Kembali Menjadi Bangsa Ksatria
berita
Pikiran Bebas
Media Pustaka Harjuna 22 July 2021 08:30
Penulis

Dewan Pembina Yayasan Pustaka Harjuna

Bagi saya, makhluk yang paling misteri dan memang selamanya harus tetap misteri, ya hanya wanita, maka alam pun termasuk, begitu pun Tuhan. Falsafah Bhinneka menggagas semua terbit sebagai kesatuan lingga-yoni, atau wadah-isi, maka bicara Tuhan, ya bicara alam Ketuhanannya dulu, dan alam Ketuhanan berkodrat serupa dengan alam Ciptaan- Nya. Wanita, perwakilan di tengah manusia. Dalam buku Pengantar Falsafah Bhinneka, bagian akhir, isinya hanya tentang kalimat bijak dan saya menulis sbb. Kau menghendaki-Ku- Aku dikehendakimu- Kau dikehendaki-Ku – Aku menghendakimu (Pustaka Harjuna).

Pustaka Harjuna, nama pena yang saya gunakan di tengah dunia maya, wanita, alam, Tuhan – menempatkan diri sebagai Kuasa. Dan mereka memang membuktikannya. Maka makhluk menyandarkan hidupnya kepada kuasa alam, pria menyandarkan pengurusan hajat hidupnya kepada wanita, tanpa wanita siapa yang meneruskan keturunan, siapa yang mengesahkan diri sebagai pemimpin, tanpa pengesahan kepemimpinan dari wanita, alam, bagaimana bisa naik menuju Ketuhanan, dan seterusnya. Dan jangan salah, sejatinya, wanita, alam, Tuhan ingin dimiliki Kuasa-Nya.

Wanita, alam – makhluk yang tada pernah bisa kosong – ia harus selalu terisi. Secara kodrat, hati wanita telah diisi oleh kedua orangtuanya, sodaranya, begitupun alam, telah diisi dengan yang menciptakan mereka. Bisa ga, manusia membuat wanita, alam rela menukar isinya, menggantinya dengan sosok arjuna yang mencalonkan diri sebagai pemimpin, Itulah inti permainan cinta, yaitu tukar menukar, mengganti yang lama dengan yang berikutnya.

Hati wanita, alam tak pernah kosong. Itu kata kunci yang harus dipegang oleh semua siswa falsafah cinta, atau falsafah kesatuan Bhinneka Tunggal Ika. Jika wanita, alam ialah lambang karunia, maka kodrat memenangkan rezeki, entah itu rezeki langit maupun rezeki bumi atau Karunia Nya pun sama aturan nya. Alam telah diatur ditengah ontologi yang sederhana sebetulnya, ontologi kesatuan, yang melalui itu terbitlah kerukunan, gotong royong, serta saling memberi manfaat bersama. Dan itulah ontologi falsafah Bhinneka, salah satu pilar kebangsaan yang tak kalah penting dengan Pancasila, bahkan ruhnya, serta menjadi pijak ditengah lambang negara.

Pangeran

Wanita, alam – hidupnya selalu di tengah prinsip “isi”. Harus ada yang mengisi, yang mana ia mengagumi-dikagumi bersama isinya. Mereka butuh pengagum, sekaligus yang dikagumi, sederhana nya mereka butuh Tuhan. Jika dalam istilah Jawa boleh disebut butuh “pangeran” sebagai sandaran kehidupan. Bisakah kita dinobatkan sebagai pangeran di tengah hati alam, serta wanita? dengan cara paksaan? kita Cuma mendapat raga wanita, alam yang mati, tapi luput memenangkan cintanya.

Menangkan cintanya, kita mendapat segala. Bangsa Nusantara sebagai bangsa cinta, harus hidup semangat “Lebih baik pulang nama, daripada gagal tanpa membawa cinta”

Lurug tanpo bolo, atau menyerang tanpa pasukan. Menang tan ngasorake, menang tapi musuh tak merasa dikalahkan, karena mereka sengaja mengalahkan diri mereka sendiri demi kehadiran sang Cinta. Itulah kepiawaian di tengah bangsa Nusantara yang harus kembali dihidupkan, karena memang dulu, merupakan bagian dari jatidiri bangsa. Memenangkan melalui gembar gembor, intimidasi, dikepung, dihancurkan, bukanlah jatidiri bangsa Nusantara. Bangsa Nusantara bukanlah bangsa gerombolan, yang berani bergerak hanya disaat banyak, saat sepi mendadak pengecut.

Bangsa Nusantara terbiasa melakon sebagai ksatria, seorang diri, tanpa senjata apapun alias sakti tanpo aji, bagai rosul ditengah umat, dengan piawai melakukan permainan cinta. Mereka yang ingin memenangkan kepemimpinan melalui cara kekerasan, yakinlah, itu bukan ciri jatidiri leluhur bangsa cinta. Jadi bagaimana dong caranya agar wanita mau menukar isinya dengan isi baru ialah kita? nah, di sinilah seninya, bagaikan The Art of Business, tidak sekadar ilmu tetapi juga melibatkan rasa.

Jangan pernah menghujat wanita, alam, umat, rakyat, pasar. Mereka dikodratkan telah terisi – jangan pernah menyalahkan apa yang selama ini menjadi sandaran kehidupan mereka. Berikan pujian kepada isi lawas mereka, jangan pernah mengkritik orangtua atau sodara wanita disaat tahap pendekatan, begitupun mengkritik alam, umat, rakyat, pasar, atau apapun, siapapun yang ingin kita menangkan kehendak nya. Kamu salah, kamu tolol, kamu ..dan kamu ..bukanlah ciri-ciri bangsa langit yang piawai menaklukan bumi.

Bangsa Nusantara sebagai bangsa langit berdarah biru, harus mampu memenangkan ikan nya hidup-hidup, segar, tanpa membuat keruh airnya, terlebih memecahkan akuariumnya, itu jatidiri bangsa gerombolan yang memang tiada piawai ditengah permainan cinta dan kepemimpinan. Maka saya mengajak kita semua untuk sama-sama belajar memahami kodrat, serta tatakrama cinta, buanglah jauh-jauh kebiasaan menyalahkan, terlebih menghakimi. Nanti dilanjut pada artikel berikutnya.

 

Sudah dua buku yang saya tulis dan terbitkan, pertama dicetak 1,000 exemplar dibagikan gratis, buku kedua ialah Pengantar Falsafah Bhinneka Tunggal Ika, dicetak sebanyak 2,000 exemplar dan juga sudah habis gratis dibagikan, yang tersisa hanya versi e-book-nya saja. Bagi sodara ku yang ingin mencetak ulang, monggo .. gratis tanpa ada royalti royaltian.


Monggo kunjungi link-nya juga untuk dapat melihat video-video yang sudah kami sajikan melalui flatform youtube klik pada tanda pagar di bawah ini..


#THSToday44
Untuk bukunya silahkan klik Falsafah Bhinneka Tunggal Ika
 
Salam Kerukunan,
Teguh Handoko Susilo (THS) ||#44||Sebagai Penulis dan Pembina Yayasan Pustaka Harjuna.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF