Saat Anak Harus Menelan Pil Pahit Trauma Kekerasan
berita
Humaniora
Sumber Foto: AsiaOne.com (gie/watyutink.com) 21 April 2018 16:00
Berdasarkan data pengaduan masyarakat ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam tujuh tahun terakhir hingga tahun 2017, kasus kekerasan pada anak berjumlah 26.954 kasus.

Tidak hanya lingkup keluarga yang menyebabkan kekerasan pada anak tetapi era cyber kian berkembang yakni penyebaran video pornografi yang mudah diakses membuat anak menjadi korban. Faktor mengejutkan juga disampaikan Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2017, faktor pacaran juga menjadi faktor terbaru yang meningkat sebagai pemicu kekerasan seksual pada anak, yakni 2.171 kasus. (Anak adalah mereka yang berusia 18 tahun ke bawah.) 

Tindak kekerasan tentu memberi dampak trauma berkepanjangan pada anak sebagai korban. Di usia yang masih dini, anak harus menelan pil pahit atas kasus kekerasan yang dialami. Satu contoh kasus kekerasan pada anak terjadi di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara. Seorang anak berinisial SM dilecehkan secara seksual oleh keluarganya sendiri, yaitu ayah dan kakeknya. Ironisnya, keluarga berusaha menyembunyikan kejadian ini karena akan menjelekkan nama keluarga. Akibatnya SM menelan trauma seorang diri. Ia harus ketemu pelaku dalam satu atap setiap hari.

Kekerasan dalam berpacaran juga merupakan wajah kekerasan anak. Banyak anak yang berpacaran tidak tahu cara mengadukan kasusnya jika disakiti pacar secara fisik. Padahal kekerasan fisik akan berujung pada aspek psikologis anak yakni trauma.  

Trauma pada korban yang masih berusia anak berdampak pada pendidikan mereka. Anak yang mengalami kekerasan akan trauma dan tidak mau sekolah lagi. Akhirnya mereka mendekam diri dan tidak mau bersosialisasi. 

Tidak adanya pengetahuan tentang perlindungan hukum bagi anak membuat anak terus menjadi korban kekerasan. Padahal anak adalah masa depan bangsa. Jika sejak dini banyak anak merasa terancam, bagaimana masa depan Indonesia? Lalu, siapa yang akan peduli terkait trauma korban kekerasan pada anak?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pelajar, aggota Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan dan Forum Anak

Kasus kekerasan pada anak memang akhirnya akan memberi efek trauma. Saya sempat mengalami kasus seperti itu. Saya menjadi korban. Setelah kasus itu terjadi, saya sempat putus asa, ingin bunuh diri tetapi saya pikir kembali bahwa cita-cita ada di depan mata saya. Saya ingin membahagiakan orangtua saya.

Saya selalu berpikir positif, selalu memikir ke depan. Saya percaya berakit ke hulu, berenang kemudian, bersakit dahulu bersenang kemudian. Toh sesudah dewasa nanti aku rasakan hasil apa yang aku tanam dari kecil yaitu kesabaran atas apa yang saya hadapi.  

Ketika seorang anak mengalami kekerasan yang harus dihadirkan adalah pendampingan. Saya bersyukur saat saya mengalami kasus itu saya memiliki pendamping dari Yayasan Rumpun Anak Pesisir. Selain itu, cara saya mengatasi trauma adalah menyibukkan diri sendiri dengan belajar, membantu orangtua bekerja sepulang sekolah, dan mengajar anak-anak yang tidak berkesempatan sekolah.

Pesan saya untuk anak-anak yang mengalami kekerasan kita harus punya dorongan semangat dari diri sendiri dengan fokus bahwa kita mempunyai masa depan yang cerah. Satu- satunya cara mengatasi trauma adalah bangkit. Jika suatu haris aya menjadi orangtua, saya ingin mendidik anak- anak saya dengan hak partisipasi, dimana setiap anak memberi kesempatan untuk mengatakan apa yang mereka inginkan atau memberi masukan dan sebagai orangtua kita memberi tahu apa yang baik dan tidak. 

Saya mengalami trauma ataupun down saat kejadian menimpa saya selama tiga bulan tetapi kita tidak boleh berlarut dalam kesedihan, hidup harus berlanjut. Sekarang, saya menyuarakan apa yang sepantasnya menjadi hak anak dan saya tahu rasanya mendapat tekanan trauma atas kejadian kekerasan pada anak dan sekarangs aya berpartisipasi untuk memberi motivasi pada anak-anak atau sebaya saya bahwa cita- cita adalah satu- satunya harapan kita untuk menlanjutkan hidup. 

Menurut saya, termasuk saya yang mengalami kasus pelecehan seksual, saya berharap ada sosialisasi untuk masyarakat terutama yang sudah menjadi orangtua. Kita selama ini belum mendapat sosialisasi masalah hukum pelecehan seksual dan seenaknya melakukan walaupun keluarga sendiri tetapi gak bisa seenaknya, dong. Menurut saya pemerintah kurang melakukan sosialisasi. Sosialisasi dimana mereka para orangtua dikumpulkan, dibahaskan apa yang tidak boleh dilakukan orangtua ke anak, apa hak anak, sehingga mereka menjadi anak berkarakter.

Kasus kekerasan pada anak juga harus jelas hukumnya. Sekalipun yang melakukan kekerasan adalah keluarga sendiri, hukum harus berlanjut dan harus adil.  Saya berharap agar semua anak-anak di luar sana mau berani menceritakan apa yang kekerasan yang terjadi pada diri mereka, dan untuk pelaku harus dihukum sesuai dengan tindakannya tanpa harus melihat siapa yang berbuat (apalagi ini kasus kekerasan seksual). Masyarakat juga harus membantu bila terjadi kasus kekerasan pada anak dan juga harus ikut melindungi bukan malah merasa malu dan cuek pada permasalahan tersebut. Anak adalah masa depan Indonesia, kami butuh perlindungan untuk kami sebagai anak yang mengalami kasus untuk tidak berlarut dalam trauma. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati Air bersih Muara Angke, Pendiri Yayasan Rumpun Anak Pesisir Muara Angke

Sekitar minggu lalu, saya mendapat cerita dari seorang perempuan yang tinggal di kawasan kumuh pemukiman nelayan Muara Angke tentang kejadian masa anak-anaknya yang menjadi korban pelecehan seksual. Kejadian ini ditutupi dan dipendam sendiri lebih dari 10 tahun. Kenapa? Ketika kejadian tersebut dia merasa takut untuk bercerita karena baginya ini aib, takut orang tidak percaya padanya, takut jadi bahan bullying bagi teman dan lingkungan. 

Selama saya mendampingi anak-anak menjadi korban kekerasan, mereka mengalami trauma akibat situasi tertekan. Banyak anak-anak ini mau mengadu tetapi serba salah, karena ada beberapa kasus ketika si anak yang menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan seorang kakeknya, ia mengadu pada ibunya, justru ibunya tidak percaya dan meminta jangan sampai diketahui orang, apalagi sampai di laporkan dengan alasan aib bagi keluarga. Ada juga kasus bapaknya menjadi pelaku, tetapi tidak diadukan karena takut bapaknya dipenjara, keluarga akan kehilangan tulang punggung yang bekerja untuk hidup mereka. Akhirnya, hak anak tidak ada, malah anak dijadikan korban kekerasan. 

Bekerja untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari banyak di lakukan anak-anak di kawasan Muara Angke. Di balik tuntutan untuk bekerja, anak-anak Muara Angke sangat rentan mendapat pelecehan dan kekerasan seksual, seperti di pelelangan ikan pada malam hari. Anak-anak ini seringkali menjadi korban tangan-tangan jahil orang dewasa yang merabah tubuh mereka, bahkan ada beberapa dari anak-anak ini yang di rayu dan dipaksa dengan imbalan ikan.
Di rumah apakah mereka aman dari predator? Tidak, karena sebagian besar pelaku kekerasan seksual yang menimpa anak-anak adalah keluarga dan orang yang di kenal dekat dengan anak. Seperti Ayah, kakek, paman dan pacar korban. Akibatnya anak-anak merasa makin tertekan hidup bersama keluarganya karena setiap hari makin tidak nyaman dan terancam tinggal bareng pelaku 

Faktor utama kekerasan pada anak adalah kemiskinan. Mereka tinggal satu atap di rumah-rumah kayu yang sempit dengan beberapa anggota keluarga, bahkan satu rumah ada yang diisi oleh dua bahkan tiga kepala keluarga. Salah satu contoh, anak diperkosa kakeknya karena korban yang sudah mulai beranjak remaja terpaksa tidur berhimpitan bersama anggota keluarga lain di rumah mereka yang kecil.

Faktor kedua adalah pendidikan dan ekonomi. Kedua hal ini sangat berperan besar terhadap maraknya tindakan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan. Sekadar bertahan hidup, mencari sesuap nasi bagi keluarga nelayan miskin membuat mereka jauh dari pendidikan terutama pendidikan rohani, kehidupan keras untuk sekedar menyambung hidup membuat anak-anak tidak terperhatikan penddidikannya dengan layak. Urusan perut menjadi nomor satu, mendingan kerja biar tidak lapar dari pada sekolah butuh biaya besar, ini salah satu jawaban singkat mereka ketika ditanya pendidikan anaknya.

Salah satu yang saya dan tim Rumpun Anak Pesisir lakukan adalah melakukan pendampingan untuk menghilangkan trauma mereka. Biasanya, anak- anak yang menjadi korban kekerasan terutama kekerasan seksual akan cenderung lebih sensitif, murung,  menyendiridan merasa diri mereka bersalah. Pendekatan yang kami lakukan berusaha menjadi orang yang mengerti mereka, dan nantinya kita akan mengajak mereka untuk terus semangat melanjutkan hidup, makin waspada dan siap bersuara untuk menjadi pemutus rantai agar kasus serupa tidak terjadi pada dirinya, teman dan orang lain. Salah satunya dengan membuka kelas inspirasi yang menghadirkan guru-guru tamu yang mau berbagi cerita agar anak-anak lebih fokus terhadap masa depannya

Penangan kasus kekerasan terhadap anak harus menjadi priotitas. Banyak kasus terjadi korban merasa dicuekin ketika sudah berani melaporkan kasusnya ke pihak kepolisian dan seringkali hanya penyelesaian secara kekeluargaan saja. Menurut saya walaupun penyelesaian secara kekeluargaan tetap perlu tetapi hukuman seberat beratnya harus diberikan pada pelaku agar ada efek jera.

Pemerintah perlu juga membuat semacam rumah aman di wilayah atau ditiap pemukiman untuk menjadi tempat cerita dan tempat perlindungan sementara bagi korban. Rumah aman bisa menjadi tempat korban memulihkan trauma dengan dampingan psikolog/ psikiater. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF