Saat Manusia Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 14 July 2019 10:00
Watyutink.com - "Aku ingin hidup 1000 tahun lagi." Demikian Chairil Anwar berseru di bait terakhir puisinya yang paling terkenal, "Aku". Keinginan itu tak terwujud. Ia mati muda di usia 27 tahun. Namun, dalam waktu dekat apa yang diangankan sang pujangga itu bisa jadi bakal terwujud.

Manusia selalu ingin hidup selayaknya dewa: tidak pernah sakit, selalu bugar dan hidup selamanya. Sejarah telah menunjukkan upaya untuk hidup abadi telah dilakukan raja-raja dan penguasa di masa lalu, seperti kaisar China Qin Shi Huang hingga ilmuwan Isaac Newton. 

Namun bila di masa lalu upaya itu hanya berdasar takhayul atau percobaan tanpa dasar ilmiah kuat, kini manusia bakal memecahkan problem itu dengan sains lebih konkret. Lebih mengejutkan lagi, pertanyaan apa manusia bisa hidup selamanya akan terjawab di masa hidup kita. 

Sekitar 10 tahun lagi, atau 2029, kita kemungkinan bakal mengetahui apakah manusia pada akhirnya bakal hidup abadi atau tidak. Angka tahun itu ditetapkan Google dua tahun silam saat mulai proyek mereka. Kepala engineer Google percaya teknologi kedokteran yang digabung kecerdasan buatan akan mampu mencipta teknologi nano pada dunia medis. 

Dipercaya, kelak akan tercipta robot ukuran nano yang mampu mengarungi bagian dalam tubuh sambil memerangi penyakit yang datang. Google juga percaya, otak manusia kelak akan terhubung langsung dengan internet dan server cloud, membuat kemampuan otak mengolah pengetahuan meningkat pesat. 

Ketika manusia hidup abadi sesungguhnya tidak hanya hal-hal baik terjadi, antara lain orang baik dan jenius sempurna kian punya banyak waktu menebar kebaikan di bumi. Akan tetapi berbagai persoalan juga bakal mengemuka. Bagaimana dengan orang jahat atau penguasa lalim? Apa jadinya bila orang macam Hitler tak bisa mati?

Di bukunya, Homo Deus sejarawan berkebangsaan Israel Yuval Noah Harari menulis, manusia saat ini tak lagi terancam oleh bencana kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Kini agenda baru kita adalah mengincar imortalitas (hidup abadi), kebahagiaan, dan keilahian. 

Kata Harari, dari Homo sapiens kita tengah berusaha meningkatkan manusia yang fana menjadi dewa-dewa yang kekal, dari Homo Sapiens ke Homo Deus. Apa benar bencana-bencana itu bukan ancaman lagi?

Jika pun tidak mengancam lagi dalam skala massal, bukan berarti bila semua manusia bisa hidup selamanya tidak muncul masalah lain. Contoh paling jelas saja, bila angka kematian nol sementara angka kelahiran terus naik, bukankah bumi jadi kian sesak? Mampukah bumi menampung manusia yang terus bertambah? Apakah akan ada sumber daya alam yang cukup untuk semua orang? Apakah bencana seperti yang diramalkan Malthus ratusan tahun silam akan terjadi?

Itu hanya dari aspek jumlah penduduk. Berbagai masalah sosial lain juga mengintai. Misalnya, benarkah manusia akan bahagia bila bisa hidup selamanya? Yang mengalami trauma masa kecil akan menanggung trauma selamanya. Manusia mungkin akan terus bekerja hingga lewat usia 100 tahun. Bila masa produktif manusia tanpa batas, bagaimana bisa tercipta lapangan kerja buat generasi baru? Bukankah ini peluang tercipta pengangguran tingkat global? 

Belum lagi aspek spiritual dan religi. Ketika manusia bisa menghindari kematian, bagaimana agama-agama yang ada saat ini menjawab kenyataan itu? Masihkah agama diminati orang di masa depan? 

Dengan sederet persoalan rumit yang bakal muncul, benarkah hidup abadi hal yang kita inginkan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI)

Gagasan tentang hidup abadi atau menjadi immortal human tentulah sebuah keniscayaan ketika teknologi kesehatan telah semakin maju.

Gagasan ini memang telah menjadi keinginan atau cita-cita legendaris dalam sejarah umat manusia, seperti misalnya legenda tentang para ksatria Highlanders dari Skotlandia yang tidak bisa mati hingga kepalanya dipenggal oleh ksatria Highlanders lainnya. 

Namun sebenarnya keinginan untuk hidup abadi ini harus dipahami bukan sekadar abadi fisik badaniah semata, tetapi abadinya sebuah pemikiran dan peradaban secara lintas generasi. Hal ini sejalan dengan pemikiran dari perspektif agama, bahwa semua pemuka agama atau nabi juga tidak abadi secara fisik. Para nabi juga akhirnya mati, tetapi ajaran dan pengalaman hidup yang penuh kebajikan justru terus menjadi inspirasi bagi manusia dari generasi ke generasi. 

Jadi intinya adalah, yang perlu hidup lebih lama bukanlah fisik badaniah seorang manusia, tetapi gagasan kebaikan dan kebajikan yang akan membuat ras manusia tetap ada hingga ke akhir zaman. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Meski sebagian (kecil sekali) ahli biologi optimistis dengan "obat antimati", pada kenyataannya jalan menuju ke arah sana masih sangat jauh. Dengan demikian hal ini sangat spekulatif. Mungkin bahkan tidak (akan) ditemukan sama sekali. 

Salah satu spekulasi seperti disitir oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus, apa yang terjadi saat kita punya umur 150 tahun? “Kita akan menjadi makhluk yang paling lelah,” kata dia.

Bagaimana tidak lelah jika kita tetap fit dan baru pensiun saat berumur 130 tahun? Itu artinya kita berangkat ke kantor selama 108 tahun. Jika menikah saat berumur 25, maka kita akan bersama pasangan yang sama selama 125 tahun.

Bukan hanya terus menerus bekerja, kita harus terus belajar karena pekerjaan di masa depan akan terus berubah dengan banyak hal baru.

Belum lagi kalau kita mendapat trauma saat berusia 30 tahun. Itu artinya selama 120 tahun kita akan selalu ingat dan dihantui oleh kenangan buruk itu.

Yuval berspekulasi dengan sejumlah pertanyaan apa jadinya dunia jika hal itu terjadi. Sesungguhnya dia sedang memakai logika masa kini (ketika manusia fana) untuk situasi yang berbeda (ketika manusia kekal). 

Sejumlah logika mungkin akan berubah. Misalnya, karena manusia tidak akan mati, maka jumlah penduduk bumi tidak berkurang. Akibatnya, bumi akan semakin sesak. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah ketika menjadi makhluk abadi manusia masih mau beranak pinak? 

Bisa jadi, hal itu sudah tidak diinginkan lagi, karena keinginan untuk mewariskan kehidupan sudah tidak ada lagi. Untuk apa mewariskan kehidupan jika kita bisa menikmatinya sendiri? Logika lain yang mungkin berubah, tentang Hitler dan manusia lain yang penuh kebencian dan ingin perang. Kalau mereka tidak mati, mereka akan terus berkuasa. Mungkin saja itu berubah, karena orang yang abadi (tidak bisa mati karena sesbab alami) tidak ingin mempertaruhkan keabadaiannya dengan menciptakan perang (yang bisa membunuh mereka). 

Mereka mungkin akan mempertahankan kedamaian dunia agar bisa terus hidup. 

Jadi, sebaiknya tunggu saja sebelum berspekulasi. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja