Bismillah... Bersama Ganjur Menunaikan Misi Kebudayaan ke Hongkong
berita
InfoTink
04 May 2019 08:45
Penulis
Hari ini, 2 Mei 2019, grup musik Ki Ageng Ganjur  berangkat ke Hongkong untuk melaksanakan muhibah budaya ke-3, setelah muhibah pertama ke Timur Tengah (Qatar dan Dubai) pada tahun 2009 dan misi kedua ke Eropa (Belanda, Jerman dan Belgia) pada tahun 2018. Selain konser religi di Hongkong, dalam muhibah kali ini juga akan berziarah ke makam sahabat Nabi, Sa'ad bin Abi Waqas di Guang Zhou, China.

Dipilihnya Hongkong dalam muhibah budaya kali ini, karena Hongkong banyak menampung tenaga kerja Indonesia (TKI). Berdasarkan data Kemenaker tahun 2018, ada sekitar160 ribu lebih TKI di Hongkong. Jumlah ini cukup signifikan untuk dijadikan ujung tombak dalam menjalankan misi kebudayaan untuk mensosialisasikan Islam Nusantara yang rahmatan lil'alamin.

Meski para TKI di Hongkong mayoritas berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, namun mereka memiliki peran yang strategis dalam mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia, khususnya di Hongkong. Mereka ini sangat aktif dan kreatif dalam menggunakan waktu luang dan hari libur. Taman Victoria.Park, merupakan tempat berkumpul para TKI. 

Di taman tersebut mereka tidak saja berkumpul untuk melepas kangen dengan sesama warga Indonesia, bertukar info mengenai keluarga yang ada di Indonesia, Victoria Park juga menjadi ajang mengekspresikan kreativitas seni budaya Indonedia hasil karya para TKI. Berbagai ragam kesenian, mulai Reog Ponorogo, campur sari, tari daerah Nusantara, peragaan busana adat dan berbagai ragam kesenian Nusantara sering ditampilkan di Victoria Park oleh para TKI. Untuk menyemarakkan suasana para TKI sering mendatangkan artis-artus ibu kota.

Selain event seni budaya, para TKI juga sering menyelenggarakan kegiatan keagamaan mulai perayaan Maulid Nabi, peringatan Isra' Mi'raj, halal bi halal sampai pengajian rutin dengan mendatangkan para penceramah kondang dari Jakarta. Gairah keagamaan yang tinggi inilah yang menyebabkan para TKI menjadi sasaran dakwah dari para da'i dari berbagai kompok Islam dengan beragam pemahaman.

Selain posisi strategis dari para TKI di Hongkong, ada tiga alasan utama yang menjadikan Hongkong dan para TKI sebagai tujuan muhibah budaya kali ini. Pertama memperkenalkan Islam Nusantara yang rahmatan lil'alamin kepada masyarakat Hongkong yang mayoritas,  93,6 persen beretnis Tionghoa. Melalui muhibah ini diharapkan hubungan antara Islam Nusantara dengan budaya China yang memiliki akar sejarah cukup panjang bisa tertaut semakin kokoh.

Kedua, untuk memberikan bekal kepada para TKI mengenai pemikiran dan tradisi Nusantara yang memiliki spirit religius keislaman yang bisa dijadikan sebagai sarana (wasilah) dan metode (manhaj) dalam mengajarkan dan menyebarkan Islam secara damai. Dengan demikian para TKI akan memiliki system ketahanan diri (self defensif system) dalam menghadapi.berbagai tekanan budaya berlabelkan agama yang datang dari luar yang bisa berdampak negatif bagi para TKI.

Ketiga, memperkuat semangat kebangsaan para TKI. Sebagaimana kita ketahui, arus deras liberalisme dan pragmatisme telah.mengepung bangsa Indonesia, terutama yang berada di luar negeri. Kondisi ini semakin parah dengan masuknya faham keislaman yang mempertentangkan antara nasionalisme dengan Islam. Kedua arus ini menggerus semangat kebangsaan masyarakat Indonesia. Dan para TKI sangat rentan menghadapi tekanan tersebut sehingga perlu ada penguatan spirit kebangsaan untuk menangkal tekanan tersebut.

Ketiga alasan tersebut menemukan momentumnya dalam peringatan harlah Muslimat NU ke 73 dan perayaan menyambut Rhamadhan. Memonetum inilah yang membuat ki Ganjur memilih Hongkong sebagai tujuan muhibah kebudayaan kali ini. Akhirnya dengan Bismillah hari ini ki Ageng Ganjur berangkat Hongkong sebagai upaya menjalankan misi kebudayaaan menyebarkan Islam Nusantara yang rahmatan lil'alamin. Semoga lancar, manfaat dan berkah.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Akibat Jalan Non Tol Tak Dipelihara             Catatan YLKI untuk Mudik Lebaran 2019             Tipis Prabowo-Sandi Menang di MK             Putusan MK Tidak Mengakhiri Polemik Pilpres 2019             LGBTIQ Merupakan Pilihan dan Hak Asasi             Asumsi RAPBN 2020 Sulit Tercapai             Strategi Ekspansif Tak Tampak di RAPBN 2020             Transisi Darurat (Demisioner) Permanen????             Membangun Sambil Menindas             Mitigasi Pengaruh Kejadian Politik terhadap Kegiatan Ekonomi