Kau Menghendaki Ku
berita
Pikiran Bebas
Media Pustaka Harjuna 23 July 2021 10:00
Penulis

Dewan Pembina Yayasan Pustaka Harjuna

Wanita, contoh makhluk kesatuan, yang hidup telah berlingga-yoni, telah “mengisi-di isi”. Jangan pernah memisahkan wanita bersama lingkungan kehidupannya, baik lingkungan alam maupun manusia yang telah berlingga-yoni bersamanya. Seorang jenderal cinta di tengah mendekati wanita jomblo baru, tak akan ceroboh melecehkan mantannya. Tak semudah itu wanita menghapus mantan nya lalu serta merta menggantinya dengan kehadiran kita, cinta wanita terbit seperti matahari, terbenam pun bertahap. Alam, wanita, rindu kebaikan, rindu pemimpin dan selalu bergerak mencarinya.

Karenanya mulailah pendekatan dengan tiada menyalahkan. Alam tak pernah salah, begitupun wanita, rakyat, pasar konsumen, umat, murid, dan seterusnya. Maka jangan pernah menyalahkan, buatlah agar mereka mau menyalahkan diri mereka sendiri, “tak satupun yang mampu mengukir langit, biarlah langit itu mengukir dirinya sendiri.

Konon nabi Muhammad SAW, melarang kita memburukan apapun yang terbit di tengah wanita serta alam. Sebagaimana iblis, wanita serta alam tidak suka dengan mereka yang mendekatinya sambil menjelekan Tuhan, atau pun mendekati Tuhan sambil menjelekan mereka. Karena nya bagi mereka yang tengah sungguh-sungguh olah batin mendekat kepada Nya, jangan pernah terbersit menghinakan mereka yang masih belum terbuka kesadarannya, jangan pernah menghinakan asal atau sejarah diri.

Begitupun bagi mereka yang tengah mengupaya serta doa untuk perbaikan nasib kehidupan, tetaplah bertatakrama mulia kepada karunia sebelumnya. Rezeki selalu berupa alam, karenanya mempunyai ruh, dan sebagaimana wanita yang gemar menyatu rukun guyub, begitupun rezeki saling curhat.

Mereka yang selalu mampu menerima, seberapa pun amanah rezeki, karunia, lalu piawai mengelolanya menjadi satu manfaat nyata bersama, akan mempunyai reputasi yang baik di mata rezeki. Yoni, wanita, alam, umat, rakyat, pasar konsumen – ialah Sang Penguasa.

Kau menghendaki ku – kata wanita saat ditengah status nya pagi ini, ada pejempol yang ia amati baru muncul nama nya rutin, mulai sekitar tiga hari lalu. “Kau menghendaki ku, tapi bukan berarti aku menghendaki mu”, begitu kata wanita, alam, serta Tuhan. Wanita serta alam, secara kodrat telah paham dirinya memang selalu dikehendaki. Ibarat sel telur, ia setiap pagi berlenggak lenggok membiarkan dibawahnya ratusan juta pemuja nya berjubelan tanpa masker, sel telur dipandang sekaligus memandang, diawasi juga mengawasi, dinilai juga menilai, saling ditakar-menakar (munkar nakir) dan seterusnya.

Memenangkan tempat di tengah pasar produk yang sudah jenuh serta hete gen, adalah kunci sangat vital bagi memenangkan tahap berikutnya. Kompeni mengupaya memenangkan tempat ditengah masyarakat, ia mencermati “lingga-yoni” yang telah men tradisi, ia melihat penduduk ta’zhim kepada yang berbaju putih. Maka mereka pun mengikuti kebiasaan itu, ikut berpakaian putih-putih, bukan langsung memasarkan produknya terlebih menyalahkan yang telah berlingga-yoni.

Kompeni mengamati ta’zhimnya penduduk kepada yang telah ber haji, maka mereka pun ikut menghormati sang haji, lebih dari penduduk biasa, memanggilnya “tuan haji”. Maka timbulah sebagian keinginan warga yang ingin berhaji demi mendapatkan kehormatan itu, lalu kompeni memanfaatkan dengan pajak yang cukup besar, dan demi status terhormat di tengah warga, hal itu tak masalah. Tradisi yang mengakar sampai tahun terakhir di kampung istri di Pandeglang, Banten, seorang yang marah setelah berhaji inginnya dipanggil, “ka haji dan teh haji”.

Positioning – salah satu jatidiri serta kepiawaian bangsa cinta. Ucapan bijak leluhur Minangkabau “di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjuang”, merupakan salah satu yang tersisa, bagaimana dulu bangsa ini memang sejatinya bangsa cinta, yang memenangkan apapun melalui permainan cinta, akhirnya tiada yang dikalahkan, semuanya menang, yang satu puas, yang satu lemas bahagia.

Positioning diawali dengan membuka diri kepada perbedaan mencoba mengenali kebaikannya, bukan keburukan. Dan kehadiran kita mampu menjaga, memelihara suasana itu, sehingga mereka membiarkan kita ada ditengah mereka. Falsafah Bhinneka, menggagas, semua terbit ditengah kodrat buruk, karenanya buruk tak perlu dicari pun mudah ditemukan, dari apapun, siapapun, temukan kebaikannya.

Soekarno, Soeharto, Tan Malaka, Daoed Beureuh, Arung Palaka, bahkan Habib Rizieq sekalipun, semua bukanlah rosul, nabi. Mereka manusia biasa yang tiada luput dari kodrat keburukan, lihatlan kebaikan di setiap mereka. Jangan menyiapkan anak keturunan kita - yang kelak disaat kita telah tiada - menjadi hewan aduan yang saling menumbuk kepala. Bersambung -

 

Sudah dua buku yang saya tulis dan terbitkan, pertama dicetak 1,000 exemplar dibagikan gratis, buku kedua ialah Pengantar Falsafah Bhinneka Tunggal Ika, dicetak sebanyak 2,000 exemplar dan juga sudah habis gratis dibagikan, yang tersisa hanya versi ebooknya saja. Bagi sodara ku yang ingin mencetak ulang, monggo .. gratis tanpa ada royalti royaltian.

 

 

Monggo kunjungi link-nya juga untuk dapat melihat video-video yang sudah kami sajikan melalui flatform youtube klik pada tanda pagar  dibawah ini..

 

#THSToday45

Untuk bukunya silahkan klik Falsafah Bhinneka Tunggal Ika

Salam Kerukunan,

Teguh Handoko Susilo (THS) ||#45||Sebagai Penulis dan Pembina Yayasan Pustaka Harjuna.

 

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF