Wajah Pendidikan di Pegunungan Tengah Papua
berita
Humaniora

Sumber Foto: puncakjaya.go.id

15 January 2018 17:00
Penulis
Di bawah terik matahari yang menyengat, anak-anak remaja sekolah (SMU dan SMP) di desa Waga-Waga, Distrik Kurulu, Wamena, berjalan pulang. Tas ransel menggantung di tubuh mereka, dan para remaja lelaki itu menggenggam parang panjang. Senjata tajam yang menyerupai samurai.

Siswa kelas 3 IPS, SMA Kurulu bernama Juli Marian (17), juga membawa parang di tangan kanannya. Anak-anak Papua yang hidup di pelosok desa harus berjalan kaki berpuluh kilometer untuk mencapai sekolah. Seperti Juli Marian, setiap pagi jam 6.00 WIT berjalan sejauh 10 kilometer ke sekolah, tanpa pernah sarapan pagi, tidak membawa bekal makanan atau uang saku. Ketika pulang sekolah, dia langsung bekerja di ladang hingga sore.

Anak-anak sekolah di Distrik Kurulu masih lebih baik kondisinya, tenaga pengajar (guru) tersedia. Berbeda dengan di Distrik Napua, anak-anak sekolah pulang lebih awal selama 7 hari berturut-turut. “Aduh, Bapak Guru tidak masuk sekolah lagi, tidak ada guru yang mengajar. Sudah jauh-jauh jalan ke sekolah, “keluh Romince (12).

Di Kota Wamena, guru-guru pun tidak memiliki buku materi pengajaran yang sesuai kurikulum baru, apalagi teknologi internet di sekolah. “Materi mengajar kami download  e-book dari website Kemendikbud. Harus pergi ke kantor kabupaten untuk mencari akses wifi, “ungkap Theresia, Kepala Sekolah YPPK St. Thomas Wamena.

Berbeda jauh dengan kondisi pendidikan di Jakarta, akses pada buku dan teknologi digital sangat mudah. Fasilitas sekolah lengkap dengan bangunan permanen yang megah. Bantuan pendidikan sekolah seperti KJP juga rutin diterima siswa tidak mampu. Meski berasal dari keluarga sederhana, anak-anak sekolah di Jakarta selalu menikmati sarapan pagi dan membawa uang saku.

Anak-anak sekolah di Jakarta, tidak harus berkeringat untuk bekerja-- sepulang sekolah. Tetapi justru kemudahan itu tidak disyukuri, sebagian siswa di Jakarta terlibat tawuran pelajar dengan senjata tajam. Beberapa waktu lalu, siswa di Jakarta tewas terkena bacokan klewang dan clurit.

Dengan kondisi geografis Papua yang sulit, di semua penjuru dikelilingi gunung-gunung, hawa dingin menusuk sumsum tulang dan tidak ada transportasi publik di desa-desa. Bagaimana sesungguhnya kehidupan para siswa di pegunungan tengah Papua, kabupaten Jayawijaya? Wilayah yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat terbang jenis ATR dan Pilatus ini.

Seberapa sulit kehidupan mereka? Bagaimana anak-anak ini bisa bertahan? Mengapa mereka selalu membawa senjata tajam (parang) ke sekolah? Apa saja aktivitas mereka di sekolah dan di luar rumah? 

Bagaimana pendapat Anda Watyutink? (fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penyiar Radio & Reporter di Wamena, Jayawijaya

Biasanya anak-anak Papua membawa parang ke sekolah untuk membantu orangtua di ladang atau mencari kayu bakar, setelah pulang sekolah. Tidak langsung pulang, dari sekolah terus ke ladang. Ini adalah kegiatan wajib anak-anak lelaki untuk membantu orangtua. Adakalanya mereka membawa parang ke sekolah untuk kerja bakti.

Anak lelaki membantu bapak mencangkul tanah, bersihkan saluran air atau membabat rumput (alang-alang) dan menebang pohon—kalau lahan masih baru. Kalau anak perempuan membantu menanam, membersihkan kebun, cari kayu untuk memasak dan menyiapkan kebutuhan masak untuk makan malam.

Soal sarapan pagi dan makan siang, tidak menjadi prioritas anak-anak di sini. Kadang pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah tapi bermain-- sambil ke hutan mencari kayu bakar atau ke sungai untuk mandi sekalian mencari udang untuk lauk makan nanti. Di Papua makan apa yang bisa dimakan, seperti keladi, jagung, ubi, ikan sungai dan lainnya. Dulu saya juga begitu. Kalau ke rumah teman diberikan makanan ya dimakan, malam baru pulang.

Jadi parang tidak digunakan untuk tawuran pelajar di sini. Meski sering terjadi pertikaian, tapi tidak melibatkan anak-anak sekolah. Itu pun sesekali bila ada masalah. Bantu orangtua ke ladang juga tidak setiap hari, tergantung situasinya, bila ada lahan baru ya harus dikerjakan bersama-sama.

Biasanya pulang dari ladang di sore atau malam hari. Waktu belajar anak-anak di malam hari, ketika Mama mereka sedang masak di dapur atau sebelum makan malam bersama keluarga. Anak-anak Papua bekerja keras untuk bertahan hidup. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
BERSAMA-USAID JAYAPURA

Melihat dari dekat dan mengamati kondisi pendidikan di Tanah Papua (seperti wilayah pantai, danau Jayapura dan juga pegunungan tengah Jayawijaya) dalam tujuh tahun terakhir ini, pemerintah pusat tampaknya harus melakukan gebrakan yang kuat dan mengambil alih beberapa peran yang seharusnya dijalankan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota (yang pada kenyataannya tidak begitu berjalan baik).

Misalnya mengenai gizi untuk anak-anak sekolah, saran saya pemerintah pusat perlu menggerakkan (kembali) kegiatan setidaknya minum susu dan makan bubur kacang hijau seminggu sekali (bahkan jika dimungkinkan perlu dua kali seminggu).

Untuk mengatasi persoalan jarak dari kampung-kampung mereka yang letaknya jauh dibalik bukit dan berkilometer ke sekolah, maka perlu dibuat (lebih banyak lagi) sekolah-sekolah "antara" terutama untuk anak-anak usia kelas 1 - 3 atau 4. "Sekolah" ini dibuat secara informal dan letaknya didekat perkampungan mereka, sehingga mereka tidak harus berjalan jauh dan menempuh waktu berjam-jam untuk pergi ke sekolah "yang sebenarnya."

Praktik ini sesungguhnya pernah dan masih dilakukan oleh beberapa program donor dan dinas pendidikan sendiri, tetapi memang jumlahnya belum banyak dan juga masih kurang tenaga pengajar yang mau mengajar dan ditempatkan di kampung-kampung itu.

Untuk program internet di sekolah, sebenarnya pernah dirintis oleh program-program donor seperti USAID dan lainnya-- yang juga bekerjasama dengan pemerintah (dinas pendidikan di level kabupaten/ kota dan provinsi). Namun sayangnya, ketika program ini berakhir seringkali tidak berkesinambungan karena pihak dinas kurang mengalokasikan anggaran untuk biaya internet dan juga perawatan perangkat-perangkatnya.

Itu semua harus dilakukan secara sistematis dan Jakarta (pemerintah pusat) harus memantau terus dan memastikan "tindakan khusus sementara" ini benar-benar dilaksanakan untuk daerah-daerah terpinggirkan seperti Papua pada umumnya. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF