Kekayaan SDA Papua: Di Balik Pembunuhan JFK dan Pelengseran BK
berita
Politika
07 September 2017 00:00
John Fitzgerald Kennedy dibunuh 1963 dan Sukarno ditumbangkan 1967. Kisah tragis kedua negarawan bersahabat baik itu, menurut Greg Poulgrain, ternyata buat merampas SDA Papua. Dalam The Incubus of Intervention Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles, buku hasil riset 30 tahun, Poulgrain yakin Allen Dulles, Direktur CIA ketika itu, menjadi otak konspirasi. Benarkah kesimpulan Indonesianis asal Australia ini?

Kembalinya Irian Barat ke pangkuan RI, berkat lobi BK kepada JFK maupun Vatikan, tak lepas dari dukungan AS. Siapa nyana itu pula yang melatari pembunuhan JFK. Jika Jumat 22/11/1963, JFK tak tewas, Dosen Universitas Sunshine Coast di Brisbane ini yakin awal 1964 JFK bakal bertandang ke Jakarta. Padahal Dulles, kawan intim miliader Rockefeller, berupaya mencegat tiap langkah JFK, yang gigih meyakinkan publik AS bahwa BK itu nasionalis bukan komunis.

Dalam diskusi di LIPI Jakarta, Selasa 5/9/2017, Poulgrain mengungkap JFK bersedia diundang BK membahas program ekonomi demi membantu rakyat Papua. Jika perlu meninjau ke Papua. Sikap JFK terbukti dengan mengirim lebih dulu adiknya, Robert Francis Kennedy, menemui BK tahun 1962. Itu isyarat AS menekan Belanda agar melimpahkan Papua ke PBB untuk referendum (PePera).

Bagaimana Dulles dan Freeport tergila-gila menguasai Papua?  Kawasan "harta karun" emas tembaga di Ertsberg dan Grasberg semula ditemukan geolog Jean Jacques Dozy pada 1936. Forbes K Wilson, manajer Freeport Sulphur (kemudian Presdir Freeport Mineral) mendapat informasi temuan geolog itu tepat saat tambang nikel mereka di Kuba dinasionalisasi Fidel Castro.

Sukses tim ekspedisi Wilson membuktikan potensi SDA di kawasan Jayawijaya, membuat Dulles kian bernafsu mencengkeram Papua. Padahal guna menekan Belanda lewat Operasi Trikora merebut Irian Barat, BK getol memainkan kartu Blok Timur. Sehingga Dulles penganut doktrin Teori Domino, berang. Apalagi JFK malah menyiapkan paket bantuan ekonomi 11 juta dolar AS bagi Indonesia dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia.

Alhasil JFK dan BK, menurut Poulgrain, menjadi tumbal konspirasi Dulles. Nah sekiranya konspirasi itu gagal, apa yang terjadi dengan Papua? Apakah divestasi 51 persen saham bisa mengobati luka atas dua tokoh ini?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(cmk)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Universitas Negeri Malang/Deputi II UKP Pancasila

Sebagai suatu karya ilmiah, tulisan Greg Poulgrain memiliki peluang benar atau salah. Tetapi berdasarkan sumber-sumber sejarah yang relevan dengan topik tersebut, kesimpulan Poulgrain tentang konspirasi pembunuhan JFK dan penggulingan BK jadi masuk akal. Sudah barang tentu narasi dan eksplanasinya akan dipercaya pembaca/publik sebelum ada data dan reasoning yang membantahnya.

Dokumen di USA yang lebih dari 30 tahun memang dapat diakses oleh publik. Tentang keterlibatan intelijen menjadi sesuatu yang lumrah untuk mewujudkan kepentingan nasional suatu negara. Operasi senyap dengan memanfaatkan kekuatan politik di luar lingkaran BK menjadi terasa murah dan efisien.

Dan dalam upaya menguasai, mendominasi, hingga eksploitasi Indonesia sebagai bentuk neoimperialisme, pihak USA memanfaatkan perang dingin serta politik identitas yang ada di Indonesia. PKI dijadikan isu awal dan utama untuk membakar emosi publik, sehingga kewaspadaan terhadap USA yang memiliki agenda mengeruk kekayaan di Indonesia, relatif terlupakan. Bahkan beberapa kalangan beranggapan Amerika sebagai penyelamat Indonesia dari cengkeraman kekuatan komunis, baik yang berafiliasi dengan USSR dan atau RRT.

Melalui dokumen sejarah, kita dapat belajar dan memahami peristiwa sejarah di masa lalu secara lebih terang dan bijak.

Kita seyogyanya bisa mengambil hikmahnya. Kematian dan pergeseran tokoh dan kekuasaan cenderung mencerminkan kekuatan politik, ideologi, hingga kepentingan ekonomi yang tersembunyi dibalik layar suatu peristiwa.

Transisi kekuasaan dari demokrasi terpimpin ke Orde Baru, bukan sekadar pergantian Presiden Soekarno oleh Presiden Soeharto. Dalam proses itu, yang lebih utama adalah pergeseran ideologi kemandirian bangsa ke posisi sebagai negara satelit USA. Wacana yang dikembangkan justru memposisikan negara negara maju (kapitalis dan mantan penjajah) yang berhasil membentuk organisasi IGGI sebagai penyelamat. Posisi tawar Indonesia yang lemah saat itu dimanfaatkan oleh negara negara donatur, salah satunya USA, untuk melakukan investasi dengan persyaratan yang lunak.

Untuk itulah seyogyanya bangsa Indonesia banyak belajar dari kehidupan masa lalu, agar tidak mudah tersulut konflik dan diprovokasi oleh kekuatan intelijen negara lain. Negara lain yang miliki agenda tersembunyi untuk eksploitasi SDA Indonesia sampai saat ini pasti masih beroperasi.

Upaya membangun kemandirian bangsa, baik dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan, yang oleh Bung Karno disebut Trisakti, tidak berada dalam ruang kosong. Untuk itulah selain kita harus kerja keras dan cerdas, juga perlu memahami konstelasi geopolitik yang berkembang. 

Kita sebagai bangsa harus belajar untuk melampaui peristiwa masa lalu, demi menata masa kini, guna menggapai masa depan yang gemilang. Tentu itu perlu perjuangan dengan semangat gotong royong antar sesama elemen bangsa. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Hubungan Internasional & Sekretaris Jurusan Ilmu Politik, FISIP UNCEN, Jayapura, Papua.

Pertanyaan saya yang paling mendasar adalah, siapa dan apa yang dilakukan oleh Allen Dulles (Direktur CIA) pada masa itu? Sosok ini perlu dikenali lebih dalam, terlebih misi yang diembannya. Apakah Allen sedang menjalankan tugas negara atau terlilit dengan kepentingan pribadi dan kelompok pada waktu itu?

Saya mengamati Amerika Serikat (AS) pada masa itu masih menganut spirit 3G (Glory, Gold & Gospel). Dalam semangat itu pula AS sepenuhnya masih belum menjadi negara demokrasi yang kuat. (Lihat perjuangan Rev. Marthen Luther King Jr, Dari Georgia Atlanta menuju Washington DC, dengan Pidatonya I Have a Dream dalam perjuangan untuk membebaskan budak Afrika di Amerika pada 1960an). Pada akhirnya, Marthen Luther ditembak mati di depan penginapannya oleh orang tak dikenal (sniper).

Ada moto yang terkenal di negeri Paman Sam: "semua bermula dari mimpi". Mimpi indah John F Kenedy (JFK) tentang Papua telah menjadi mimpi buruk baginya. Bahkan mendatangkan malapetaka bagi Papua dan masa depan politiknya. Saya berpikir sepintas, mungkin pada saat itu dalam benak AS, Papua bagian dari budak Afrika. Sehingga, dengan mudah dapat ditaklukan. 

Geopolitik pertambangan Papua  sudah tentu menjadi kepentingan AS. Jika mereka bisa membunuh JFK, bukan tidak mungkin mereka juga sanggup melakukan hal serupa terhadap presiden dari negara lain, maupun ras dan bangsa lain.

Lalu saya belum bisa mendalami, apakah Allan Dulles pada waktu itu bertindak sebagai aktor utama? Namun itulah AS pada saat itu dalam upaya menguasai Sumber Daya Alam (SDA). Papua telah menjadi bagian dari perencanaan kelompok elite bisnis di AS. Sehingga negara pun bisa diatur dalam kerangka kepentingan elite atau kekompok di AS. (ast)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik Internasional

Kalau kita baca tulisan-tulisan terdahulu, terutama dokumen CIA, di situ semua sudah jelas dan tidak bisa dikomplain, apalagi dipidanakan (masuk penjara).

Di Amerika Serikat (AS) dan dunia internasional sendiri telah dikemukakan tesis sebelumnya mengenai pembunuhan JFK. Setahu saya, kala itu JFK berniat untuk menghentikan perang Vietnam. Sementara elite di militer AS dan Washington, serta CIA tidak setuju. Alasannya, jika perang Vietnam dihentikan akan berdampak pada kelanjutan industri militer.

Tesis lain mengatakan pembunuhan JFK berkaitan dengan masalah agama yang dianut JFK, dan tradisi presiden di AS berupa harus WASP (White, Anglo Saxon, Protestant). JFK adalah seorang Katolik. Katolik saat itu tidak/belum bisa diterima oleh mayaritas warga AS. Tradisi di AS saat itu, presiden haruslah seorang protestan. Ini kemudian dianggap sebagai penyebab pembunuhan terhadap JFK.

Kalau dikaitkan dengan masalah Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia, memang sudah sejak lama Washington mengincar SDA yang dimiliki oleh Indonesia. Pada 1960 Indonesia sudah berdaulat. Tetapi ada pertemuan pengusaha-pengusaha AS,seperti Rockefeller dan lain-lain, dan mereka "membagi-bagi" SDA Indonesia.

Kalau dikatakan mendukung perebutan Irian Barat, itu juga menjadi kepentingan AS. Jika Irian Barat tetap diduduki oleh Belanda maka SDAnya juga dikuasai oleh Belanda. AS iri kepada Belanda, sehingga mendukung Indonesia untuk merebut kembali Irian Barat. Tujuannya tentu juga ingin mengajak Bung Karno bekerjasama mengolah SDA di Papua.

Namun kala itu Bung Karno enggan diajak untuk bekerjasama dengan AS. Bahkan bantuan AS ditolak dengan kata-kata yang sangat terkenal "go to hell with your aid". Ini ditulis oleh George Mc Turman Kahin and Audrey Kahin dalam bukunya Subversif Sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia. Kalau kematian JFK dan lengsernya Bung Karno dikaitkan, saya belum berani bicara lebih jauh, karena kurang data. (ast)

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar, Spesialis Bisnis Internasional, Ahli dalam Bisnis, Pemasaran, Pendidikan, Organisasi dan Manajemen

Buku karya Indonesianis asal Australia, Greg Poulgrain, menyingkap adanya bahan keterlibatan langsung Direktur CIA Allen Dulles dalam peristiwa pembunuhan Presiden AS John F Kennedy (JFK) tahun 1963 yang diikuti oleh kudeta tahun 1965 yang berakibat lengsernya Presiden Sukarno. Greg menulis bahwa Allan Dulles (AD) bermain sendiri tanpa JFK guna memuluskan penguasaan emas yang dikandung di kawasan  Ertsber dan Grasberg di Irian oleh USA.

Sulit bagi saya untuk menerima pendapat Greg bahwa AD bermain tanpa sepengetahuan JFK. Ada banyak orang-orang dekat JFK yang berada dalam posisi sangat strategis di administrasi JFK yang mampu mendeteksi permainan solo AD, misalnya Robert Kennedy, adik kandung JFK yang menjabat Jaksa Agung. Lalu ada lagi Mc George Bundy yang menjadi National Security Advisor Presiden JFK.

Sejak kegagalan peristiwa penyerbuan Bay of Pigs (Teluk Babi) di Kuba oleh CIA, Presiden JFK juga telah membentuk semacam "clearing house" bagi operasi bawah tanah (cover) termasuk operasi wet operations guna melakukan penyingkiran permanen orang-orang dan tokoh-tokoh politik luar negeri lawan AS. Clearing House ini dibentuk oleh JFK dengan nama The President's Foreign Intelligence Board of Advisors dikenal dengan The 303 Committee. Sulit sekali bagi AD jika ia berniat bermain solo terhadap presidennya. Apalagi sejak September 1961 AD telah berhenti sebagai DCI.

Sasaran utama Presiden JFK adalah Fidel Castro yang beberapa kali dicoba disingkirkan termasuk lewat penyerbuan Bay of Pigs yang gagal. Fokus lain buat JFK adalah Vietnam Selatan. Bukan Indonesia dan bukan Bung Karno karena JFK yakin BK adalah seorang Nasionalis dan bukan Komunis sehingga JFK sudah berencana akan berkunjung ke Indonesia tahun 1964.

Semua dokumen rahasia terkait peristiwa seputar lengsernya Presiden Sukarno dapat dibuka kepada khalayak ramai. Namun, menurut saya perlu dicari tahu dokumen atau catatan rahasia yang dibuat dan disimpan oleh Hugh Tovar yang sekitar tahun kelabu 1965/67 menjadi chief of station (kepala) CIA Jakarta yang sangat mengetahui apa yang terjadi. Sayang sekali Greg tidak mengontak Hugh untuk riset bukunya itu. Hugh sendiri sudah meninggal Juni 2015 di AS.

Pelajaran yang bisa dipetik dari penerbitan buku Greg setelah ia melakukan riset selama 30 tahun ialah diperlukan semangat serupa dari penelitian anak bangsa sendiri sehingga mampu menggali potongan-potongan sejarah penting bangsa ini sekitar 1965/67 mengingat skala besar peristiwa tersebut. Juga akurasi kebenaran sejarah bangsa yang harus diungkap secara jujur dan apa adanya. Tanpa pelintiran politik kepentingan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dewan Pakar PA GMNI

Upaya Watyutink.com mengaitkan tindakan PT Freeport dalam mengeksploitasi emas dan tembaga di Pegunungan Papua yang kerap diprotes jutaan rakyat Indonesia termasuk warga Papua, dengan penjatuhan Presiden Sukarno oleh sebuah "kudeta berdarah" tahun 1965-1967 serta pembunuhan Presiden AS John F. Kennedy, adalah suatu langkah berani yang membutuhkan pembuktian ilmiah dan objektif, agar kita memperoleh pengetahuan sejarah yang tidak sesat.

Hasil riset Greg Poulgrain (2017) menyimpulkan bahwa pembunuhan JF Kennedy (1963) dan penjatuhan Sukarno (1967) ternyata dalam rangka merebut izin kelola tambang emas di pegunungan Papua oleh PT Freeport, yang didukung secara langsung maupun tidak oleh pengusaha dan para politisi anti Kennedy, serta anti Sukarno. Setahun kemudian, 1968 terbit UU Penanaman Modal Asing sekaligus menjustifikasi PT Freeport di Papua. Pada tahun itu pula Jenderal Suharto dilantik sebagai Presiden.

Namun ada pertanyaan menggelitik yang ingin saya ajukan dalam konteks ini, mengapa riset Poulgrain ini diungkap bertepatan dengan viralnya isu Muslim Rohingya di Myanmar? Mengapa tidak dulu-dulu saja? Bukankah Poulgrain sudah lama menerbitkan bukunya? Apakah ada kaitan dengan terpojoknya AungsSan Suu Kyi, pemenang Nobel Perdamaian, dalam kasus Rohingya? Kita tahu bahwa Suu Kyi selama ini kerap  didukung AS dan Inggris selama berjuang melawan junta militer Myanmar.

Lantas, adakah hidden agenda Poulgrain di balik penerbitan buku tersebut?

Kemudian mengapa selalu saja ada "campur tangan" AS yang melibatkan  korporasi dan konglomerat raksasa seperti Rockefeller dan lain-lain, baik langsung maupun tidak dalam setiap konflik di Asia Tenggara, bahkan di berbagai belahan dunia?

Nampaknya, apapun penyelesaian yang ditempuh sebagai hasil re-negosiasi saham antara Freeport vs RI, maka implikasinya secara umum dapat dibagi ke dalam dua kategori:

Pertama, dampaknya bagi warga Papua dan bagi warga non-Papua. Penyelesaian yang adil atas hasil hasil tambang PT Freeport tentu sangat berpengaruh bagi masa depan warga Papua. Karena lokasinya ada di Papua. Sementara bagi warga RI non-Papua, apapun hasil penyelesaian dan berapapun komposisi saham divestasi tambang Freeport tidak akan ada pengaruh signifikan. Mengapa demikian? Karena faktor hanya segelintir elite politik saja yang menikmati hasil eksploitasi tambang Freeport selama ini,

Kedua, faktor tiadanya transparansi dan akuntabilitas dalam hal arus uang dari hasil Freeport di Papua. Semuanya abu-abu bahkan hitam pekat. Kita hanya bisa mengira-ngira saja. Kita tak pernah tahu berapa "setoran" Freeport ke kas RI. Kita tak tahu juga siapa elite politik yang "terguyur" hasil Freeport selama puluhan tahun. Semuanya serba gelap, sampai akhirnya muncul kasus "papa minta saham". Baru sedikit terkuak sehelai demi sehelai. Semoga kebohongan demi kebohongan terkait dengan Freeport, yakni mulai sejarah penguasaannya hingga siapa-siapa saja yang menikmati hasilnya secara haram, dapat segera berakhir. Walau itu berkonsekuensi pada terbukanya 'lembaran baru" bagi warga Papua di kemudian hari secara politik dan ekonomi. Bukankah mereka seharusnya paling berhak menikmati. Biarlah warga Papua yang sederhana dan bersahaja itu akhirnya tahu kebohongan berkelanjutan yang terjadi selama beberapa puluh tahun belakangan ini. Mungkin dengan cara itu, para maling berdasi bakal kapok dan mengakui dan menghentikan  kesalahannya, demi persatuan dan kerukunan generasi penerus bangsa dimasa mendatang. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik dan Militer CSIS

Sejumlah buku menjelaskan keterlibatan Allen Dulles dalam  kematian John F. Kennedy (JFK) pada tahun 1963. Dulles memang dikenal sebagai biang operasi rahasia (covert action) untuk menumbangkan sejumlah pemimpin nasionalis. Contoh: Patrice Lumumnba (Congo), Ahmed Mosadekh (Iran), dan Jacobo Arben (Guatemala). Kecuali Mosadekh, penumbangan-penumbangan itu memang bermuara pada kuatnya pemerintahan militer.

Dalam sejumlah aksinya Dulles didera oleh keinginannya untuk menguasai SDA. Aksi itu dilancarkan dengan alasan teori domino membendung komunis. Sejak 1920-an, Dulles dikenal juga sebagai proxy war elit dari Wallerstreet dan perusahaan minyak Amerikas Serikat (AS). Keduanya tidak sejalan kebijakannya dengan JFK.

Sangat masuk akal jika kemudian Dulles dikaitkan dengan tumbangnya pemerintahaan Soekarno. Juga intrik siapa sebenarnya yang berada di balik pemberontakan G30S. Kennedy yang konservatif kala itu tengah mendekati Soekarno yang nasionalis. Ini dianggap berbahaya bagi gerakan anti Soviet di AS. Sikap Soekarno yang nasionalis juga dianggap berbahaya bagi perusahaan Wallerstreet dan perusahaan minyak AS. Ditambah lagi pimpinan Kuba pada waktu itu, Fidel Catro baru saja menasionalisasi tambang tembaga milik AS di Eldorado.

Papua yang kala itu kaya akan tembaga, emas dan juga diperkirakan memiliki cadangan gas kedua terbesar di dunia menjadi daya tarik bagi Rockefeller yang waktu itu menguasai Freeport.

Tesis Prof. Polugrain melengkapi berbagai pandangan dari penulis lain tentang keterlibatan Dulles dalam pembunuhan JFK. Misalnya memperkaya dimensi persaingan Kennedy-Dulles seperti yang ditulis oleh David Talbott dalam the Devil's Chesboard. Lebih khusus lagi memperkuat dimensi SDA sebagai basis utama kebijakan AS. Soekarno juga bertindak seperti Mosadekh dan Arben terhadap perusahaan minyak AS. Kala itu Indonesia juga gencar melakukan land reform.

Namun tidak mudah untuk menjawab apakah Papua akan lebih baik jika Dulles gagal. Kalo konspirasi Dulles terhadap JFK gagal, tidak menjamin Papua akan lebih baik. Karena mungkin saja JFK akan gagal reelected dalam pemilu AS berikutnya. JFK dimusuhi, terutama oleh industri minyak dan gas. Lagi pula orang lapis kedua Dulles di CIA juga kuat di Indonesia. Misalnya melalui Allen Whitting dan Guy Pauker yang merupakan teman baik Kol. Suwarto (tuturnya Soeharto). Soeharto led coup juga tetap bisa terjadi (karena kaitan antara Aidit, Syam Kamaruzzaman, Soeharto dan lain-lain).

Akan lebih sulit lagi memastikan andai Dulles gagal, apakah Soekarno bisa bertahan lebih lama. Upaya Dulles untuk mengusur Soekarno sudah dimulai sejak tahun 1950-an danpuncaknya adalah pemberontakan Permesta di akhir 1950-an yang dimotori oleh perwira tentara Vence Sumual. Meskipun pada 1960-an Dulles tidak dipucuk pimpinan CIA, mmasih banyak tangan kanannya di Pentagon, Kementerian Luar Negeri dan CIA. Sejak 1950-an, mereka banyak berhubungan dengan sekelompok perwira asal Indonesia (salah satunya Kol. Suwarto - komandan Seskoad dan atasan Soeharto di akhir tahun 1940-an).

Dalam transkrip pembicaraan antar Aidit dan Mao Zedong, Aidit menyebut bahwa PKI telah memiliki seorang teman tentara yang dapat dipercaya dan berada di jantung kendali ibu kota. Meski tak menyebut nama, perwira itu kemungkinan besar adalah Pangkostrad Mayjen. Soeharto. Tak mungkin Sapardjo, waktu itu beliau di Kalimantan. Perwira menengah seperti Letkol. Untung S dan Kol. Latif tidak punya cukup kuasa untuk kendalikan Angkatan Darat.(ast)

                   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol             Dehumanisasi di Hari Kemanusiaan Internasional terhadap Masyarakat Papua             Rasisme Terhadap OAP dan Masa Depan Papua dalam Bingkai NKRI             Ekonomi 2020 Tak Janjikan Lebih Baik             Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai             Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?