Setuju Tidak Setuju Seni Tradisional Dipakai Ngamen
berita
Humaniora
03 September 2017 00:00
Belakangan, menemukan ondel-ondel di Jabotabek tak harus menunggu hajatan pernikahan atau acara adat Betawi. Iringan ondel-ondel makin gampang dilihat. Mereka mengamen di jalanan. Dimainkan para remaja tanggung, kelompok ini meminta uang ke pemilik toko pinggir jalan atau pengendara kendaraan.

Di tempat lain, biasanya di daerah mayoritas Tionghoa, yang terlihat bukan ondel-ondel, tapi rombongan barongsai. Jadi tidak perlu menanti Imlek atau perayaan Cap Go Meh. Sebetulnya tak hanya dua itu saja. Sejumlah seni tradisional lain juga dipakai mengamen.

Lalu, apakah ini upaya baru mengenalkan seni tradisi kepada generasi penerus? Atau sebaliknya, malah berpotensi menodai tradisi budaya tersebut?

Di masa lalu, ondel-ondel dipakai sebagai penolak bala dan diarak keliling kampung. Ondel-ondel dipercaya personifikasi nenek moyang untuk mengusir gangguan roh halus. Pun dengan barongsai. Kesenian Tionghoa itu memiliki nilai sakral, hanya dapat dimainkan di momen seperti peresmian toko, perayaan Imlek, atau acara resmi lain.    

Di masa Orde Baru, pertunjukan barongsai berlangsung sembunyi-sembunyi. Sejak era Gus Dur barongsai bebas beraksi. Namun, mengapa kini kebablasan dipakai mengamen? Apa ini cara mencari uang, lantaran order barongsai hanya ramai di masa  Imlek? 

Hal senada juga bisa kita tanyakan menyangkut ondel-ondel. Bisa jadi kini jarang ondel-ondel dipertontonkan di acara masyarakat Betawi. Di lain pihak pelaku kesenian ondel-ondel butuh penghidupan. Salahkah cara bertahan hidup seperti ini? 

Yang kerap terlihat di jalanan, ondel-ondel terlihat kusam, lantaran terlalu sering kena debu dan asap knalpot. Sementara itu pengaraknya tak kalah kusam, dekil, pakai jins belel, dan beberapa bertato. Beginikah cara mulia melestarikan kesenian ondel-ondel? Jangan-jangan ini hanya "karyawan" para bos pemilik boneka ondel-ondel yang mempekerjakan remaja tanggung mencari uang dengan mengamen? Artinya, ini tak ada urusannya dengan pelestarian budaya, tapi murni ekonomi. Elokkah cara-cara semacam ini? 

Kita wajib bertanya, ke mana pemerintah? Apakah pelaku kesenian tradisional kita akan dibiarkan mencari uang dengan mengamen? Perlukah mereka ditertibkan? Perlukah dibuat payung hukum untuk melindungi kesakralan kesenian tradisional kita?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Aktivis kebudayaan Betawi

Kesenian tradisional ondel-ondel telah ada sejak zaman pra-Islam, zaman kerajaan Hindu-Buddha. Waktu itu ondel-ondel diarak keliling kampung, sebagai bagian dari acara sedekah bumi (baritan). Biasanya sebagai penolak bala dalam acara sedekah bumi untuk persembahan bagi Dewi Sri, dewi padi. Kesenian itu berlangsung terus hingga ke zaman Islam.

Sebagai penolak bala, ondel-ondel dipertunjukan sebagai pertunjukan luar ruang bila ada wabah di suatu kampung, misalnya di kampung itu terdapat wabah muntaber atau cacar. Biasanya, kepala kampung memanggil orang yang dituakan pemilik kesenian ondel-ondel untuk keliling kampung, agar wabah penyakit pergi. Ada upacara ngukup, pembakaran kemenyan, serta pembacaan mantra. Mantra-mantra yang diucapkan tak ada hubungannya dengan Islam, tapi setelah Islam masuk mantranya diubah jadi doa-doa. 

Sebetulnya, di zaman kolonial Belanda, kesenian tradisional diberi ruang untuk mengamen. Bahkan mereka dikenakan pajak, yang jadi pendapatan asli daerah kota Batavia. Dari foto-foto lama, misalnya, terlihat saat acara peletakan batu pertama gedung yang kini jadi Museum Bank Mandiri di kawasan kota tua dahulu ada arak-arakan pakai ondel-ondel, istilahnya "barung" atau "barungan", bahasa Betawi lama yang berarti rombongan, membawa kepala kerbau, yang dikatakan sebagai memberi "gratifikasi" pada makhluk halus. Waktu itu, orang-orang Belanda juga percaya pada kepercayaan gaib begitu.  

Namun, kalau menengok ondel-ondel dipakai mengamen sekarang yang bikin miris itu caranya. Mereka tak pakai aturan. Yang saya tidak setuju, pertama, pengamen berpenampilan dekil dan urakan, berpakaian sobek-sobek,pakai anting-anting. Kedua, kurang menghargai keselamatan jiwa, karena mereka ngamen di jalan raya; ketiga, tidak menghargai orang lain, pengendara mobil atau kendaraan umum di jalan raya dan berdampak macet. Di sini termasuk tidak tahu adat sopan santun pada waktu-waktu tertentu. Misalnya ketika ngamen di kawasan perkampungan, saat azan apakah Asar, Maghrib, atau Isya mereka terus ngamen.        

Saya mensinyalir ada oknum tertentu yang memanfaatkan ondel-ondel. Misalnya, oknum ini melihat ada peluang ekonomi mengamen dari ondel-ondel, maka ia beli beberapa pasang, dan harganya tak mahal (Rp5 jutaan sepasang), lalu merekrut pemuda tanggung jadi pengamen ondel-ondel. Sewaktu pengamen ondel-ondel marak, saya kumpulkan sanggar-sanggar binaan kami. Ada 12 sanggar yang dibina Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan semua bilang, "Bukan, Bang, itu (yang ngamen) bukan kami." Sampai tahun 2010-an, yang pengamen ondel-ondel masyarakat Betawi. Masih pakai musik asli. Tapi ke sini-sini bukan asli Betawi. Dan mereka tak pakai rekaman kaset. Itu yang saya tentang. 

Jadi, saya mengusulkan kepada Pemerintah Daerah membina mereka. Dengan cara diberi dana pembinaan yang saya namakan program BOS (Biaya Operasional Sanggar). Nggak besar. Cukup Rp1 juta saja sebulan. Mereka yang ngamen ini kita rangkul. Kita didik, beritahu aturan pertunjukan ondel-ondel seperti apa. Sebab, kalau misalnya ditertibkan, ondel-ondeknya direbut paksa lalu dibakar, itu melanggar HAM. Yang penting harus kita bina mereka. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior, Pengamat Budaya

Melihat fenomena seni tradisional dipakai mengamen, saya melihatnya bangsa kita mentalnya jadi pengemis. Artinya, semua cara dilakukan demi mengemis. Para pelakunya ini tidak memikirkan melestarikan kesenian dan lain-lain.

Saya tinggal di Ciawi, Bogor di mana setiap kali saya pulang ke rumah di saat weekend, saya melewati simpang Ciawi-Gadog, tempat perlintasan orang Jakarta ke Puncak, para weekender. Begitu ada keramaian kendaraan macet dan lain-lain, "pengemis" yang telah jadi mental sebagian besar bangsa kita, luar biasa banyaknya--dengan berbagai modus.

Berbagai modus itu artinya mereka benar-benar mengemis. Ada kaum difabel (cacat tubuh) yang sebenarnya membahayakan diri sendiri, banyak juga laki-laki usia produktif yang berjualan makanan. Sebenarnya kan itu ada perdanya. Itu dilarang kan? Lalu ada juga pengamen yang bergaya punk. Macam-macam. Termasuk boneka, badut, ondel-ondel, maupun kuda lumping adalah varian itu semua.

Nah, ketika ondel-ondel, kuda lumping, atau barongsai dipakai mengamen, itu justru memerosotkan gengsi kesenian kita. Harusnya itu dilarang, menurut saya. Jangankan kesenian kita, kalau misalnya bosnya Walt Disney ke Indonesia dan di perempatan ia melihat ikon-ikon milik Disney seperti Mickey Mouse, Goofy, sampai Donald Bebek dipakai menari-nari di tengah jalan sambil ngemis, mereka bisa mencak-mencak.

Dan kalau soal mengemis ini bukan ranah kebudayaan. Ini ranahnya dinas sosial. Yang harus bertindak Dinas Sosial di masing-masing daerah. Ini penyakit sosial. Sebagai penyakit sosial untuk teknis operasionalnya sudah ada perda memberantas gepeng (gelandangan dan pengemis), ya pakai itu saja. Instrumen hukumnya sudah ada. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Aktivis Mahasiswa, Pelaku Bisnis sekaligus Pemerhati Sosial Budaya Nusantara

Fenomena pengamen jalanan yang terjadi pada kesenian tradisional sontak membuka memori kolektif masa lalu atas apa yang pernah disampaikan oleh Presiden Soekarno dalam Pidato Trisakti tahun 1963, yaitu berdaulat secara poltik, berdikari secara ekonomi, berkepribadian dalam budaya.  

Ketiga prinsip yang menjadi alat ukur sejauh mana cita- cita kemerdekaan bangsa Indonesia mampu diwujudkan, sudah cukup untuk menjadi pisau bedah atas fenomena pengamen ondel-ondel yang termarjinalkan di tengah lalu lalang dan ingar bingar ibu kota. Nasib kesenian-kesenian tradisional di sejumlah daerah juga bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak hendak. Banyak kesenian tradisional yang sudah sangat jarang dipentaskan bahkan terancam punah. Lenong, Ketoprak, Ludruk, Arja, Kondobuleng, Dul Muluk, Ronggeng Gunung, Talempong Ungan, Gandai, Tupai Janjang, Gendang Gugun, Angklung Badun. Di ibu kota Jakarta dimana ondel-ondel berstatus sebagai putra daerah saja nasibnya sungguh nestapa, memilukan, dan terlunta-lunta, Jawa Barat yang letaknya hanya sepeminuman teh dari Jakarta ternyata tak kurang dari 43 jenis kesenian tradisionalnya terancam punah. Tak terbayang entah bagaimana nasib yang menimpa kesenian tradisonal di daerah yang letaknya jauh dari perhatian pemerintah pusat.

Situasi ini secara faktual telah menunjukkan hilangnya kepribadian dalam kebudayaan nasional yang berbasis pada lokalitas tradisi yang menjadi akar dari nilai-nilai perikehidupan bertanah air, berbangsa, dan bernegara. Seni sebagai salah satu ekspresi budaya adalah buah karya dari percumbuan antara budi, cipta, rasa, karsa, dan kuasa dari peradaban suatu kaum yang berpadan dengan tata ciri dan tata cara dari semesta alam dimana dia tinggal hidup.

Kemampuan suatu kaum dalam menghidupi dirinya secara berdikari juga ditentukan oleh kemurahan hati alam dimana mereka hidup. Semakin alam bermurah hati, semakin tinggi pula rasa puja dan puji syukur atas kemudahan dan keberlimpahan alam yang diterima oleh suatu kaum sehingga mampu melahirkan karya seni yang bercita rasa tinggi di tengah kemewahan waktu yang terluang.

Kemampuan berdikari secara ekonomi inilah yang mampu membentuk suatu kaum yang merdeka secara ekonomi tanpa menggantungkan hidup dari pihak luar. Kemerdekaan ekonomi yang dicapai akan menciptakan daulat politik sebagai sebuah negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Fakta di lapangan jutru seperti menjauh dari apa yang dimaksud dengan ekonomi berdikari. Pembangunan infarstruktur yang dibiayai oleh utang dan pinjaman luar negeri tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa kebutuhan ekonomi berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan masih diimpor dari luar negeri di tengah eksploitasi terhadap berbagai kekayaan alam baik, laut, hutan dan tambang yang dilakukan oleh pihak asing tanpa seizin pemilik tanah air Indonesia.

Oleh sebab itu, bencana peradaban yang menimpa kesenian tradisional akibat terjadinya perkosaan dan pelecehan tradisi seperti halnya yang menimpa kesenian ondel-ondel hingga akhirnya hidup sebagai pengamen jalanan. Bahkan banyak kesenian tradisional di daerah lain yang terancam punah semestinya sejak jauh hari dapat dijadikan early warning signals atas berlangsungnya penyimpangan bahkan penghianatan secara masif, sistematis, dan terstruktur terhadap cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.

Tak heran bangsa Indonesia hingga kini ternyata masih menjadi "Een natie van koelies en een koelie onder de naties." (jim)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FX Sugiyanto, Prof.

Guru Besar Universitas Diponegoro

FOLLOW US

Pengusaha Harus Aktif Lobi AS             Kematian Petugas KPPS Tidak Ada Yang Aneh             Memerangi Narkoba Tanggung Jawab Semua Pihak             Pendekatan yang 'Teenager Friendly'             Pendampingan Tiga Tungku             Perda Dulu Baru IMB             Kelalaian Negara dalam Misi Kemanusiaan             Kematian Petugas Medis; Pemerintah Harus Berbenah             Daerah Terpencil Sebagai Indikator Keberhasilan             Resiko Petugas Sosial