Alternatif Gerakan Indonesia Baru (Bagian-3)
berita
Pikiran Bebas
kenduricinta.com 25 November 2018 09:30
Penulis

Sosiolog Universitas Gadjah Mada

Di era media sosial seperti saat ini “pengajian” yang dilakukan Emha dengan grup musik Kyai Kanjeng dan komunitas Maiyahnya pun dapat diakses lewat medsos; youtube; facebook, dan sebagainya, sehingga orang yang tidak bisa mendatangi langsung forum pengajiannya kapan dan dimanapun dapat mengaksesnya lewat berbagai media baru. 

Namun demikian, “forum” Maiyahan dapat juga langsung disaksikan live lewat AD TV, karena media ini tidak menetapkan berbagai prosedur bentuk determinasi dan eksploitasi ekonomi dalam proses penanyangannya. 

Selain media, tentu yang cukup menarik adalah Emha sendiri dikenal sebagai tokoh yang selama ini memilih tidak terjun dalam politik praktis, jika pun kegiatannya dianggap bernuansa politik, maka jenis politik yang dirajutnya adalah “high politic”, di mana nuansa yang ditonjolkan adalah penekanannya kepada pendidikan akal sehat, daya kritis, penghidupan kelembutan hati, tak ingin membai’at dan dibai’at, menekankan pentingnya akhlak dan perilaku mulia serta membangun koneksi yang mesra dengan Allah sebagai landasan utama dalam membangun kehidupan bermartabat. 

Emha tidak mengajarkan para “jamaah”-nya untuk hidup dengan mengakrabi kepentingan politik jangka pendek dan pertimbangan untung rugi.

Pendek kata, Emha menawarkan cara berpikir atau paradigma berpikir alternatif di luar mainstream sosial politik yang ada, sehingga gerakan yang digawanginya membuka ufuk baru bagi Indonesia masa depan. 

Di forum itu para “santri” atau “cantrik” atau pengunjung terlibat intensif dalam “pengajian”, mengikuti dengan seksama proses tanyajawab yang kerap muncul, selain itu mereka pun betah berjam-jam duduk di dalam suasana “pengajian” yang umumnya diikuti ribuan orang. 

Di sana orang boleh tertawa, menangis, misuh, menggugat, menyoal materi yang diwacanakan Emha Ainun Najib dan pembicara lain, dan di sana pula tidak ada politisasi, tidak ada tipu muslihat, karena segala sesuatunya sukarela berdasarkan kehendak hati dan pikiran sendiri. Semuanya hanyut, larut dalam suasana penuh semangat untuk menemukan kembali “diri” yang selama ini hilang terbawa berbagai arus kekuatan ekonomi politik yang tengah berkembang di masyarakat.

Semuanya berjalan untuk meraih hidup yang lebih baik dan bermartabat dengan berlandasakan  pentingnya kesadaran akan potensi kekhalifahan manusia dimuka bumi dan jagat raya.

Siapapun boleh datang, tak ada screening dalam bentuk apapun; mereka yang merasa bertuhan, mereka yang ateis, mereka yang apolitis, juga mereka yang politis. Semuanya boleh, tanpa ada sekat yang dibangun di situ untuk tujuan pemisahan; entah itu berdasarkan agama, kelas sosial-ekonomi, dan atas dasar stratifikasi sosial yang selama ini telah terbentuk kehidupan sehari-hari.

Lalu apa kontribusi gerakan sosial kebudayaan yang dibangun lewat forum Maiyahan dengan grup kyai Kanjengnya bagi Indonesia masa depan? 

Dari kajian dan observasi yang penulis lakukan, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita peroleh:


1). Ketika lembaga politik, organisasi sosial keagamaan, dan lembaga pendidikan hanya bisa melahirkan dunia yang penuh keculasan, keserakahan, tak mampu memberi inspirasi hidup kepada rakyat bawah, maka tandon-tandon pengajian sebagaimana yang disuguhkan Maiyah menjadi sangat diperlukan. 

Mereka yang hadir dengan berbagai tingkatan pengetahuan dan latar belakang sosial ekonomi di dalam forum itu sangat terbuka untuk menyerap, menseleksi berbagai macam informasi yang relevan bagi kebutuhan mereka, terutama untuk mengungkit perkembangan dirinya, baik pribadi maupun sosial.

Di maiyah mereka yang ingin mengenal Tuhan lebih dekat dan mesra. Terbuka peluang untuk mendapatkan jalannya, sehingga proses itu dapat dijadikan modal budaya untuk bergerak melampuai budaya politik Indonesia yang tengah terjebak pada nilai-nilai kekinian dan kedisinian. 

2). Gerakan sosial budaya Maiyah ini berpeluang untuk merealisasikan munculnya kreativitas anak bangsa yang siap menyongsong Indonesia baru dengan infrastruktur pengetahuan dan budaya yang baru, merealisasikan cita-cita ideologi dan konstitusi 45 dengan cinta dan komitmen pada kebaikan diri, masyarakat dan bangsa. 

Gerakan ini membuat orang tidak hanya bisa berpikir untuk menjadi pemenang dengan menyingkirkan dan mengalahkan lainnya, sebagaimana budaya mainstream yang menjadi anutan saat ini dan dicontohkan oleh para elit. Tapi meyakini Indonesia adalah negara yang kaya dan memberi banyak kesempatan peluang bagi seluruh anggota masyarakat jika diolah dengan penuh cinta dan kasih sayang. 

Rasa kebersamaan yang berkeadilan niscaya akan dapat sebesar mungkin mengenyahkan kemiskinan dari muka bumi, dan cita-cita Pancasila dan konstitusi UUD 45 makin dekat dari perwujudannya.

3). Dapat mengambil suritauladan dari seorang Cak Nun yang setidaknya telah teruji diberbagai medan kehidupan; pengetahuan, produktivitas, cinta, kebersahajaan, kerendahatian, kelimpahruahan, dimana berbagai karakter sebagaimana telah disebut begitu sulit kita temukan pada banyak elit di negeri ini. 

Apa yang sehari-hari kita saksikan atas wacana dan tindakan elite adalah tampilnya nilai-nilai kontrakdiksi antara apa yang selalu diwacanakan elit dengan tindakan politik yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena elit yang selama ini tampil kurang lebih adalah elit yang mengutamakan diri dan kepentingannya. Hanya mencetak generasi-generasi pak turut dan kekuatan kroni yang tak memiliki visi kuat untuk merealisasikan mimpi menjadi Indonesia sebagaimana amanat konstitusi 45. 

Dengan gerakan sosial budaya yang dikembangkan Cak Nun dan komunitas Kyai Kanjengnya, maka peluang Indonesia untuk mengalami transformasi sosial makin terbuka lebar. Dari gerakan itu pula, akan lahir pemuda-pemuda Indonesia yang berpikiran jauh kedepan, memiliki komitmen dan kepedulian pembangunan kepada sesama berdasarkan asas penghargaan terhadap sesama, kebersamaan, dan keadilan sosial bagi semuanya. 

Indonesia yang tidak hanya dipenuhi budaya feodalisme kekuasaan, pragmatisme ekonomi dan politik jangka pendek, melainkan yang berkembang dengan kekuatan cinta dan kasih sayang kepada sesama. 

Di situlah potensi dahsyatnya gerakan Maiyah dengan komunitas Kyai Kanjengnya. (pso)

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF