Banyak Keliru Pemahaman Sistem Bus Rapid Transit (BRT)
berita
Pikiran Bebas
Bus Rapid Transit 20 September 2020 16:30
Penulis

Direktur Eksekutif INSTRAN

Saat ini setiap kota di Indonesia tengah demam sistem operasi bus sebagai angkutan massal perkotaan ( urban buses ) dengan sistem BRT ( Bus Rapid Transit ). Awal mula keberhasilan DKI Jakarta menata angkutan umum massal dengan konsep BRT ingin diikuti oleh kota-kota besar lain di Indonesia. Saat ini kota-kota memiliki klaim jaringan BRT adalah TransPakuan Bogor, Batik Solo Trans, TransSemarang, TransJogja, Trans Metro Bandung, Trans Musi Palembang, Trans Padang, Trans Mamminasata Makassar, Trans Bandar Lampung, Trans Sarbagita Denpasar, BRTS Medan, Suroboyo Bus, adopsi namapun persis sama dengan brand di Jakarta, yakni Bus Trans Jakarta yang dioperasikan oleh PT Transportasi Jakarta (BUMD). Saat ini pula masih banyak kota lain masih mengajukan proposal ke Direktorat Perhubungan Darat untuk perizinan sistem BRT untuk memperoleh subsidi. 

Namun sayangnya, konsep BRT yang dilaksanakan dan diusulkan tersebut dari daerah berbeda dengan sistem BRT yang terdapat di DKI Jakarta. BRT yang di Jakarta adalah sebuah konsep “rapid” yang sudah benar, yakni berjalan di lajur khusus tidak bercampur oleh kendaraan lain sehingga waktu perjalanan dapat diukur dan terjadual. Lajur bus BRT ini kita kenal dengan busway atau bus lane. Saat awal dioperasikan di Jakarta, BRT Trans Jakarta (TJ)  ini malah terkenal dengan nama / brand busway, bukan bus Trans Jakarta. Mengapa terkenal dengan busway ? karena memang bus nya berjalan di lajur khusus oleh Pemprov DKI dinamakan busway dalam kampanye BRT nya awal-awal beroperasi. 

Gagasan sistem BRT Jakarta sejak 2001 ketika studi banding ke TransMilenio Bogota Kolombia. Kemudian oleh Bang Yos (Gubernur DKI Jakarta saat itu ) diusulkan sistem BRT tersebut dioperasikan di Jakarta. Tahun 2002 gagasan BRT Jakarta tersebut muncul dalam Business Plan Jakarta Busway dan akhirnya diresmikan 15 Januari 2004. BRT Jakarta merupakan BRT pertama dan di Asia Tenggara dan Asia Selatan, Hingga saat ini (September 2020) telah mempunyai 13 koridor (rencana ada penambahan 2 koridor) dengan panjang 230,9 km, 243 halte dan lebih dari 1347 sarana bus. Kini PT Transportasi Jakarta mengklaim diri sebagai BRT terbesar dibanding BRT kota lain di dunia. Busway sebagai right of way BRT Jakarta kini telah berhasil mengajak pengguna kendaraan pribadi beralih ke kendaaraan umum massal. Sebelum pandemic covid-19, BRT Trans Jakarta mampu menggangkut 900.000 – 1.000.000 per hari. Target BPTJ, modal share pengguna angkutan umum sampai 2029 adalah 60 %, existing kini masih 16 – 20 % pengguna angkutan umum di DKI Jakarta. Artinya masih memerlukan kebijakan kreatif push & pull lagi agar publik switching public transport, agar pengguna angkutan umum massal mencapai 60% dari total semua pengguna jalan. 

Sistem Bus TransJakarta dimodelkan seperti sistem TransMilenio yang telah sukses di Bogota – Kolombia. Gubernur DKI Jakarta meletakkan tanggung jawab pembangunan fisik infrastrukturnya kepada Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Kemudian saat awal dioperasikan Badan Pengelola (BP) Trans Jakarta dibawah Gubernur langsung dengan Kepala BP pertama Ir. Irzal Jamal. BP ini tidak bertahan, 2006 berganti menjadi Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta. BLU telah genap 5 tahun lebih, maka BLU berganti baju Lembaga lagi, di tahun 2011-2013 operator TransJakarta menjadi UP ( Unit Pengelola) menjadi UP ternyata malah mengkerdilkan tata kelola Trans Jakarta. Akhirnya 2014 berdirilah BUMD PT Transportasi Jakarta kepemilikan saham Pemprov DKI Jakarta (Darmanintyas, Memberesi  Transjakarta Busway, 2014). 

BUMD ini dituntut mandiri dan professional namun tetap memperoleh subsidi dari Pemprov DKI melalui skema PSO untuk menekan tarif flat dalam transit sistem. Konsep BRT yang telah benar diadakan karena menggunakan sistem transit dengan tarif flat. BRT sebagai jalur trunk (utama), disupport dengan sistem feeder ( pengumpan ) masuk trayek menuju kawasan-kawasan di sekitarnya ( pola pergerakan transitnya seperti pola “duri ikan”) . Feeder tersebut bila di DKI dengan nama brand Mikrotrans dan Metrotrans (non BRT) atau terkenal dengan bus low deck. 

Sejarah BRT

BRT pertama kali digunakan dalam skala besar dimulai dari Curitiba (Brazil) pada tahun 1974. Dari pengalaman Curitiba telah memberikan keinginan kota-kota lain untuk mengembangkan sistem BRT yang sama. Pada tahun 1970-an, pengembangan sistem BRT terbatas pada Amerika Utara dan Selatan. Pada akhir tahun 1990-an, reproduksi konsep BRT mulai tumbuh kembali dan di buka di Quito- Ekuador pada tahun 1996, Los Angeles - USA pada tahun 1999 dan Bogota – Kolombia pada tahun 2000. Diatas semua, proyek TransMilenio di Bogota mulai beroperasi pada tahun 2000 dan keberhasilan nya telah menarik perhatian masyarakat internasional sebagai contoh sistem BRT.

Sesuai teori BRT yang benar pada tahun 2005 mungkin ada sampai 70 sistem BRT yang telah berhasil di dunia.  Sebelum tahun 2000 di Asia, percobaan BRT sangat terbatas jumlah dan cakupannya. Sistem BRT di Nagoya-Jepang dan Taipei-Taiwan telah dianggap sistem yang relatif lengkap di kawasan Asia (Wright, 2003).

Ambiguitas teori BRT

Ambiguitasnya pemahaman BRT di beberapa daerah termasuk pemerintah sendiri karena salah satu teori diambil dari buku “Terobosan Penanganan Transportasi Jakarta” (Save M. Dagun, 2006: Pustaka Harapan, Jakarta). Dalam buku tersebut menyatakan bahwa BRT meliputi bus besar yang beroperasi di jalan raya bersama-sama lalu lintas umum (mixed traffic), atau dipisahkan dari lalu lintas umum dengan marka (bus lanes), atau dioperasikan pada lintasan khusus (busways). Mulai dari pendapat psikolog inilah maka masyarakat termasuk mahasiswa/pelajar menyakini bahwa BRT itu dapat berjalan di jalan umum bercampur dengan kendaraan lain (mixed-traffic). Jadi dari sinilah pemahaman BRT blunder seakan-akan BRT berjalan di jalan umum (campur). Memang BRT tidak selalu berjalan di lajur sendiri, adakalanya bercumpur dengan kendaraan lain bila memang ditemukan ruang milik jalan (rumija) sempit. Kriteria jalur khusus BRT/busway dedicated harus ada minimal panjang 3 km tiap koridor pada ruas jalan yang padat lalu lintasnya (penilaian BRT standar internasional, 2016). 

Ada puluhan definisi mengenai BRT dari pakar transportasi dunia, umumnya memang menyatakan bahwa BRT berjalan di lajur sendiri sebagai the right of way. Dalam level urban transport BRT setingkat  dengan moda MRT ( mass rapid transit ), terdapat kesamaan semantic transport “ mass / bus “, “rapid”, “transit”, secara umum BRT dan MRT diartikan sama-sama angkutan massal yang berjalan di jalur sendiri dengan waktu tempuh yang cepat dan didesain untuk angkutan transit. Bedanya BRT berjalan di jalan khusus menggunakan roda karet sedangkan MRT berjalan  di rel dengan roda besi. 

Kita lihat definsi MRT dari NGO independen, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) 2016: Bus Rapid Transit (BRT) merupakan sistem transportasi berbasis bus yang berkapasitas dan berkecepatan tinggi, serta memiliki kualitas layanan yang baik dengan biaya yang relatif murah. BRT juga mengombinasikan beberapa elemen seperti jalur khusus bus yang pada umumnya berada pada median jalan, penarikan tarif off-board, level boarding, prioritas bus pada persimpangan, dan elemen kualitas layanan lainnya (seperti teknologi informasi serta branding yang kuat).

Bandingkan dengan definisi dari World Bank: Bus rapid transit (BRT) is the name given to sophisticated bus sistems that have their own lanes on city streets. These sistems use bus stations instead of bus stops, a design feature that allows passengers to pay before boarding the bus. Bus stations allow for faster, more orderly boarding similar to the procedures used on metro and light rail sistems. Stations have elevated boarding platforms level with the bus floors, so that passengers do not need to climb steps to get on the bus. Electronic signage tells passengers when the next bus is arriving. BRT is faster, safer, more efficient, and more user-friendly than traditional bus sistems. (Transforming Cities with Transit, The World Bank, Washington DC, 2013). 

Dapat diartikan pengertian BRT dari World bank adalah sama dengan ITDP. BRT adalah sistem bus canggih yang memiliki jalur sendiri di jalan kota. Sistem operasi ini menggunakan halte bus memungkinkan penumpang membayar tiket sebelum naik bus.  Pada halte memungkinkan boarding yang lebih cepat dan tertib, serupa dengan sistem kereta perkotaan (metro) dan kereta ringan. Halte memiliki platform/peron tinggi  (high deck) bus. Sistem informasi petunjuk elektronik memberi tahu penumpang kapan bus berikutnya tiba karena memang kedatangan/keberangakan bus terjadual. BRT lebih cepat, lebih aman, lebih efisien, dan lebih ramah pengguna daripada sistem bus konvensional.

Bila melihat dari definisi ITDP dan World Bank di atas,  seluruh BRT di Indonesia hanya BRT DKI Jakarta dengan bus Trans Jakarta yang paling benar. Menurut survey INSTRAN, 2004 saat itu masih 1 koridor (Blok M – Stasiun Kota), menurut publik Jakarta salah satu daya tarik dengan BRT – masih dikenal sebagai busway – adalah karena waktu tempuhnya cepat dan waktunya pasti (terjadwal). Daya tarik cepat (rapid) dan terjadual inilah karena BRT ini berjalan di busway sendiri. BRT yang berjalan sendiri di jalur khusus inilah yang diyakini masyarakat Jakarta mampu memberikan nilai pelayanan cepat, terbaik, modern dan perjalanan tercepat bisa terukur karena BRT memiliki busway.  Jadi studi-studi atau opini-opini dengan nama sistem BRT diluar wilayah Jakarta bukanlah sistem BRT yang benar. Saat inipun World Bank tengah mengembangkan sistem BRT di Cebu, Philipina, dengan konsep sistem BRT yang serupa dengan BRT Trans Jakarta. 

Tidak salah bila kita gunakan standar BRT dari World Bank, karena mereka lembaga keuangan dunia yang telah berhasil mengembangkan system transportasi massal dengan landasan teori yang benar termasuk BRT dengan pembiayaan loan. Apabila membayar dengan tiket (e-ticketing) di halte dengan halte high deck bus dan bus bersih (AC) yang selalu berhenti di halte, dapat transit namun tidak berjalan di jalur khusus BRT belum tentu skema tersebut adalah BRT. Sebenarnya pelayanan tersebut adalah pelayanan bus regular (bus perkotaan umum). Apabila menghendaki adanya transit berpindah trayek dengan tiket terusan dengan tarif flat belum tentu sistem BRT, sistem bus transit seperti ini biasanya disebut BTS (bus transit sistem). 


Serpong, 20 September 2020

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF