Sebut Gempa dan Tsunami karena Azab, Patutkah Buat Korban?
berita
Humaniora
Sumber Foto : BBC.com (gie/watyutink.com) 22 October 2018 17:00
Setiap terjadi bencana alam dahsyat yang merenggut banyak nyawa, sejumlah orang kerap mengaitkannya dengan azab dari Tuhan. Tidak terkecuali bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala. 

Di media sosial dan jejaring percakapan online muncul kabar bencana alam di Sulawesi Tengah terjadi akibat Tuhan tak merestui Festival Palu Nomoni yang berlangsung di Palu. Di festival itu berlangsung acara ritual balia yang aslinya biasa dilakukan suku Kaili. 

Ritual balia lahir dari tradisi penganut animisme dan dinamisme penduduk sana sebelum Islam datang. Tujuannya untuk mengusir penyakit. Ritual balia rutin dilangsungkan di Festival Palu Nomoni sejak 2016. Bagi sebagian orang ritual itu tak dianggap pelestarian budaya dan tradisi lokal, melainkan praktik syirik dan sebagai balasannya Tuhan mendatangkan azab berupa gempa dan tsunami.

Tidak hanya itu, ada juga yang menyebar foto rumah-rumah korban gempa yang terkubur lumpur dengan menyamakan kejadian di Sodom dan Gomorrah. Di sini lagi-lagi, korban disamakan penduduk Sodom dan Gomorrah yang karena amoral lantas dilaknat Tuhan. 

Kita bisa pahami, ajaran agama memang menyuratkan sejumlah bencana alam ditimpakan pada manusia karena azab Tuhan. Namun, bagaimana kita bisa menjelaskan dengan sahih gempa kemarin azab dari Tuhan pula? Adakah otoritas berwenang yang bisa menentukan hal itu? 

Gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah bisa dijelaskan dengan gamblang oleh sains. Gempa terjadi karena pergerekan lempeng tektonik bumi. Pulau Sulawesi berada di persimpangan Lempeng Pasifik, Hindia Australia, dan Eurasia.

Lempeng-lempeng ini bisa bergerak kapan saja. Artinya, penduduk di sana berdiri di daerah rawan gempa. Sedangkan tsunami dipicu longsong bawah laut. Sementara itu, lumpur yang membenamkan seluruh kampung dinamakan likuifaksi. Ini proses geologi akibat gempa saat tanah bercampur dengan air bawah tanah hingga menjadi lumpur dan membuatnya kehilangan daya. 

Pertanyaan utamanya kemudian, patutkah bila korban gempa dan tsunami di Sulteng karena Tuhan telah menghukum mereka? Tegakah kita menyebut kampung yang terdampak likuifaksi karena perilaku amoral penduduknya? 

Korban di Palu, Sigi dan Donggala adalah saudara sebangsa kita. Mereka kehilangan sanak saudara dan harta benda. Mata pencaharian dan masa depan penghidupan mereka seketika jadi suram. Lantas, apa kita harus menambah beban pikiran mereka dengan cap penista yang diazab Tuhan?

Di sini sebetulnya yang diuji bukan hanya para korban di Sulteng, Lombok atau di lokasi bencana manapun. Takdir Tuhan tak bisa ditolak. Bencana, dalam beragam bentuknya, bisa menimpa siapa saja. Kemarin saudara-saudara kita di Lombok dan Palu. Esok bisa jadi menimpa kita. Yang harus ditekankan sebetulnya pencegahan bencana. Alih-alih menyebut korban diazab Tuhan, bukankah kita sebaiknya mengedepankan aspek mitigasi?

Sejatinya, peringatan-peringatan yang termaktub di kitab suci adalah ajakan untuk taat beribadah dan tak berlaku amoral. Bila kita tertimpa musibah, bukankah itu justru jadi momen kita berefleksi dan mohon ampun Yang Maha Kuasa? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Sebetulnya, masalah ini sudah sering dibahas dengan menyajikan sanggahan yang logis dan berdasarkan ilmu pengetahuan. Masalahnya kan ada juga yang tidak mempercayai dalil aqli (logika dan pengetahuan) karena dianggap ada dalil naqli (teks agama) yang berbeda. Sebenarnya tidak berbeda, tapi okelah. Kita sekarang memakai cara berpikir agama.

Di dalam Islam memang ada sejumlah teks yang menyatakan bahwa sejumlah musibah muncul sebagai teguran atau hukuman dari Allah SWT. Tapi, di teks lainnya juga ada yang mengatakan bahwa musibah adalah ujian. Dalam sejumlah teks juga dapat disimpulkan bahwa hukuman itu ditujukan kepada pendosa, sedang ujian sebaliknya, ditujukan kepada orang-orang baik.

Permasalahannya adalah, kita tidak tahu mana musibah sebagai ujian dan mana musibah sebagai hukuman. Tidak ada ciri atau tanda yang membedakannya. Hanya Allah yang berhak mengklaim sebab di balik musibah. Bukan kita, kecuali kita mendapat wahyu dari Allah. Dan itu tidak mungkin, karena sudah tidak ada manusia yang mendapat wahyu lagi saat ini.

Karenanya, untuk mereka yang mengatakan bahwa musibah di Lombok atau Palu terjadi sebagai hukuman dari Allah, kita perlu tanya ke mereka, bagaimana bisa tahu? Bagaimana mereka bisa meyakini bahwa ini adalah hukuman, bukan ujian?

Kesimpulan bahwa musibah itu adalah hukuman kan muncul dari asumsi. Oh, karena di sini ada maksiat, maka muncul musibah. Asumsi ini bisa benar bisa salah. 

Jangan menduga sesuatu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, nanti malah dosa. Karena, dengan menetapkan bahwa musibah yang terjadi itu adalah hukuman, maka kita telah menuduh orang-orang yang terkena musibah sebagai orang yang berdosa. Setidaknya, di daerah itu banyak orang berdosa. Padahal kita tahu, Aceh, Lombok, dan Palu adalah tempat-tempat di mana penduduknya amat relegius. Setidaknya lebih religius dibanding beberapa daerah lain.

Jadi, segeralah bertobat karena telah menuduh saudara-saudara kita di Palu dan Lombok dengan tuduhan yang kejam. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri