Revolusi dari Sepeda Motor, Menengok Perjalanan Che Guevara Muda
berita
Pikiran Bebas
Ilustrasi watyutink.com 30 December 2018 09:00
Penulis

Jurnalis

Anda pastilah sudah pernah melihat wajahnya. Wajahnya ada di mana-mana. Memenuhi papan iklan, handuk, sampul kaset, kotak rokok, mug, poster, dan, yang paling banyak, kaos. Wajah yang kami maksud, wajah Ernesto “Che” Guevara de la Serna. Potret wajahnya, seperti banyak dipercaya orang, adalah foto yang paling banyak dicetak ulang sepanjang sejarah.

Che Guevara, demikian ia akrab disebut, adalah ikon yang seksi: gangteng, urakan, radikal, misterius, dan pemberontak. Tubuhnya kini terkubur di sebuah makam misterius di pegunungan Bolivia. Ia sudah ditembak mati tentara Bolivia yang direstui CIA pada 9 Oktober 1967, di usia 36 tahun. Sejak itu Che jadi legenda. Wajahnya yang dingin dalam siluet terpampang di kaos oblong anak-anak muda. Posternya mengisi kamar kos mahasiswa. Bahkan wajah Benyamin S. Direproduksi mirip potret Che.

Lelaki flamboyan ini juga masih mengusik tak hanya demonstran radikal, tapi juga penulis, politikus, hingga sineas. Sudah banyak buku dan film tentang Che. Sutradara peraih Oscar Steven Soderbergh membuat film berjudul pendek Che tapi panjangnya minta ampun sampai harus dibagi jadi 2 film. Namun, Che bisa mati dua kali bila ia tahu kini wajahnya hanya dianggap sebatas ikon kegenitan. Ia, sesungguhnya, mewariskan banyak ide yang meninggalkan sejumlah segi: tidak cuma politik, perlawanan bersenjata, tapi juga ekonomi—ia pernah menjabat Gubernur Bank Sentral Kuba, sebentar saja memang, karena ia memilih memanggul senjata lagi, membebaskan negeri-negeri yang masih dikecamuk kezaliman.   

 Pertanyaannya, darimana sikap revolusioner dan jiwa pemberontak Che berasal? Menilik kisah hidupnya, semuanya berawal dari sebuah perjalanan naik motor bersama sahabatnya, Alberto Granada. Ya, motor menjadi awal revolusi Che Guevara!

Sebelum menjadi “El Che”, Ernesto adalah mahasiswa kedokteran di Buenos Aires, Argentina yang tertarik mempelajari penyakit kusta. Pada suatu ketika, Ernesto butuh penyegaran dan tergoda melihat seperti apa dunia di luar lingkungannya. Maka, pada 4 Januari 1952, Ernesto yang kala itu berusia 23 tahun bersama sahabatnya Alberto Granada menunggangi sepeda motor dan memulai perjalanan 8 bulan melintasi Amerika Selatan.

Ernesto memang hobi traveling. Pada 1949, ia pernah keliling Argentina sendirian naik motor. Maka, ketika Alberto mengajaknya traveling naik motor menuju Amerika Utara, Ernesto segera bilang “Ya”, bahkan rela menunda ujian akhir kuliahnya. Syahdan, Ernesto dan Alberto menunggangi sepeda motor Norton 500cc keluaran 1939 milik Alberto yang dinamai La Poderosa II (Si Kuat). Diceritakan, perjalanan itu hampir gagal ketika mereka hampir menabrak sebuah mobil sesaat setelah berangkat.

Melihat Kemiskinan

Pemberhentian pertama: Miramar, Argentina, sebuah resort tempat kekasih Ernesto, Chichina, menghabiskan liburan bersama keluarga kelas atasnya. Dari rencana dua hari, molor jadi delapan hari. Chichina menitipkan uang AS$ 15 pada Ernesto untuk dibelikan baju renang di Amerika Serikat, dan Ernesto berjanji lebih memilih kelaparan ketimbang menggunakannya.

Pada 14 Februari, keduanya sudah sampai Chile. Nama mereka masuk koran lokal dan disebut sebagai pakar kusta dari Argentina yang sedang keliling Amerika Latin. Ernesto dan Alberto menggunakan koran yang membual membesar-besarkan kehebatan mereka itu untuk mendapat makanan dan bantuan gratis dari warga kota. Tapi, mereka juga ketiban sial. Saat tiba di Lautaro untuk membetulkan sepeda motor, mereka diundang ke pesta dansa. Pesta malam itu berakhir naas, ketika Ernesto kedapatan menggoda seorang wanita yang sudah menikah. Akibatnya, mereka dikejar massa yang marah.

Saat menuju Santiago, ibukota Chile, Si Kuat rusak tak bisa lagi dipakai usai menabrak kawanan sapi. Motor itu jadi besi rongsokan. Akhirnya, Alberto menjual besi motornya menambah uang sakunya. Mereka memutuskan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Kesadaran politik Ernesto bersemi ketika ia dan Alberto sampai di wilayah pertambangan. Mereka tiba di tambang tembaga Chuquicamata, tambang terbesar di dunia masa itu dan jadi pusat kekayaan bumi Chile. Tambang itu dikendalikan perusahaan tambang Amerika Serikat dan dianggap sebagai simbol dominasi asing. Sebuah pertemuan dengan pasangan pekerja tambang memberi jejak mendalam pada diri Ernesto.      

Yang sudah menonton film Motorcycle Diaries (2004) pasti takkan lupa dengan percakapan Ernesto, Alberto dan pasangan pekerja tambang.

Istri penambang: Apa kalian sedang mencari kerja?

Ernesto: Tidak, kami tidak sedang mencari kerja.

Istri penambang: Tidak? ... Lalu kenapa kalian melakukan perjalanan?

Ernesto: Kami hanya jalan-jalan.

Istri penambang: Diberkatilah kau... Diberkatilah perjalananmu.

Kita melihat ekspresi wajah Ernesto dan Alberto yang tak enak hati. Di satu sisi, betapa beruntungnya mereka bisa jalan-jalan, tapi di sisi lain juga dihadapkan betapa remeh temehnya perjalanan mereka dibanding pasangan pekerja tambang itu.  Di catatan hariannya Ernesto menulis, “Dari cahaya satu lilin.. raut wajah pekerja tambang meninggalkan rasa misterius dan tragis... pasangan itu, saling berpelukan, adalah contoh nyata kaum ploretar di setiap belahan dunia.”

“Bersama Rakyat”

Di Peru, Ernesto terpukau oleh peninggalan peradaban Inca. Naik truk bersama warga asli benua Amerika dan binatang, Ernesto merasakan kedekatan mendalam dengan penduduk asli. Di Lima, ibukota Peru, keduanya bertandang ke rumah Hugo Pesce, seorang dokter yang juga peneliti kusta ternama sekaligus seorang Marxist. Ernesto terlibat diskusi politik yang intens dengan Pesce. Satu dekade kemudian, sebagai bentuk penghargaan bagi sang dokter, Ernesto mengirim satu copy bukunya, Guerilla Warfare (perang gerilya).

Dari Lima, Ernesto dan Alberto berangkat menembus hutan lewat sungai Amazon. Mereka tinggal tiga minggu di San Pablo, sebuah koloni karantina penderita kusta di tengah hutan. Mereka membantu dokter dan suster di tempat itu mengobati penderita kusta. Penderita kusta tinggal dipisahkan sungai Amazon dengan para dokter. Berhadapan dengan penderita kusta, Ernesto menolak memakai sarung tangan. Demi merayakan ulang tahunnya dengan penderita kusta, Ernesto nekad berenang menyenrangi sungai Amazon selebar 4 kilomter. Pada momen ulang tahunnya pula, untuk pertama kalinya, Ernesto memberi pidato politik.

“Kami percaya, dan semakin yakin setelah melakukan perjalanan ini, perbedaan di antara bangsa-bangsa Amerika Latin adalah ilusi dan fiksi semata. Kita adalah satu ras mestizo dari Meksiko sampai Selat Magellan. Dan sebagai bentuk penyadaran membebaskan diri kita atas sikap pikiran sempit provinsialisme, saya mengajak bersulang untuk Peru dan untuk sebuah Amerika bersatu,” kata Ernesto dalam pidatonya yang menggugah.

Ernesto dan Alberto melanjutkan perjalanan ke Colombia dan Venezuela, di mana Alberto akhirnya bekerja dan tinggal di sebuah rumah sakit kusta. Ernesto kembali pulang ke Argentina—lewat Miami, di mana ia harus menunggu 20 hari karena mesin pesawatnya rusak—di sambut keluarganya. Kita tahu, selepas perjalanan itu Ernesto bukan orang yang sama lagi.

“Berkeliling benua Amerika telah mengubah diri saya lebih dari yang saya kira. Saya bukan orang yang sama lagi. Setidaknya, saya bukan seperti yang saya pikir dulu,” katanya. Di buku catatannya yang diterbitkan dengan judul Motorcycle Diaries, Ernesto membulatkan tekadnya: “Saya akan berada bersama rakyat... saya akan memasang baikade dan kawat berduri, berteriak seperti orang kerasuka, akan melumuri senjata saya dengan darah, dan penuh amarah, serta akan menggorok leher setiap musuh yang saya temui.”

Well, siapa sangka, sebuah jalan-jalan naik motor, yang oleh orang kita sekarang biasa disebut touring bisa membangkitkan jiwa revolusiner seseorang. Bercermin pada touring ala Che Guevara, Anda sepatutnya bertanya, apa touring yang sudah Anda lakukan selama ini memberi makna, mengubah cara pandang Anda melihat ketidakadilan maupun penderitaan sesama, dan bertekad mengubah dunia jadi tempat lebih baik?

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri