Jarig Wafat Bulan Juni
berita
Pikiran Bebas
Ilustrasi kan watyutink.com 06 June 2019 21:30
Penulis

Penulis Buku Kencan dengan Karma

6 Juni adalah hari lahir Bung Karno 1901 tapi juga hari wafatnya Capres Robert F Kennedy, ditembak oleh Sirhan Bishara Sirhan, 6 Juni 1968. Bob Kennedy lahir 20 November 1925 yang akan setara Mahathir bila tidak mati tertembak.  Setiap hari bulan apapun  adalah hari bersejarah dalam konteks Algorithme Big Data. Bukan hanya post facto, tapi juga agar menjadi peringatan dan pembelajaran agar tidak terulang lagi perbuatan atau keputusan yang berdampak negatif destruktif bagi masa depan umat manusia.

1 Juni adalah hari Lahirnya Pancasila, yang secara pokrol bambu dimanipulasi mengerdilkan peran pencetusnya Bung Karno dengan aktor pembantu yang dipaksakan setara dengan aktor utama Bung Karno. 4 Juni 1919 adalah demo mahasiswa Tongkok menentang Perjanjian Versailles yang membagi beberapa provinsi Tiongkok sebagai wilayah konsesi, dan terutama eks konsesi Jerman, Provinsi Shandong diberikan kepada Jepang.

70  tahun kemudian, para mahasiswa Beijing mulai demo kritik pemerintah setelah wafatnya Hu Yaobang April 1989. Demo berlangsung 3 bulan hingga ditumpas oleh pasukan tank Tentara Pembebasn Rakyat Tiongkok yang melindas rakyatnya sendiri pada 5 Juni 1989.  Kini sudah 30 tahun, pemerintah RRT masih was-was dan memperingatkan tidak boleh ada peringatan terhadap hari tragedi sejarah Tiongkok itu.

5 Juni 1967 Perang Arab Israel ke -3, setelah 1948 (pembentukan negara Israel ) dan 1956 (Nasionalisasi Terusan Suez) meletus 6 hari, dikenal sebagai Yomkipur War. Rezim Shah Iran dengan polisi rahasia Savak menahan Ayatollah Khomeini 5 Juni 1963, yang mendorong Khomeini lari ke Prancis tahun 1964 dan akan kembali ke Iran 1 Februari 1979 melengserkan Shah Iran. .

6 Juni 1944 adalah hari pendaratan pasukan sekutu di Normandy dibawah Jenderal Eisenhower, untuk menaklukkan Nazi Jerman yang akan diperingati 75 tahunnya dengan polemlik antara Presiden AS Donald Trump dan walikota London Sadiq Khan. Eisenhower akan menjadi Presiden AS 2 term antara 1952-1960 dan pada 1956 menekan Inggris Prancis Untuk menghentikan serangan thd Mesir yang menasionalisasi terusan Suez.

Pada tahun 1956 itulah awal Indonesia ikut ditunjuk jadi pasukan perdamaian PBB di Timur Tengah. Ironisnya di tengah panggung geopolitik itu elite Indonesia memperlihatkan “ penyakit autis politik”. Pada 13 Agutus 1956 Menlu Roeslan Abdulgani nyaris ditahan di bandara Kemayoran oleh pasukan dibawah Pangdam Siliwangi Kol AE Kawilarang atas dakwaan menerima “titipan” uang tunasi US$ 10.000. Meski telpon masih pakai operator, Menlu berhasil menelpon PM Ali Sastroamijoyo yang segera menelpon KSAD Majyen AH Nasution untuk membebaskan dan mengizinkan Menlu tetap berangkat karena jadwal konferensi PBB tentang Suez tidak bisa diundur sejalan agenda politik  Pangdam Siliwangi.

10 tahun setelah penahanan Menlu yang gagal Agustus 1956, pada 18 Maret 1966 Pangkopkamtib LetjenSoeharto menahan 15 menteri kabinet Dwikora II yang baru saja dilantik 24 Februari 1966. Langkah Soeharto ini kemudian dikukuhkan oleh Sidang Umum MPRS ke-4 22 Juni – 5 Juli 1966, yang memerintahkan pembentukan kabinet Ampera  oleh Presiden bersama Soeharto.

Kabinet Ampera akan dibentuk 25 Juli 1966. 4 tahun kemudian , 21 Juni 1970 Bung Karno wafat, di suatu tanggal yang persis dengan kelahiran Presiden Jokowi di Solo, 21 Jui 1961 atau 10 tahun lebih muda dari Prabowo yang lahir 17 Oktober 1951. Suatu tanggal yang tidak elok karena terjadi semi kudeta demo yang digerakkan militer menuntut pembubaran DPRS 17 Oktober 1952. KSAP Mayjen Simatupang dan KSAD Mayjen AH Nasution dipensiun. Yang pertama for good yang kedua bisa come back jadi KSAD lagi pada 1955. 

Sejarah Indonesia penuh dengan akrobatik politik bagaikan cerita silat Sam Kok dan buku pintar film perang Sun Tzu. Sekarang semua orang was-was apakah Mahkamah Konstitusi akan melakukan kejutan di luar kalkulasi rasional, tapi justru bisa dianggap “politik gila” memenangkan gugatan paslon 02 yang di luar rasionalitas. Tapi penuh politicking model kudeta semi kudeta suksesi model dinasti feodal primitif.

28 Juni 2019 akan dinantikan dan memang mengerikan kalau sampai hasil pemilu dianulir oleh 9 orang  setengah dewa setengah malaikat. Kalau itu terjadi maka MK merupakan gejala “ayatollah baru” yang bisa melengserkan orang meski politisi itu memenangkan pemilu. Membaca algorithme big data, sejarah bulan Juni dari data empiris historis kita harus bersiap agar survive menghadapi kemungkinan terburuk. “Ayatollah MK” mendadak mengabulkan syahwat kudeta penggugat. 

Hari pertama Lebaran, capres penggugat tidak bersilaturahmi ke Istana Merdeka, tapi ke Istana Cendana menemui putri sulung presiden ke-2 RI. Mungkin sebagai penghormatan dini untuk hari ulang tahun Jenderal Soeharto, 8 Juni 98 tahun lalu. Sementara dua putra Presiden ke-6 berkunjung ke open house Presiden ke-5.

Kita nantikan saja sejarah Indonesia di bulan Juni 2019 ini yang tidak akan pernah sepi dari peristiwa dan momen historis masa lalu. Maupun yang akan dan sedang dibuat oleh elite nasional kita maupun elite global seperti Trump. Yang aksi politiknya mirip perubahan cuaca dunia yang semakin tidak terdeteksi atau teramalkan oleh ilmu geofisika yang simple

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar