Mengoreksi Graha
berita
Pikiran Bebas
Jaya Suprana/ Net 09 July 2020 09:00
Penulis

Pembelajar Kebudayaan dan Peradaban

Hasil penelitian Pusat Studi Kelirumologi menyadarkan saya bahwa kata Graha merupakan kata bahasa Sansekerta bermakna “buaya”.

Koreksi

Maka saya memberanikan diri meluruskan kekeliruan penggunaan nama Bina Graha yang tentunya bukan dimaksud sebagai gedung di mana dilakukan pembinaan buaya secara harfiah mau pun kiasan. Namun saya keliru memilih saat melakukan koreksi. Seharusnya saya jangan melakukan koreksi pada masa Orba sehingga tidak terancam dijebloskan ke dalam penjara atas dugaan mengkritik penguasa. Maka saya segera menarik kembali koreksi terhadap Bina Graha meski secara diam-diam saya muat di dalam serial buku Kaleidoskopi Kelirumologi yang kemudian dipersatukan ke dalam Ensiklopedi Kelirumologi.

Orde Reformasi 

Setelah masa Orde Baru lalu diganti Orde Reformasi maka di suasana lingkungan yang seharusnya lebih aman untuk menyampaikan kritik, saya hidupkan kembali koreksi terhadap Bina Graha dilengkapi data-data komprehensif demi meyakinkan  bahwa istilah tersebut sebenarnya memang keliru.

Memang saya tidak terancam dipolisikan karena menyampaikan kritik kepada penguasa pada masa (awal) Orde Reformasi, namun naga-naganya kritik saya mubazir analog gonggongan anjing yang tidak dipedulikan kafilah (bukan khilafah!) yang tetap santai melenggang berlalu. Terbukti tidak ada pemaklumatan resmi pihak penguasa mengganti nama Bina Graha menjadi Bina Grha atau yang lebih benar lagi sesuai aturan tata bahasa yang tepat dan benar seharusnya adalah Grha Bina.

Grha 

Dalam bahasa Sansekerta, kata Grha bermakna gedung. Kisah kegagalan koreksi saya terhadap Bina Graha merupakan bukti bahwa memang sebenarnya tidak mudah mengkritik pihak yang sudah merasa nyaman dengan kekeliruan yang sudah terkaprahkan. Apalagi jika pihak yang diktritik kebetulan sedang berkuasa.

Lalu masih ada lagi kesimpulan dari fakta kegagalan saya mengritik istilah Bina Graha yaitu bahwa mengkritik harus disampaikan ecara benar dalam hal saat. Mengritik penguasa pada saat penguasa sedang berkuasa pada hakikatnya bukan saat yang tepat. Sebaiknya tunggu sampai terjadi pergantian penguasa. Adalah lebih baik kritik diberikan kepada penguasa pada saat penguasa baru pada masa mulai berkuasa sehingga kemungkinan kritik diterima jauh lebih besar.

Risiko 

Apabila kritik disampaikan pada masa penguasa sudah terlalu lama berkuasa, lazimnya berdampak dua risiko. Pertama : risiko kritik diabaikan oleh penguasa. Kedua: resiko dipolisikan makin besar akibat dugaan mencemarkan nama baik penguasa.

Maka untuk sementara ini saya cukup menghibur diri sendiri dengan mensyukuri kenyataan bahwa pada masa kini sudah mulai cukup banyak gedung-gedung menggunakan istilah Grha seperti misalnya Grha Mandiri, Grha Unilever, Grha Sabda Pramana, Grha Somaya Hotel, Grha Ciumbulueit Guest House, Grha Kedoya, Grha Ivana, Rumah Sakit Grha MM2100  dan lain-lainnya. Mungkin juga sebenarnya Bina Graha memang lembaga pembinaan buaya. Mungkin.

(Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi)

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila