peluang dan teknologi makin canggih niscaya menjadi faktor penghambat kreatifitas dan otentisitas para terdidik. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Sosial Politik dan Kewarganegaraan

Berita plagiarisme disertasi Nur Alam menyebar begitu cepat di media sosial hari- hari ini. Berita tersebut menjadi perbincangan berbagai kalangan. Nur Alam lulus dalam waktu 2 tahun dengan indeks prestasi 3,90 dan predikat summa cum laude, terindikasi disertasinya sarat dengan tindak plagiat. Mirisnya itu terjadi di kampus saya, UNJ (Universitas Negeri Jakarta), kampus yang sejak berdirinya didedikasikan untuk menjaga marwah akademik sekaligus lulusanya mayoritas diorientasikan untuk menjadi pendidik profesional, dan kaum profesional di berbagai bidang lainya.

Tokoh-tokoh besar yang lahir, besar, dibesarkan dan membesarkan kampus yang berlokasi di Rawamangun, Jakarta, ini seperti Maftuchah Yusuf, Deliar Noer, Winarno Surachmad, R Soedjiran Reksosoe-darmo, Conny Semiawan, HAR Tilaar, Sudjiarto, dan para begawan ilmuwan lainya tentu miris mendengar berita tersebut, termasuk 'anak-anak ideologis' mereka yang giat merawat marwah akademik kampus ini. Sambil menulis ini, maaf, saya sambil meneteskan air mata mengingat wajah para ilmuwan senior tersebut yang sebagian telah tiada, teringat wejangan integritas akademiknya yang tak pernah saya lupakan......

Tindakan plagiat atau Plagiarisme sesungguhnya tidak hanya sebagai pelanggaran hukum, tetapi lebih dari itu ia adalah praktik culas dan jahat yang merobek integritas dan moralitas akademik dan lembaga pendidikan. Bahkan memberi pengaruh pada runtuhnya kepercayaan publik terhadap lembaga terhormat yang disebut Universitas.

Mengapa plagiarisme terjadi di institusi terhormat Universitas? Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan plagiarisme terjadi di Universitas.

Pertama,  faktor rendahnya integritas pengelola kampus. Ini terjadi karena pengelola kampus mengabaikan standar kualitas penerimaan mahasiswa, terutama mahasiswa pascasarjana. Akibatnya, maaf, tidak sedikit para pejabat tinggi atau pengusaha memanfaatkan celah ini untuk masuk menjadi mahasiswa doktoral dengan mudah.

Kedua, faktor rendahnya integritas mahasiswa pascasarjana. Maaf, mereka yang memiliki jabatan atau sibuk bisnis sambil kuliah doktoral seringkali berpotensi mengabaikan nilai-nilai penting dalam dunia akademik, Jika rendahnya integritas mahasiswa bertemu dengan rendahnya integritas pengelola kampus, maka tidak bisa dibayangkan betapa pintu plagiarisme itu terbuka lebar.

Ketiga, faktor longgarnya uji plagiarisme terjadi karena aturan yang sengaja dibuat misalnya dengan derajat kesamaan 40 persen boleh lulus atau karena tidak menjalankan uji plagiarismenya, instrumen aplikasi uji plagiarisme tidak digunakan. Pada saat yang sama bisnis disertasi menemukan peluangnya.

Bagaimana dengan kasus UNJ? Temuan tim EKA Kemenristekdikti tentang tindak plagiat dari sejumlah peserta doktor di UNJ didasarkan pada analisis metadata file disertasi yang menunjukan sejumlah disertasi diproduksi dari satu komputer. Salah satunya adalah disertasi Nur Alam. Disertasi Nur Alam tersebut terindikasi menyadur dari laman-laman penyedia arsip disertasi di internet. Menariknya promotor Nur Alam ini, maaf, adalah Rektor UNJ saat ini.

Temuan tim EKA Kemenristekdikti tersebut sudah sampai ke Menristekdikti dan ditindaklanjuti dengan membuat tim independen Kemenristekdikti yang cenderung menghasilkan temuan yang sama. Kuncinya ada pada sikap tegas Menristekdikti dan tanggungjawab moral dari yang bersangkutan dan sikap ksatria Rektor UNJ yang saya cintai. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Sosiologi UNJ

Perguruan tinggi hakikatnya adalah ruang diskursus ilmu pengetahuan dari setiap sivitas akademikanya. Di sinilah arti penting perguruan tinggi sebagai produsen ilmu pengetahuan yang kemudian dimanifestasikan secara nyata dalam berbagai bentuk. Misalnya saja dalam bentuk teori, gagasan, kesenian, maupun produk teknologi. Dengan kata lain, peralatan dan perlengkapan hidup manusia yang ada saat ini tidak lepas atas kontribusi  ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, basis ilmu pengetahuan yang dibangun dalam perguruan tinggi adalah ilmu pengetahuan yang dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dalam kehidupan di masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Perguruan tinggi memang diharapkan oleh masyarakat untuk menjadi bagian dari institusi sosial yang dapat berkontribusi bagi masyarakat. Namun bukan berarti perguruan tinggi bebas dari masalah. Masalah terbesar yang dihadapi oleh perguruan tinggi, salah satunya adalah praktik plagiasi yang dilakukan oleh sivitas akademikanya.

Harus diakui di era internet saat ini, ruang kesempatan plagiasi sangat mudah. Hanya bermodal quota internet atau wifi, oknum sivitas akademika bisa mengakses berbagai website untuk melakukan plagiasi atas tugas perkuliahannya, tugas akhir, penulisan artikel jurnal, dan penelitian.

Praktik plagiasi dalam perguruan tinggi memang membuat kita miris. Di satu sisi perguruan tinggi menjadi ruang diskursus ilmu pengetahuan, namun dengan adanya praktik plagiasi maka ini kemudian membuat perguruan tinggi kehilangan daya imajinasinya untuk selalu memproduksi dan reproduksi ilmu pengetahuan. Plagiasi adalah narasi atas hilangnya dedikasi dalam sitasi.

Harus diakui mungkin kita juga pernah melakukan plagiasi dalam sebuah karya tulis kita. Walaupun memang terdapat tingkatan dalam plagiasi itu sendiri atau prosentase plagiasi. Ada yang tingkat prosentase plagiasinya sedikit sekali hingga parah sekali. Namun dengan adanya prosentase tersebut, bukan berarti ini menjadi lumrah dan dibenarkan. Apalagi ini dilakukan oleh sivitas akademisi. Sebab sivitas akademisi memiliki tanggung jawab etika keilmuan dan moral, maka untuk itu idealnya praktik plagiasi tidak dilakukan. Sebab perguruan tinggi memiliki kehormatan tinggi sebagai tempat produksi dan reproduksi ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Tanpa adanya diskursus ilmu pengetahuan, maka perguruan maka perguruan tinggi akan mengalami defisit produk ilmu pengetahuan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Geopolitik/ Doktor Hubungan Internasional Unpad/ Pendiri Pusat Kajian Timur Tengah ( ICMES)

Plagiarisme kalau ditinjau dari kata dasarnya dalam bahasa Latin bermakna menculik atau penculik (kata-kata). Seorang plagiat mengakui karya tulis orang lain sebagai karyanya sendiri. 

Tidak semua orang mampu menulis dengan mudah dan cepat. Padahal, bagi seorang akademisi, ada tuntutan untuk menghasilkan karya tulis yang ditujukan untuk diseminasi ilmu. Namun, di saat yang sama, perlu diakui bahwa pembuatan karya tulis ini terkait dengan karier (kenaikan pangkat) dan berkorelasi dengan tambahan penghasilan. Ketidakmampuan menulis (padahal ‘dipaksa’ harus menulis, kalau tidak, kariernya terancam) membuat sebagian orang menempuh jalan pintas, yaitu menjiplak karya orang lain (termasuk karya mahasiswanya sendiri). Dari sudut pandang ini, yang perlu dilakukan sejak awal adalah perekrutan dosen atau akademisi yang memang terbukti mumpuni, mampu meneliti, mampu menyampaikan secara lisan, serta dan mampu menuangkannya dengan baik dalam bentuk tulisan. 

Di sisi lain, dalam aktivitas plagiarisme terkandung juga aktivitas berbohong. Ini sangat terkait dengan moral dan akarnya bisa jauh ke belakang, yaitu ke masa anak-anak. Banyak orang tua membesarkan anak-anaknya dengan amat banyak tuntutan. Anak dituntut dapat nilai bagus di sekolah. Yang dipedulikan ortu dan guru kebanyakan hanya hasil akhir (nilai).  Mereka mengabaikan konsep pendidikan yang amat penting diajarkan kepada anak, yaitu ‘menghargai proses’. Bahwa yang terpenting dilakukan seorang manusia adalah mengerahkan daya upaya sebaik-baiknya dalam mencapai sebuah tujuan baik.  Akibat kelalaian dalam menanamkan konsep ini, sampai anak-anak itu tumbuh menjadi manusia dewasa, mereka merasa boleh-boleh saja berbohong dan menjiplak demi mencapai tujuan (kelulusan, kenaikan pangkat).

Dengan demikian, untuk mengobati penyakit plagiarisme, ada banyak stake holder yang perlu bergerak bersama, mulai dari ortu, sekolah, universitas, hingga pemerintah. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar, Spesialis Bisnis Internasional, Ahli dalam Bisnis, Pemasaran, Pendidikan, Organisasi dan Manajemen

Sebenarnya sekarang ini plagiarisme lebih mudah dideteksi oleh dosen pembimbing skripsi, tesis, ataupun promotor disertasi doktor lewat aneka macam software yang banyak tersedia, misalnya yang popular adalah software Turnitin.

Masalahnya tidak semua dosen memiliki software tersebut, atau mau melakukan langkah "the extra mile" melakukan pengecekan tersebut.

Adanya Peraturan Mentari Pendidikan nomor 17 tahun 2010 diharapkan untuk membendung plagiarisme. Sehingga sebenarnya plagiarisme telah berhasil dikurangi oleh dunia perguruan tinggi di Indonesia. Jika tetap sesekali terjadi, menurut saya, sebuah tindakan kecolongan daripada tindakan kesengajaan.

Plagiarisme terjadi jika sebuah karya ilmiah ditulis tanpa menulis sumber dari mana bagian tulisan -- atau keseluruhan konsep tulisan -- diperoleh sebagai sumber asalnya. Kelupaan inilah yang memungkinkan timbul anggapan timbulnya plagiarisme.

Banyak perguruan tinggi yang meminta mahasiswa mencantumkan pernyataan di atas meterai menyatakan bahwa skripsi atau tesis yang ia buat adalah karyanya sendiri. Jika di kemudian hari ternyata terbukti bukan karya aslinya mahasiswa yang bersangkutan bersedia gelar akademisnya dicabut.

Ada juga yang disebut sebagai riset replikasi di mana penelitian asli dilakukan oleh orang lain namun penulis ingin membuat riset sendiri lagi dengan mengambil idea dari karya orang lain. Namun mesti spesifik disebut sebagai sebuah replikasi riset dari orang lain. Jadi, saya tidak tahu  plagiarisme yang terjadi di universitas yang disebutkan tadi plagiarisme terjadi berupa apa. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Univ. Prof. DR. Moestopo (Beragama)

Tanpa harus ada peraturan atau tertulis dalam peraturan pun, tindakan plagiat jelas salah. Tindakan plagiat bertentangan dengan moral. Orang yang melakukan plagiat telah melanggar asas kepatutan.

Tindakan plagiat ini sama dengan mencuri hak orang lain. Sebenarnya tindakan plagiat bisa dicegah sedini mungkin mulai dari masa kanak-kanak. Sebagai contoh saat anak mau mengambil mainan temannya, orang tua melarang dengan kata-kata, "Jangan ya nak, nanti kita beli untuk kamu". Ini mengajarkan kepada anak untuk tidak mencuri apa yang dimiliki oleh orang lain. Dalam hal ini keluarga memiliki peran yang penting, dalam mencegah mental plagiat sedini mungkin.

Plagiat adalah tindakan mencuri hasil karya orang tanpa seizin pemilik karya ilmiah. Sama halnya dengan anak kecil yang mencuri mainan temannya. Secara teknis, sebenarnya tidak masalah jika orang yang hendak menggunakan karya orang lain memberitahukan dengan izin tertulis kepada si pemilik karya ilmiah tersebut atau menyertakan dikutip dari mana.

Dalam mengeluarkan karya ilmiah sendiri terdapat pergeseran peraturan. Sebelum tahun 2016 sinopsis atau karya ilmiah yang dibuat oleh seseorang, bisa juga digunakan oleh orang tersebut secara utuh sebagai artikel. Namun sekarang, sudah tidak diperkenankan lagi. Orang yang menggunakan hasil karyanya sendiri untuk membuat artikel, disebut sebagai auto-plagiat atau menjiplak hasil karyanya sendiri.

Tindakan plagiat juga harus dilawan. Salah satunya dengan revolusi mental yang dikumandangkan oleh bapak presiden kita, Joko Widodo. (ast)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengajar dan Aktivis Pendidikan

Berita plagiat ini tiga hari belakangan muncul kembali. Saya katakan kembali muncul karena ini selalu hadir. Dengan kata lain persoalan ini tidak hilang-hilang, tidak terpecahkan. Atau bahkan semakin besar persoalan itu.

Bagaimana pemecahannya? Sesungguhnya tidak sulit memecahkan plagiat di perguruan tinggi dalam bentuk tugas kuliah maupun skripsi, tesis, dan disertasi. Karena selain ada alat untuk mendeteksi plagiat, sebagai dosen yang memberi tugas atau sebagai  pembimbing skripsi, tesis, disertasi, cukup meminta menjelaskan apa yang ditulis per halaman atau per sub-bab, dan secara detil memeriksa referensi yang dipakai.

Tetapi mungkinpersoalan yang lain yang harus diperhatikan adalah perlunya kembali mempertanyakan apa tujuan universitas dan apa tujuan orang masuk universitas. Kalau universitas hanya untuk--dan ini yang tampak diutamakan, menghasilkan orang yang memiliki gelar kesarjanaan (S1, S2, S3), dengan kata lain--maaf mengatakannya, menjual ijazah, maka tidak terlalu kaget melihat kasus ini ramai dibicarakan orang.                       

Bagaimana dengan revolusi mental? Hemat saya revolusi mental tidak atau sama sekali belum menyentuh dunia persekolahan kita (dari SD-universitas). Ya, pemerintah (Kemendikbud dan Kemenristekdikti) mungkin akan mengatakan revolusi mental sedang dilaksanakan dengan menyebutkan program-program yang sedang atau akan mereka jalankan. Misalnya, Program Pendidikan Karakter dari Kemendikbud, tetapi lagi-lagi kita lihat ini bermasalah. Masyarakat tidak puas dengan program ini. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati Sosial, Spasial & Lingkungan

Isu plagiarisme di dunia pendidikan masih menjadi momok yang sangat menakutkan dan  mengkhawatirkan. Adanya plagiarisme, apalagi dalam dunia akademis tingkat perguruan tinggi, menggambarkan kurangnya disiplin dari (oknum) masyarakat dalam mempertahankan integritasnya di dunia pendidikan. Di sisi lain, banyaknya jumlah lulusan tingkat perguruan tinggi dapat mengindikasikan kemajuan suatu bangsa. Tidak demikian jika di dunia akademisnya masih marak plagiarisme. 

Dengan maraknya plagiarisme, adakah yang salah dalam pendidikan di negara ini? Biarlah para pakar pendidikan saja yang menjawab hal ini. Namun, pengamatan di lapangan mengindikasikan adanya beberapa kasus yang menunjukkan bahwa pembekalan adab dalam mendidik generasi bangsa ini masih kurang. Mari kita tingkatkan lagi pengamalan sila kedua Pancasila: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”!

Adab dapat didefinisikan sebagai norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, atau pada tulisan ini saya samakan dengan istilah lain yang sering disebut-sebut diantaranya akhlak, sikap atau attitude. Adab sangatlah penting diberikan kepada generasi bangsa sejak dini. Pembekalan adab disampaikan sebelum materi pelajaran ataupun ilmu sekolah diajarkan. Selama adabnya masih kurang baik, jangan dulu dimulai penyampaian pelajaran sekolah.

Adab, akhlak, sikap, ataupun attitude ini sangat erat kaitannya dengan karakter seseorang. Bagaimanapun tingginya ilmu seseorang, jika tidak memiliki adab jelas tidak akan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Dengan adab, akan mudah memahami hubungan realitas antara pendidikan dan kejujuran. Malu untuk berbuat kecurangan. Perdalam dan amalkan adab baru pelajari ilmu, sebuah aksioma yang tak terbantahkan. 

Plagiarisme hanyalah salah satu akibat dari menomorduakan adab dalam proses menuntut ilmu. Akibat lain dari miskinnya adab di antaranya makin marak di dunia media sosial akhir-akhir ini. Bagaimana ketika ada perbedaan pendapat sedikit saja sudah saling ejek, saling menyesatkan, bahkan sampai memutuskan pertemanan. Padahal yang diperdebatkan masih dalam tatanan ijtihadiyah, sesuatu yang masih dapat didiskusikan dan sangat wajar jika mengakibatkan perbedaan pendapat (khilafiyah).

Dengan demikian, tugas kita semua, mantapkan bekal kepada para generasi penerus bangsa mengenai adab dan sikap yang baik, good attitude, atau akhlakul karimah bahkan sebelum dipelajarinya ilmu atau pelajaran di sekolah dan kuliah bidang apapun. Selagi belum terlambat tanamkan kepada generasi penerus kita, anak-anak kita, anak didik kita semua. Dengan bekal akhlakul karimah, selanjutnya silakan untuk menuntut ilmu seluas-luasnya untuk dapat dimanfaatkan di lingkungan sekitar dan bahkan di muka bumi ini. Ulama bijak terdahulu berkata: “pelajarilah adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu, dengan bekal adab niscaya akan mudah dalam memahami ilmu”. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu