Anies Baswedan: Pemimpin Lokal, Rasa Nasional, dan Peran Global
berita
Pikiran Bebas
Foto Istimewa 15 July 2019 08:00
Penulis

Pengamat Perubahan Sosial. Kandidat Doktor Sosiologi Universitas Indonesia

Perubahan dunia berlangsung sangat cepat. Perkembangan teknologi informasi membuat ruang dan jarak menjadi sempit. Kehidupan kita menjadi terhubung, meskipun dengan jarak yang sangat jauh. Globalisasi era 4.0 menjadi tak terhindarkan. Dalam dunia yang semakin sempit oleh jarak dan waktu ini, gaya kepemimpinan di pemerintahan, bisnis, dan organisasi sosial juga harus berubah. Tak bisa lagi seorang pemimpin hanya hebat di rumahnya sendiri, atau dipuja puji setinggi langit di bawah tempurung. Pemimpin era 4.0 haruslah pemimpin yang berwawasan global, punya daya tawar ide dan kemampuan intelektualitas untuk mempengaruhi perubahan dunia, serta cekatan dalam memperbaiki semua aspek pembangunan bangsanya.

Anies Baswedan punya semua kapasitas untuk bisa berperan di ruang global, bukan sekedar peran sebagai Gubernur DKI Jakarta. Seperti pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, bahwa Anies punya senjata lengkap sebagai seorang pemimpin: kecanggihan secara intelektual, kematangan secara emosional, dan kehebatan secara teknikal. Dan, satu hal yang penting adalah kemampuan berkomunikasi dengan komunitas internasional. Berkomunikasi dengan komunitas dan pemimpin dunia bukanlah sekedar berkomunikasi cas cis sus ala kadarnya, atau sekedar hadir dalam forum-forum internasional. Berkomunikasi dengan komunitas internasional adalah berkomunikasi dengan kekuasaan (power). Bicara kekuasaan, maka yang dibutuhkan adalah the ability to influence, alias kemampuan untuk mempengaruhi. Ini yang dilakukan Anies Baswedan dalam forum World Cities Summit di Kolumbia yang berlangsung dalam minggu ini.

Bagaimana kita mampu mempengaruhi komunitas internasional? Ada dua cara. Pertama, kita harus menjadi negara yang kuat dan berpengaruh secara ekonomi, politik dan teknologi. Dalam kondisi ini, suara pemimpin-pemimpin kita akan didengar di pentas dunia. Komunitas dunia berkepentingan dengan kita jika kita kuat secara ekonomi, politik, dan teknologi. Peran inilah dimainkan oleh pemimpin-pemimpin China saat ini, saat posisi China di tingkat global menguat sangat signifikan, baik secara ekonomi, politik, dan teknologi. Sebuah posisi global di era modern yang selama ini dipegang oleh negara-negara Barat atau negara-negara yang berafiliasi dengan mereka, seperti Jepang.

Cara kedua, saat negara kita masih belum memungkinkan menjadi kuat dan hebat secara ekonomi, politik, dan teknologi, maka yang dibutuhkan adalah kualitas kepemimpinan yang luar biasa. Pemimpin-pemimpin yang punya kapasitas kepemimpinan luar biasa ini, seperti saya sampaikan di atas, setidaknya mempunyai sejumlah kompetensi utama, yakni kecanggihan secara intelektual, kematangan secara emosional, dan kehebatan secara teknikal, serta kemampuan berkomunikasi dengan komunitas global secara visioner.

Dalam kondisi negara kita sebagai negara berkembang dan belum mempunyai daya tawar lain secara global, maka kualitas kepemimpinanlah yang menentukan kita bisa berperan di level global. Sukarno adalah contoh bagus bagaimana kualitas kepemimpinannya yang luar biasa, bisa membawa Indonesia berperan dalam forum global, meskipun Indonesia baru merdeka. Tentu saja, saya tidak sedang membandingkan Sukarno dan Anies Baswedan, karena mereka hidup dalam dua kondisi dunia yang sangat berbeda.

Bagaimanapun, apa yang dilakukan Anies Baswedan di forum World Cities Summit (WCS) adalah sebuah upaya untuk mempengaruhi komunitas dunia. WCS merupakan sebuah konferensi internasional tentang tatakelola pemerintahan publik (public governance) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di level kota yang sudah berlangsung sejak 2008. Konferensi ini mempertemukan para ahli, praktisi, dan pengambil kebijakan (pemimpin-pemimpin kota) untuk mencari solusi-solusi inovatif tentang berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi kota-kota di dunia. Dalam forum ini, Anies berbicara tentang “Enhancing Economic and Environmental Security", sebuah tema yang menantang dan hanya bisa disampaikan oleh pemimpin yang mempunyai kapasitas intelektual yang canggih.

Tentu saja, kehadiran Anies dalam forum ini bukan sekedar cas cis cus seadanya. Anies mencoba mempengaruhi komunitas internasional untuk membangun komitmen bersama dalam memperbaiki ekonomi di level kota di satu sisi, dan keamanan lingkungan perkotaan di sisi lain. Di sisi lain, forum ini hanya salah satu saja dari puluhan forum dunia lainnya yang dihadiri Anies Baswedan, dalam rangka membangun komitmen bersama di level global, untuk menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik.

Kontroversi kepergian Anies ke Kolumbia di kalangan politisi sangat bisa dipahami. Karena itu, masyarakat perlu memaklumi semua kontroversi politik seputar kehadiran Anies Baswedan dalam World Cities Summit di Kolumbia ini. Bagi politisi intelektual, peran global seorang pemimpin nasional dan pemimpin lokal/kota, harus diperkuat, bukan saja untuk mempengaruhi perubahan komunitas global, tetapi memberi inspirasi untuk bersama-sama memperbaiki kondisi di tempat kita sendiri.

Karena itu, semua kepala daerah harus didorong untuk bisa bicara di forum global, dan jangan hanya hebat di dalam tempurung. Kondisi ini sekaligus akan merangsang pemimpin-pemimpin lokal untuk meningkatkan kapasitas dirinya secara intelektual dan kemampuan berkomunikasi di level global. Dengan bergaul bersama komunitas gobal, akan banyak inspirasi yang bisa diperoleh untuk memperbaiki kehidupan masyarakat kita. Di sisi lain, kita akan punya daya tawar untuk mempengaruhi pihak lain, sehingga kita tidak hanya menjadi pasar untuk ide-ide luar, dan atau pasar untuk produk-produk global.

Kemampuan mempengaruhi (the ability to influence) inilah yang perlu ditanamkan kepada generasi muda kita, sehingga mereka akan bisa berperan di dunia global, seiring dengan semakin menyatunya komunitas dunia oleh kemajuan teknologi informasi. Bangsa ini harus bergerak ke depan untuk memperbaiki dirinya, membenahi masalah-masalah bangsa, dan sekaligus berkontribusi dalam perbaikan kehidupan masyarakat dunia.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Salamudin Daeng

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir