Tridaya Upaya Karsa Sebagai Advokasi Kearifan Lokal
berita
InfoTink
Sumber Foto : yesnayapolyanaindonesia.com - watyutink.com 19 March 2019 15:00
Penulis
Purwokerto (2/3), Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana Indonesia menyelenggarakan acara Penghargaan Filosofis Tri Daya Upaya Karsa dan Diskusi Kebudayaan bertajuk “Peranan Kebudayaan Lokal untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Acara diselenggarakan di Sasono Joko Kaiman 2 Maret 2019 pada sela-sela rangkaian kegiatan Hari Jadi Kabupaten Banyumas yang ke 448.

Penghargaan Filosofis diselenggarakan dalam rangka memperingati dua dasa warsa Padepokan melakukan upaya karsa di desa yang mana idenya telah terilhami sejak 40 tahun yang lalu. Penghargaan Filosofi kali ini adalah acara pertama tahunan dan akan dijadikan icon Hari Jadi Banyumas untuk mengisi kekosongan intelektual kritis. Untuk tahun ini, agenda penghargaan filosofi mengambil tema besar kebangsaan yakni kearifan lokal.

Acara dihadiri oleh Bupati Banyumas Ir. H. Achmad Husein, akademisi, intelektual, praktisi pertanian organik, seniman, pramuka, aktifis, hingga pelajar dan guru di sekolah-sekolah Kabupaten Banyumas. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) Dr. Adrianus L.G. Waworuntu juga hadir sebagai narasumber bersama tim Padepokan dalam diskusi kebudayaan.

Hal istimewa dalam peringatan 20 tahun Padepokan adalah pemberian penghargaan filosofi Tri Daya Upaya Karsa kepada tokoh-tokoh dan sahabat perjuangan Padepokan Filosofi yang telah melakukan upaya karsa di masyarakat. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Prof. Dr. Ionna Kuchuradi, filsuf dari Turki yang menjadi presiden filsafat dunia, Prof. Dr. F.M Suhartati seorang Guru Besar bidang Peternakan dari Universitas Jendral Soedirman (UNSOED) Purwokerto, Maria Rita Roewiatoeti S.H, aktifis hukum agraria dari Surakarta, dan Basuki Setiadi. A.Md. seorang praktisi pertanian organic dan birokrasi di Kabupaten Banyumas. Penghargaan Filosofi diberikan langsung oleh Bupati Banyumas.

Dalam sambutannya, Ir. Achmad Husein mengatakan sangat berbangga dengan acara 20 tahun Padepokan serta mendukung Tri Daya Upaya Karsa. Kegiatan semacam ini harus menjadi permenungan antara kita dan kemajuan dunia. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton dan pemakai produk kemajuan khususnya teknologi, terang Bupati. Bupati berpesan agar kita tidak meninggalkan dan selalu berpijak pada kearifan budaya kita.

Pernyataan Sikap Kebudayaan

Pernyataan sikap kebudayaan disampaikan Ashoka Siahaan pendiri Padepokan Filosofi Yasnaya Polyana. Dalam paparannya, ia mengkritik intelektual kampus yang mapan dalam gelargelar “kebangsawanan” akademik yang lebih banyak enggan melakukan upaya karsa untuk berpihak kepada pencerahan kehidupan manusia. “Harapan kita Tri Dharma Perguruan Tinggi mengacu kepada tri daya upaya karsa” paparnya. Ia menekankan pada kerja kongkrit kebudayaan serta menolak slogan dan monopoli filsafat oleh segilitir manusia.

Pendiri Padepokan menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekedar kegembiraan saja, tetapi juga perjuangan hidup manusia. Kebudayaan sebagai produk filosofi harus mampu memperjuangkan kehidupan sesama manusia. Kehidupan harus selalu diupayakan dengan berfikir kritis dan tindakan advokatif dan senantiasa mengandung unsur menolak monopoli berfikir dan bertindak. Prinsip itulah yang harus dipegang oleh manusia organic di desa dan peran para intelektual untuk menjembatani kesenjangan teori dan praktik sehingga kebudayaan tidak berhenti pada slogan dan kemapanan yang menyebabkan pembusukan kebudayaan itu sendiri.

Pada sesi diskusi kebudayaan, Dekan FIB UI menyampaikan bahwa kearifan lokal menjadi sumber pengetahuan dan acuan jati diri bangsa. Ia juga menyayangkan intelektual yang setelah masuk menjadi birokrat hanya menjadikan kebudayaan sebagai “keset”. Mereka meninggalkan kebudayaan saat menjadi birokrat dan kembali menanyakan kebudayaan saat pembangunan fisik mencapai kegagalan.

Warseno, ketua Lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL), menyambung pembicaraan diskusi menjelaskan bahwa Advokasi filosofis mengarah pada upaya creation of culture, bukan hanya preservation of culture. Riset dan kreatifitas berperan penting agar mampu mengahadapi kemajuan global tanpa hanyut dalam arus globalisasi. Ia juga menghimbau jika kearifan lokal tidak dibingkai dalam kebudayaan nasional dan Ideologi Pancasila akan dapat menimbulkan bentuk primordial baru karena merasa paling superior.

Sementara itu, Alif Syuhada perwakilan dari anggota Padepokan Filosofi menjelaskan tentang mediokritas sebagai sumber persoalan sosial. Ia juga menambahkan program-program Padepokan yang menunjang berswadaya pikir masyarakat tani antara lain Peasant Children Education. Program ini bertujuan untuk menyiapkan generasi tani agar minimal mampu menjadi guru bagi dirinya sendiri, serta mampu kreatif mengembangkan potensi desa.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar