Saat Rating Debat Capres I Kalah oleh Sinetron
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 19 January 2019 17:00
Watyutink.com - Apa tayangan TV paling banyak ditonton hari Kamis (17/1/2019) lalu? Jika Anda mengira Debat Capres-Cawapres pertama antara Jokowi-Ma'ruf versus Prabowo-Sandi, jawabannya salah. 

Menurut data rating Nielsen, yang paling banyak ditonton orang Indonesia adalah sinetron Dunia Terbalik (RCTI). Ia memuncaki rating hari itu dengan skor 5,1 dan share 22,9 persen. Sementara itu, debat capres paling banyak dipirsa di SCTV dengan rating 3,4 dan share 13,2. 

Debat capres di SCTV berada di peringkat ke-7. Kalah oleh tayangan lain, mulai dari sinetron Dunia Terbalik, Cinta yang Hilang, Jodoh, Tukang Ojek Pengkolan, Anak Langit, dan bahkan kartun Malaysia Upin & Ipin. 

Hari itu juga orang lebih banyak nonton RCTI yang tak menayangkan debat capres ketimbang stasiun TV lain. Share RCTI hari Kamis kemarin 16,9 persen. Pertanda apa ini? 

Debat capres pertama kemarin konon sangat dinanti. Itulah untuk kali pertama dua kandidat capres dengan cawapres masing-masing  yang berlaga di Pilpres tampil di publik, memaparkan gagasan dan saling beradu argumen. Memang yang terjadi Kamis malam kemarin dinilai banyak pengamat anti-klimaks. Perdebatan nyaris tak terjadi, kecuali saling sindir. Acara kemarin dinilai cenderung kering. Kurang asyik sebagai tontonan. Lalu, apa yang mesti dilakukan agar debat berikutnya jadi menarik dan banyak ditonton orang?

Yang lebih penting ditelisik sebetulnya, kenapa kebanyakan rakyat Indonesia tempo hari memilih menonton sinetron ketimbang debat capres? 

Itu penting karena hingga kini TV adalah media yang paling banyak dikonsumsi rakyat Indonesia. Walau internet dan medsos kian banyak penggunanya, masih kalah oleh TV yang penetrasinya di atas 90 persen populasi. Jika debat capres di TV tak ditonton mayoritas rakyat lalu mesti lewat media apa lagi?

Ada dua argumen jawaban kenapa debat capres tak dapat penonton mayoritas. Pertama, rakyat kebanyakan sudah apatis pada politisi. Buat mereka siapa pun yang memimpin, tak banyak mengubah sendi kehidupan mereka. Sinetron yang menawarkan eskapisme dari kesusahan hidup lebih jadi pilihan. 

Argumen kedua, rakyat sudah menentukan capres pilihan. Riset Charta Politika menyebut masing-masing capres sudah mengantongi 70 persen suara pendukung yang takkan mengubah pilihannya. Ceruk pemilih yang belum menentukan pilihan kecil. Maka, mereka pikir, buat apa lagi menonton debat. Argumen mana yang lebih pas jadi jawaban?

Apapun itu, memilih presiden sejatinya bukan persoalan remeh. Debat capres salah satu kesempatan rakyat menilai calon pemimpinnya. Ketika acara itu tak menarik mayoritas rakyat, kita wajib mempertanyakannya. Apa yang salah? Acaranya atau proses politik kita secara keseluruhan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat media

Data itu harus dikritisi dahulu. Metode rating share Nielsen juga punya banyak kelemahan. Data itu diambil hanya dari 10 atau 11 kota besar Indonesia saja sehingga tidak bisa dijadikan gambaran umum. 

Lalu, tayangan lepas yang hanya sesekali muncul, seperti debat capres, misalnya, sangat susah bisa mengalahkan drama yang tayang setiap hari dan kontinyu. Karena karakter penonton TV kita yang karena sudah menonton serial secara terus-menerus, mereka tak mau kehilangan alur ceritanya.

Sementara itu, debat capres kemarin secara konten tayangan tidak dikemas untuk sejak awal bikin drama yang mengharu biru lalu orang mengikutinya sekian jam. Openingnya kemarin dibangun pelan-pelan. Misalnya saja segmen 5-6 ditaruh di depan, langsung debat tanya jawab, saya yakin orang langsung tertarik. 

Saya pun malas mengikuti dari segmen 1-3 saat belum ada debat. Kemarin berjalan lamban dan hampir tak ada kebaruan dibanding yang sudah saya saksikan selama ini tentang visi-misi kandidat lewat tim kampanyenya. 

Yang orang tunggu dari tontonan, apapun itu, adalah kejutan-kejutannya. Ada konfliknya nggak. Artinya, ada sebuah perdebatan. Buat saya kemarin, esensi perdebatannya hanya 10 persen daru keseluruhan acara. Lainnya hanya paparan data, visi-misi dan rencana ke depan. Jadi buat saya, debat kemarin isi tak sesuai judul. 

Selain itu yang perlu dikritisi juga, bila dikatakan 90 persen populasi telah terpenetrasi TV, harus dicek lagi angkanya. Apakah yang 90 persen itu masih menonton TV-nya? Jangan-jangan mereka lebih banyak mengkonsumsi internet dan medsos. Ingat lho, pengguna internet Indonesia telah mencapai 150 juta. Seandainya tayangan debat itu diputar juga di medsos dan diukur, saya curiga hasilnya bisa lebih tinggi (dari rating share TV).

Coba saja lihat perdebatan di TV dibanding perdebatan di medsos antara pendukung Jokowi dengan pendukung Prabowo. Kemarin saya nonton TV sambil baca perdebatan mereka. Maka, untuk penetrasi TV harus dilihat dulu penonton TV tinggal berapa persen dan mereka berada di mana. Jangan-jangan orang yang tak lagi menonton TV tak terjangkau lembaga riset rating. 

Kendati begitu, angka rating Nielsen ini juga sebuah peringatan, betapa pesta demokrasi yang mahal harganya. Yang kampanyenya sampai tujuh bulan. Ternyata tidak menarik pemirsa TV--kalau kita berpatok pada rating tersebut.

Maka acara debat berikutnya dari 2-5, harus di-reformat. Dilihat minutes by minutes rating yang paling kuat di mana. Itu kalau kita ingin menjadikannya tontonan televisi.  

Saya sering bilang, debat hanya berpengaruh sekitar 5 persen pada pemilih untuk mengubah pilihannya dari calon A ke B. Jumlah swing voter yang belum menentukan pilihan dan yang masih bisa digoyang sekitar 25,4 persen. Nah, pertanyaannya swing voter ini penonton TV atau bukan? 

Jadi, buat saya, debat ini harus hadir dalam multi-platform. Tidak hanya di TB, tapi juga di medsos dan online. Di dunia maya terdapat banyak pemilih pemula, mereka yang lahir setelah 1998. Mereka terpapar internet dan setiap saat pegang handphone. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen jurusan film Universitas Bina Nusantara

Debat capres di TV punya dua tujuan, pertama agar orang berbalik mendukung, dari A ke B, dari B ke A, atau yang tadinya golput jadi punya pilihan; kedua, untuk tahu visi misi paslon. Namun, menyangkut ratingnya yang kalah dari sinetron ada banyak faktor penyebabnya.

Mungkin orang sudah il-feel (hilang feeling), jadi nggak nonton debat kemarin. Mungkin juga terbawa opini orang lain debatnya membosankan. Ada yang merasa cukup menonton dari timeline medsos, baik Facebook atau Twitter.

Atau juga seperti analogi ini: tren film horor pocong-pocongan yang sudah terlalu banyak, akhirnya orang bosan dan ogah nonton. Lalu banyak juga orang yang sufah bosan dengan berita politik dan memilih nonton TV berlangganan atau layanan streaming. Sedangkan yang memilih nonton sinetron tak ingin ketinggalan ceritanya.

Ada pula yang beranggapan debat takkan mengubah keadaan maupun takkan mengubah pilihan politik yang sudah dibuat. Nggak peduli mau ngomong apa di debat, ya tetap dibela. Yang nggak ngomong saat debat juga dibela.

Tujuan dari debat kemarin juga disebarkan ke sebanyak mungkin khalayak. Itu sebabnya tidak hanya diputar di satu TV, tapi juga ada di streaming internet dll. Jadi penontonnya tersebar di berbagai platform. Rating TV tak bisa jadi satu-satunya ukuran.

Bagi paslon capres-cawapres yang ingin menggaet kelas penonton sinetron bisa pilih cara tampil di program TV yang mereka tonton. Misalnya bila Kick Andy atau Mata Najwa dianggap untuk kelas menengah ke atas, maka bisa pilih talk show yang ditonton kalangan menengah ke bawah. Misalnya di NET TV ada talk show Andre dan Sule, mungkin bisa datang ke situ.

Untuk kalangan grass root juga tak penting analisis pasca-debat. Buat mereka yang sudah menentukan pilihan yang penting apa jagoannya bisa mengalahkan lawan atau tidak. Buat Cebonger (sebutan pendukung Jokowi) dan Kampreter (pendukung Prabowo), masing-masing merasa menang dan pihak lawan kalah.

Jadi nonton debat seperti menonton tim sepakbola kesayangannya main. Masing-masing pihak menonton untuk menunjukkan dukungan. Lalu ada juga yang merasa tak perlu nonton karena apapun hasilnya tak berpengaruh buat pilihan mereka. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri