Stand-Up Comedy Mencari Batasan Lelucon dan Penistaan Agama
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 03 November 2018 12:00
Di Amerika, apapun bisa dijadikan bahan lelucon. Mulai dari presiden, agama, hingga Tuhan. Saban hari, Presiden Donald Trump jadi bahan ejekan di acara bincang malam (late night show) oleh host yang notabene komedian. Tidak demikian di sini. Presiden Jokowi tak pernah jadi bahan lelucon di televisi. Apalagi
lelucon soal agama dan Tuhan. Tabu itu dicoba ditembus oleh dua stand-up comedian Tretan Muslim dan Coki Pardede. 

Bukan di televisi, tentu. Tapi lewat vlog (video blog) di Youtube. Lewat vlog-vlog di channel MLI (Majelis Lucu Indonesia--ah, namanya seperti mempelesetkan MUI, kan?) keduanya--yang satu beragama Islam, satu lagi Kristen--membahas hal-hal yang menyerempet tabu agama. 

Semuanya baik-baik saja sampai sebuah kegaduhan terjadi pekan ini. Di saluran vlog yang lain (bukan MLI, tapi saluran masak-memasak nyeleneh milik Tretan Muslim), muncul postingan memasak babi dengan air sari kurma. Di video tampak keduanya bertanya dengan kelakar: "Apa babinya jadi halal karena dicampur kurma? Atau air kurmanya jadi haram karena dicampur daging babi?" Setelah masakan jadi, Coki yang non-Muslim menyantap masakan yang dinamai puding kurma babi itu. Tretan tidak makan.     

Video tersebut oleh banyak netizen dianggap telah melanggar batas. Keduanya dituduh telah menista agama Islam. Setelah ramai di dunia maya, Selasa (30/10/2018) kemarin, Coki dan Tretan muncul di saluran Youtube MLI meminta maaf sambil pamitan. Mereka mundur dari vlog komedi tersebut. Mereka mengatakan sentimen negatif terhadap keduanya berdampak buruk pada saluran komedi itu, serta keluarga dekat. Masalahnya, apa persoalan ini selesai dengan minta maaf dan pamit? 

Setiap masyarakat punya batasan lucu masing-masing. Di Amerika, presiden, agama dan Tuhan bisa diolok-olok. Namun, soal sentimen rasisme bisa menimbulkan masalah. Belum lama ini, pembaca berita Megyn Kelly dipecat dari stasiun TV NBC lantaran pasang foto di medsos mengecat hitam mukanya bak orang Afrika-Amerika. O iya, jangan sekali-sekali juga membuat lelucon yang menyinggung Yahudi atau membuat kesan Hitler sosok pahlawan. Karier bisa hancur. 

Beda di Indonesia, saban malam Jumat, orang sering berkelakar mengutip hadits yang diragukan keotentikannya: "Mau sunah Rasul membunuh 1000 Yahudi." Lantas, apa kontroversi Tretan dan Coki ini bukti bahwa yang lucu di negeri seberang tak bisa jadi bahan candaan di sini?   

Yang menarik juga ditelisik, bila sudah tahu tembok isu SARA itu tak bisa ditembus, kenapa masih mencoba membobolnya? Di tengah masyarakat yang kian terpolarisasi dan terbelah, bukankah hal ini seperti menyiram api dengan bensin? 

Sebetulnya, di Indonesia, agama selalu jadi bahan bercandaan tanpa menimbulkan masalah. Namun forumnya bukan di acara stand-up comedy dan dilakukan pelawak. Tapi oleh ustad di mimbar dakwah yang dihadiri banyak jamaah. Tengok saja ceramah ustad-ustad dari mulai almarhum KH Zainuddin MZ hingga Ustad Abdul Somad, setengah dari isi ceramahanya mengundang orang tertawa. Tapi, kenapa yang disampaikan da'i tak menimbulkan masalah? Apa menjadikan agama materi yang mengundang tawa hak eksklusif ustad semata? 

Tentu ada yang berdalih, ustad menjadikan materi agama bahan tertawaan demi nasihatnya mudah dicerna audiens. Bila melulu disodori kutipan ayat, bakal bikin ngantuk yang ujungnya nasihat tak sampai. Sementara itu, pelawak tak punya misi dakwah. Tujuan melawak ya melucu, lain tidak.       

Sampai di sini, kita jadi bertanya apakah pelawak harus jadi ustad dahulu baru boleh membuat agama bahan lelucon, dan ustad disuruh jadi komedian agar terkungkung batasan tabu agama?  

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Budaya

Apaan sih yang dimaksud penistaan agama? Lalu, apakah yang dilakukan dua stand-up comedian yang membuat vlog Puding Kurma Babi itu termasuk penistaan agama? 

Sebelum ke masalah itu, saya ingin memgomentari bagian artikel di atas yang bilang bercanda soal agama hanya monopoli kaum agamawan seperti ustad atau kiai. Itu tak sepenuhnya betul. Lawakan Cak Lontong dan Panji Pragiwaksono, misalnya, beberapa ada yang menyinggung soal isu agama. Jadi tak betul hanya kiai atau ustad yang dibolehkan menjadikan agama bahan lelucon. 

Masalahya, di Indonesia, apa yang dimaksud materi isu agama diidentikkan hanya menyangkut agama Islam. Yang menyebabkan sering jadi masalah adalah kebangkitan fundamentalisme yang kian sensitif pada isu agama. 

Sebetulnya lagi, sensitivitas agama ini tak hanya dimonopoli kaum fundamentalis Islam. Di semua agama fenomena ini juga ada. Saya pernah menemukan anak-anak muda Buddha memiliki pandangan fundamentalis seperti umat Islam. Mereka juga menolak agama mereka dijadikan bahan bercandaan. 

Artinya, saat ini terjadi ketegangan orang dalam beragama. Meminjam terminologi relaksasi beragama, orang kini tidak rileks dalam menjalankan agamanya. Pandangan semacam itu yang akhirnya menimbulkan anggapan membecandai agama menjadi hak eksklusif tokoh agamawan seperti da'i, kiai atau ustad. 

Terkait konten vlog Puding Kurma Babi, buat saya konten itu tidak lucu. Yang saya lihat dari videonya, mereka sengaja ingin meledek, sengaja sekadar ingin menjungkir balik tabu. Lalu, bila mereka sengaja meledek apakah kita jadi sah melakukan persekusi terhadap mereka? Menurut saya, dari segi moral itu juga tidak bisa dibenarkan. Sedangkan bila dari segi hukum saya tak tahu, karena saya bukan ahli hukum. 

Buat saya mereka tidak lucu karena hanya membuat humor yang tujuannya ingin merendahakn dan menghina. Namun, seperti ketika penembakan di majalah Charlie Hebdo yang memuat karikatur Nabi Muhammad, bukan berarti kedua komedian ini boleh dipersekusi.

Namun, di lain pihak, bukan berarti juga mentang-mentang komedian jadi segala tabu boleh didobrak. Semua boleh jadi bahan lucu-lucuan. Kan tidak begitu juga? 

Pada titik ini, buat saya baik komedian dan masyarakatnya sama-sama belum siap. Komediannya belum mengerjakan pekerjaan rumah (PR) soal konsep komedi yang cocok untuk dicerna masyarakat Indonesia. Di lain pihak reaksi masyarakatnya juga berlebihan. Buat saya, melucu itu tidak boleh mengorbankan akal sehat. Kalau sengaja bikin materi untuk membuat orang marah untuk apa? Apakah itu yang dinamakan sikap critical

Saya pernah jadi juri sebuah lomba stand-up comedy. Dan saya menikmati stand-up comedy sejak dulu, sebelum jadi sub kultur di Indonesia. Saya pernah tanya pada Raditya Dika ketika ia baru mulai menekuni stand-up comedy, "Radit, menurut kamu stand-up comedy ada akarnya nggak sih, di Indonesia?" Radit jawab tak tahu. 

Ketaktahuan itu menunjukkan stand-up comedy yang jadi sub kultur baru saat ini tak berakar di sini, melainkan pada komedi Amerika dan Inggris. Di Amerika, akar komedinya memang lawakan tunggal atau stand-up comedy. Nah, ketika tak berakar di sini apakah kita bisa mencangkok mentah-mentah objek apa yang lucu dan tidak di sana lalu memindahkannya ke sini? 

Saya orang yang menyukai humor. Apa yang lucu menurut saya harus menarik sejak tahapan konsep. Saya tidak memandang rendah komedi dalam segi bentuk. Komedi slapstick pun bisa sangat lucu buat saya. Slapstick yang tidak lucu itu ketika orang asal jatuh atau dipukul sesuatu. Tapi yang lucu itu misalnya saat Charlie Chaplin terjatuh ketika ia menggoda seorang cewek. Karena kita merasa relate dengan peristiwa itu. (ade)    

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri