Saling Cerca di Medsos Pasca Pilpres Gejala Apa?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 25 April 2019 09:00
Watyutink.com - Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Seluruh masyarakat Indonesia pasti akan turut bergabung dalam keseruan pesta demokrasi yang diselenggarakan setiap jelang pemilihan umum. Namun siapa sangka jika dalam pesta demokrasi kali ini, masyarakat Indonesia justru terpecah belah dan saling beradu argumen negatif melalui media sosial untuk membela capres dan cawapres pilihannya.

Tak sedikit juga pendukung dari kubu 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, dengan pendukung dari kubu 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, yang saling sindir menyindir dengan kata-kata kasar di media sosial. Bahkan perpecahan itu terasa hingga Pemilu 2019 selesai digelar. Pertanyaannya, mengapa pesta demokrasi yang seharusnya dirayakan dengan penuh kegembiraan justru menimbulkan perpecahan?

Fenomena terbelahnya masyarakat Indonesia karena pilpres kali ini bahkan bisa berujung bui. Seperti kasus Ahmad Dhani misalnya, yang saat ini tengah menjalani masa tahanan di Jawa Timur setelah mengucapkan kata 'idiot' dalam vlognya yang ditujukan oleh kelompok gerakan anti #2019GantiPresiden, pasca ia diusir saat hendak mendeklarasikan #2019GantiPresiden.

Atas ucapannya, Dhani kemudian dilaporkan oleh aktivis Koalisi Bela NKRI ke Polda Jatim atas kasus pencemaran nama baik. Lalu ia dijerat dengan Pasal 45 Ayat 3 juncto Pasal 27 Ayat (3) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang UU ITE.

Setelah Ahmad dhani mendekam dipenjara, kini giliran istri dari pelawak Andre Taulany, Erin Taulany, yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh seorang pengacara bernama Muhammad Firdaus Oiwobo, karena dianggap telah menghina Capres Prabowo Subianto. Dalam postingannya di insta story instagram, Erin secara terang-terangan mengatakan 'Prabowo Gila', disertai foto Prabowo yang tengah mendeklarasikan kemenangan pada 20 April lalu.

Tak hanya publik figur, masyarakat pun juga turut saling mengolok capres dan cawapres yang bukan merupakan pilihannya. Mirisnya, hal itu masih terjadi hingga kini, walaupun Pilpres telah selesai diselenggarakan. Apakah fenomena semacam ini akan berlangsung panjang dan berbuntut pada keributan? Lalu, apakah kebiasaan saling olok dan bullying semacam ini telah membudaya?

Ada ajaran jawa yang mengatakan menang tanpa ngasorake, menang tanpa menghina lawan. Inilah filosofi yang tidak merendahkan lawan, tetapi kalau perlu merangkul dan bersinergi menyatukan potensi-potensi terbaik anak negri, baik kawan maupun lawan, untuk kejayaan Indonesia. Indonesia Raya. Lantas, mengapa budaya seperti ini ditinggalkan masyarakat Indonesia?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Pilpres dan Pemilu Indonesia yang kita sebut sebagai pesta demokrasi ini dirayakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dengan penuh suka cita, sebagaimana layaknya pesta-pesta yang dirayakan selama ini. Apalagi ini adalah pesta demokrasi yang melibatkan ratusan juta rakyat Indonesia, maka dapat dipastikan sangat semarak. Apa yang membuat semarak bukan saja karena melibatkan jutaan rakyat Indonesia, tetapi juga tercatat sebagai pesta termahal.

Bahkan semakin mahal nilai pengorbanan anak bangsa ini karena pada pesta pilpres dan pemilu kali ini, tercatat sebanyak 119 KPPS dan 33 pengawas meninggal serta 548 orang sakit karena lelah dalam melaksanakan prosesi pilpres dan pemilu legislatif. Sungguh tak terbayangkan bagaimana mahalnya pilpres dan pileg ini.

Maka, idealnya begitu mahal dan besarnya pengorbanan rakyat, bahkan yang termahal, terbesar dan sangat melelahkan, kita selayaknya mendapatkan hasil yang berkualitas. Kualitas yang seimbang dengan kuantitas biaya, kuantitas pemilih dan penyelenggara serta kuantitas tenaga yang sudah dikeluarkan. Namun apa daya, Pilpres dan Pileg kali ini, tampaknya tidak seperti yang kita harapkan. Banyak sekali permasalahan yang menyelimuti pesta demokrasi ini, mulai dari awal hingga pada pasca pemilihan yang begitu hiruk pikuk.

Hiruk pikuk, sebenarnya adalah hal yang biasa dalam sebuah pesta, namun ketika pesta demokrasi sarat dengan kekisruhan yang bisa kita sebut sebagai kegaduhan yang terjadi di semua level di dunia nyata dan dunia maya, kgaduhan yang saling silang, artinya kegaduhan di dunia nyata dibawa ke dunia maya dan sebaliknya.

Bukan hanya gaduh, tetapi juga menjadi arena perseteruan yang sengit, penuh caci maki yang berkepanjangan. Buktinya, pasca Pilpres dan Pileg, saling cerca dan caci maki yang penuh dengan saling benci  baik langsung, maupun lewat media, terutama di media sosial (medsos). Persoalannya kecil, karena pilihan berbeda. Padahal, berbeda itu memang pasti ada dalam pilihan. Akan tetapi karena sikap dan perilaku pemilih dan yang dipilih tidak legowo, tidak mau menerima kekalahan, maka masing-masing kubu, mempertaruhkan segalanya.

Hal ini semakin buruk, karena sikap fanatisme buta di setiap kubu sangat dominan.  Akibatnya, kini masyarakat dengan mudah menyampaikan segala uneg-uneg, aspirasi yang sangat mudah dan cepat adalah melalui media sosial yang isinya bukan hanya yang benar, tetapi juga segala macam kebohongan dan kecurangan.

Hal yang sangat disesalkan dan membuat legitimasi rendahnya dan buruknya kualitas Pilpres saat ini adalah sikap buruk dari masing-masing sikap fanaitik buta terhadap calon yang diusung dan pendukung kedua kubu yang sedang berebut kekuasaan. Sebagaimana digambarkan oleh Galuh Ratnatika di laman ini,” tak sedikit juga pendukung dari kubu 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, dengan pendukung dari kubu 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, yang saling sindir menyindir dengan kata-kata kasar di media sosial. Bahkan perpecahan itu terasa hingga Pemilu 2019 selesai digelar. Jadi, bukan mustahil, kalau Pilpres yang seharusnya mempersatukan bangsa, berbalik menjadi pemecah belah anak bangsa. Sangat berbahaya bukan?

Ya, sangat membahayakan bagi bangsa ini, ketika kedua belah pihak atau kubu tidak menjaga dan meredakan segala cerca dan caci maki di media sosial yang masih terus berlansung. Kita akan melihat semakin banyak korban politik yang akan masuk ke hotel prodeo, karena terjerat UU ITE.

Selain itu, Semua ini merupakan gejala dan preseden buruk bagi bangsa ini. Perilaku yang demikian membuktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang masih terbelakang, masih belum dewasa dalam berdemokrasi. Jangan sampai orang menyorak bangsa kita sebagai bangsa yang tidak berbudaya dan kurang beradab. Semoga kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden beserta pendukungnya, lebih mengutamakan kepentingan bangsa dari pada nafsu berkuasa. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu