Risiko Gelar Asian Games 2018 di Tahun Politik
berita
Humaniora
Image credit: Inilah.com 30 April 2018 15:00
Mana yang lebih membetot perhatian kita, Prabowo dan Jokowi mencari cawapres atau Asian Games 2018? Komentar kitab suci fiksi atau Asian Games 2018? Pidato Indonesia bakal bubar 2030 atau Asian Games 2018? Tagar #2019GantiPresiden atau tagar #AsianGames2018?

Hm, rasanya kita semua tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas. Apalagi beberapa waktu lalu Presiden Jokowi menyampaikan kritik tentang promosi perhelatan Asian Games. Presiden menilai promosi yang ada belum maksimal. Presiden belum melihat promosi yang gencar terkait event olahraga terbesar di Asia itu di media nasional maupun internasional. Padahal, Jakarta dan Palembang selaku tuan rumah bakal menghelatnya 18 Agustus-2 September nanti atau kurang dari empat bulan lagi. 

Di Jakarta pun iklan luar ruang Asian Games 2018 hanya tampak gegap gempita di sekitaran jalan protokol, lewat halte busway atau bus-bus Transjakarta, dan billboard-billboard. Di luar jalan protokol, Jakarta nyaris bersih dari promosi Asian Games. Apalagi bila ke daerah pinggiran, di kota-kota penyangga seperti Tangerang, Bekasi, dan Bogor, yang ramai adalah baliho dan spanduk calon cawapres dan calon kepala daerah yang akan berlaga di pilkada.          

Well, inilah risiko menggelar Asian Games di tahun politik. Alih-alih dianggap pesta olahraga yang bisa bikin rileks dari keriuhan politik, orang-orang malah seperti lupa ajang itu akan berlangsung sebentar lagi. Yang dirasakan pengguna jalan dan warga Jakarta adalah, gara-gara Asian Games jalan Sudirman dipangkas untuk MRT (yang ternyata belum kelar hingga tahun depan) dan kawasan Senayan tak dapat digunakan untuk jogging. Bila tak banyak yang paham soal Asian Games 2018, apa ini berarti masyarakat kita tak peduli pada pesta olahraga tersebut?        

Mungkin memang benar kata presiden. Promosinya yang kurang hingga Asian Games 2018 kalah pamor dengan berita kontestasi politik jelang pilkada dan pilpres. Dari Rp 6,6 triliun anggaran, 90 persen dialokasikan untuk penyelenggaraan seperti memermak dan membangun sarana olahraga baru. Sisanya untuk promosi. Tidak heran promonya dirasa kurang. Lantas, apa cukup waktu yang tersisa untuk menyihir warga Indonesia jadi peduli Asian Games 2018?

Peduli pada keriuhan politik perlu. Karena sebuah keputusan politik menentukan nasib setiap warga negara. Tapi politik juga bukan segalanya. Ajang pesta olahraga semacam Asian Games 2018 sejatinya mampu jadi oase di tengah manuver maupun intrik meraih jabatan dan jual kecap kampanye. Namun bila kita tak tahu di mana letak oasenya, bagaimana kita bisa menemukannya? Bila kita tak acuh ada oase, bagaimana kita bisa
menghilangkan dahaganya?               

Asian Games 2018 hanya butuh sedikit perhatian kita. Atlet-atlet kita perlu kita dukung. Maka, kenapa kita tak menengoknya sebentar?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Pemerintah melalui Menpora mestinya sejak awal dorong INASGOC bersama KONI Pusat, KOI, Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov Palembang fokus 100 persen ke urusan teknis-strategis Asian Games 2018. Back up penuh mereka agar optimal dalam persiapkan kontingen terbaik sampai infrastruktur dan efek gaungnya lewat program publikasi yang rigid dan berkelanjutan. Bebaskan mereka dari jadwal momen lain termasuk 171 Pilkada serentak 2018 dan Pemilu-Pilpres 2019.

Seharusnya, minimal 12 bulan sebelum gong Asian Games 2018, pembagian tugas di antara elemen-elemen terkait langung harusnya sudah jelas dan tegas sampai program dan anggarannya. Dengan begitu, bidang publikasi sudah bergerak sejak minimal 12 bulan sebelum gong Asian Games 2018. Seperti dilakukan semua negara tuan rumah multievent macam Olimpiade dan Asian Games maupun putaran final Piala Dunia. Bidang media secara periodik setiap 3 bulan undang media nasional dan global (teve, radio, cetak, online) buat gathering plus peliputan langsung progres kesiapan infrastruktur sampai cabang demi cabang kontingen Indonesia.

Bidang publikasi juga harusnya sudah siapkan data, statistik, profil, dan images perjalanan Indonesia di Asian Games. Tampilkan secara serial pencapaian kontingen Indonesia sampai  atlet dan pelatih yang pernah mengibarkan bendera Merah Putih di Asian Games. Ragam materi itu dimunculkan di media INASGOC, KONI Pusat, KOI, Pemprov DKI, Pemprov Palembang, Kemenpora, ragam materi branding di area publik, dan kontrak space/ slot dengan media mainstream pilihan. Ini demi menguatkan magnet momen Asian Games 2018 bagi publik.
 
Butuh tagline ringkas dan bernas yang dikreasi bidang media buat menancapkan pemahaman tentang betapa penting Indonesia jadi tuan rumah kali ke-2 multievent sekaliber Asian Games 2018. Pada 1962, pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Ir Sukarno sampai jalin kolaborasi dengan pemrintah Uni Soviet terkait banyak faktor buat gelorakan Asian Games yang mempersatukan dan membanggakan. Warisan Asian Games 1962 lestari sampai sekarang. Paling utama adalah kawasan Gelora Bung Karno. Kali ini, Asian Games 2018 juga harusnya dijadikan momen mempersatukan dan membanggakan di tengah sekat, konflik, serta menipisnya kepercayaan mayoritas publik kepada penyelenggara pemerintahan.

Bidang publikasi bekerja sama dengan media mainstream pilihan (teve, radio, cetak, online) jalankan program liputan langsung dari cabang ke cabang kontingen Indonesia dan persiapan atlet negara-negara terdepan Asia. Ini sekaligus buat updating statistik dan komparasi dengan kapasitas atlet Indonesia di cabor utama Asian Games yang berkiblat ke Olimpiade. Dari sisi ini, bidang media bakal bisa menyusun konklusi obyektif: masuk akalkah kontingen Indonesia dibebani target tembus 10 besar di Asian Games 2018? Hampir pasti nggak masuk akal, apalagi anggaran pendorong perjuangan dan kepercayaan diri para atlet pun dipangkas dari total Rp 750 miliar jadi tinggal Rp 325 miliar. Kontradiktif.

Pemerintah pusat wajibkan semua kementerian, BUMN sampai lembaga-lembaga lain yang ada di struktur berikan atensi dan dukungan berupa program penggaung momen Asian Games 2018. Misal dalm bentuk billboard, banner, bazar, lomba dan lain-lain yang semua mencantelkan momen dan ikon Asian Games 2018.

Tetapkan sejumlah atlet top nasional yang pernah naik podium Asian Games dan masih hidup sebagai Grand Ambassador. Mereka bersama Chief de Mission kontingen Indonesia yang juga Wakapolri intens berkeliling ke setiap cabor buat memompa motivasi, ke kantor media mainstream, galang gathering dengan pihak swasta maupun berbagai komunitas. Prinsipnya: setiap celah harusnya dijelajahi dan dioptimalkan agar getaran Asian Games 2018 terus menguat hingga gong dan tuntasnya hajat besar itu.

Program rekrut 10.000 relawan dan liburkan sekolah saat Asian Games 2018 sangat belum cukup. Bikin dan sebarkan ragam konten lewat medsos, official portal INASGOC, media mainstream pilihan, selebaran seperti leaflet, buku saku dll tentang A to Z Asian Games 2018. Juga ragam atribut seperti topi, jaket, polo shirt, t-shirt, handuk sampai kartu e-pay tol dan layanan publik lain dengan sisipan ikon Asian Games 2018 berikut jadwalnya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri