Prestasi Lalu Muhammad Zohri, Asa Kita
berita
Humaniora
Sumber Foto : senayanpost.com (gie/watyutink.com) 16 July 2018 16:30
Pelari Lalu Muhammad Zohri, 18 tahun, menorehkan prestasi bagi Indonesia. Ia memenangi nomor lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia, Kamis (12/7/2018) kemarin. Baru di zaman Jokowi sprinter putra Indonesia menorehkan prestasi 100 meter kejuaraan atletik dunia. Presiden sebelumnya ngapain aja... Tunggu, kok, Jokowi dibawa-bawa?

Prestasi Lalu segera mengingatkan orang--terutama angkatan jadoel--pada Mardi Lestari. Situs resmi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), pemegang rekor lari junior pria kelas 100 meter diraih Mardi. Nama Mardi harum pada 1990-an. Di nomor bergengsi lari 100 meter, ia meraih medali emas di tiga SEA Games berturut-turut tahun 1989, 1991 dan 1993. Ia lantas digelari "The fastest man in Asia." 

Kemenangan Lalu Zohri memberi asa bagi kita di tengah kekeringan prestasi olahraga. Negeri ini butuh berita baik prestasi anak bangsa. Capaian Lalu ibarat segelas air yang mengaliri kerongkongan yang kering. Kemenangan Lalu di luar ekspektasi semua orang. Termasuk melampaui target pelatihnya sendiri. Maka, pertanyaan yang penting diajukan setelah kemenangan Lalu sebetulnya adalah: Presiden-presiden kita (termasuk Jokowi, by the way) ngapain aja sampai-sampai atletik baru menorehkan prestasi setelah 28 tahun?     

Bukan rahasia umum, pembinaan atletik kurang dilirik oleh pemerintah dibanding misalnya, bulutangkis. Atletik juga bukan olahraga populer di Indonesia dibanding misalnya, sepakbola. Padahal, asal tahu saja, di setiap perhelatan pesta olahraga atletik pendulang emas terbanyak karena mempertandingkan hampir 50 jenis cabang olahraga. Menguasai perolehan medali emas di atletik (bersama senam dan renang) bakal menduduki puncak tertinggi kompetisi olahraga. Itu sebabnya, negeri-negeri macam Amerika atau Tiongkok langganan juara tiga besar karena mendulang banyak medali dari atletik, senam dan renang. Lantas, apa hal sederhana macam ini tak terpikirkan oleh pemangku kebijakan olahraga kita?       

Membaca cerita hidupnya, kemampuan berlari Lalu Muhammad Zohri lahir dari bakat alam. Ia baru bergabung pelatnas Januari lalu usai mencatatkan prestasi di Kejurnas PPLP, di Lombok, NTB, provinsi asalnya. Saat itu Lalu Zohri mencatatkan waktu 10,40 detik. Ia datang dari keluarga tak mampu. Rumahnya di Dusun Pangsor, Lombok Utara, berukuran 7 x 4 yang disangga balok kayu. Artinya, bakat larinya mirip pelari-pelari dari negeri Afrika. Ia punya masa depan cerah sebagai pelari dunia.  

Begitu ia mencatatkan prestasi dunia, banyak pihak bereaksi. Rumah Lalu yang bobrok jadi "rebutan" untuk direnovasi Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Selain itu, Kemenpora juga menyiapkan bonus khusus buat Lalu Zohri yang besarannya masih dirundingkan. Reaksi begini tipikal Indonesia banget. Perhatian pada atlet baru lahir setelah prestasi tertoreh. Atlet dimanja ketika berprestasi, namun dilupakan kemudian. Kenapa hal ini jadi kebiasaan kita? Kenapa kita tak mendahulukan pembinaan cabang olahraganya demi mendulang banyak medali di pesta-pesta olahraga mulai SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade?

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Sebelum bicara soal Lalu Muhammad Zohri. Di negeri ini pembinaan olahraga belum jadi prioritas. Padahal dalam olahraga ada disiplin, sportivitas, minimal orang yang menyukai olahraga jadi lebih sehat jasmani dan rohani. Olahraga bisa jadi modal dasar menciptakan generasi yang sehat. Secara pribadi, saya berharap Revolusi Mental diterjemahkan dalam bidang olahraga. Jokowi sebagai presiden seharusnya berani melakukannya. 

Di zaman Orde Baru, bidang olahraga dibina lebih serius. Ada political will dari negara. Ada sumber keuangannya. Dulu ada program bapak angkat. Dan itu yang dilakukan pemerintah China, Jepang, Korea. Kalau bicara ekonomi, misalnya, memang Spanyol dan Brasil lebih kaya dari kita? Kan tidak. Namun kehormatan negara mereka didapat dari olahraga. Kroasia, runner-up Piala Dunia 2018, negara pecahan bekas perang yang penduduknya hanya 4,5 juta. Maka, tanamkan pada pemimpin negara ini: olahraga itu penting.   

Yang terjadi sekarang, (pemimpin) kita bersikap norak. Ada prestasi Lalu Muhammad Zohri di nomor lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia. Itu bukan peristiwa tiba-tiba. Tidak ada hasil yang instan dalam olahraga. Jangan pernah berharap menghasilkan ada keajaiban atau kebetulan dalam olahraga. Semuanya bisa dikalkulasi ketika kita menempatkan olahraga sebagai bidang prioritas. Caranya lewat program pembinaan yang rigid, jenjang yang konsisten. Semua kementerian harus diberdayakan, 34 gubernur diberdayakan, begitu juga bupati dan wali kota, Polri dan TNI juga. 

Mengenai Zohri, kita perlu bangga atas prestasinya iya. Tapi perlu dicari tahu bagaimana ia bisa muncul. Kita lihat dari posisi larinya kemarin di delapan track. Ia berada di paling pojok sebelah kanan. Ia bukan favorit. Yang favorit ada di line tengah 3 dan 4. Yang dipojok, prediksi kemenangan secara statistik rendah berdasarkan catatan waktu. Ketika Zohri ditempatkan di pojok paling kanan, namun bisa melaju sampai finish dan juara, itu suatu pencapaian luar biasa. Apalagi setelah melihat latar belakang keluarganya. 

Bagus sih pemerintah jadi perhatian pada Zohri. Kalau Pemerintah Jokowi ingin mempraktikkan Revolusi Mental di bidang olahraga, sampai hal terkecil harus dibantu. Tapi bukan presiden saja. Ada gubernur, bupati, wali kota, ajak swasta. Semua rembug nasional. Masalahnya, ibarat perusahaan, kita tak punya business plan. (ade)     

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri