Mega-Prabowo Bertemu, Koalisi Berseteru?
berita
Politika
25 July 2019 17:30
Penulis
Watyutink.com - Pertemuan Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subianto menimbulkan ragam spekulasi di ruang publik. Sebagian kalangan menilai, memang tidak bisa dimungkiri bahwa pertemuan tersebut bagian dari upaya mencairkan suasana politik. Terlebih, keduanya merupakan ketua umum parpol yang notabene pemimpin partai koalisi di barisan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi.

Namun tujuan perjamuan Mega dan Prabowo dinilai tidak sebatas itu. Selain simbol membangun kerukunan usai pilpres, pertemuan tersebut juga sarat kepentingan politik. Bahkan ada yang memaknai sebagai sinyal bahwa komunikasi politik antar parpol koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf tengah tidak solid.

Seperti diketahui, Megawati menjamu Prabowo di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu (24/7/2019). Kedatangan Prabowo didampingi Edhie Prabowo dan Ahmad Muzani, Wakil Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra. Sementara Megawati ditemani Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristianto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, hingga Kepala BIN Budi Gunawan.

Di saat bersamaan, Surya Paloh mengadakan pertemuan dengan Anies Baswedan di Kantor Nasdem. Banyak kalangan mensinyalir langkah Surya Paloh ini merupakan reaksi politis atas pertemuan Mega-Prabowo. Terlebih, Surya Paloh mengaku tidak diberitahu PDIP jika Mega hendak bersua dengan mantan cawapresnya itu pada 2009 lalu.

Beberapa hari sebelumnya, Surya Paloh juga menggelar pertemuan dengan pemimpin parpol koalisi Jokowi-Ma’ruf tanpa kehadiran PDIP. Padahal, pertemuan yang dihadiri Airlangga Hartanto (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), dan Suharso Monoarfa (PPP) ini kabarnya dalam rangka mencari titik temu antar partai koalisi terkait perannya di pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Di sini pertanyaannya, apakah pertemuan Prabowo-Mega semacam bentuk peringatan PDIP kepada parpol koalisinya?

Lalu, benarkah partai koalisi Jokowi-Ma’ruf sedang tidak solid? Sebab, sebagian kalangan menyangka pertemuan Mega-Prabowo, Surya Paloh-Anies, dan pertemuan empat pemimpin parpol di markas Nasdem merupakan peristiwa politik yang saling berkaitan. Dengan kata lain, perjamuan Mega-Prabowo sebagai aksi balasan PDIP setelah tidak dilibatkan dalam pertemuan empat parpol. Sementara kemesraan Surya Paloh-Anies merupakan reaksi dari akan adanya pertemuan Mega-Prabowo.  

Yang jadi permasalahan, pertemuan Mega dan Prabowo dinilai berpotensi menimbulkan gejolak antar partai koalisi petahana. Pertemuan tersebut, menurut sejumlah pengamat, bukan tidak mungkin membuat parpol koalisi merasa was-was. Terlebih, perjamuan itu kabarnya hanya langkah politik Mega sendiri tanpa melibatkan empat partai koalisi yang lainnya. Lantas, konstelasi politik macam apa yang bakal terjadi nantinya usai pertemuan Mega-Prabowo?

Meski Mega menegaskan semuanya tergantung keputusan Jokowi jika Gerindra ingin bergabung di pemerintahan, tapi sebagian kalangan menilai pertemuan itu bisa dimaknai sebagai karpet merah kepada Gerindra untuk bergabung dengan pemerintahan. Dengan kata lain, pernyataan Mega di depan publik itu tidak lebih sekadar menghargai Jokowi yang empunya hak prerogatif dalam menentukan kabinet.

Jika pertemuan itu memang simbol restu PDIP kepada Gerindra bergabung dengan pemerintah Jokowi, sebagian pihak menilai eksistensi parpol koalisi lainnya akan merasa terancam. Penyebabnya, Mega dan Prabowo merupakan sosok yang punya pengaruh yang kuat sehingga PDIP dan Gerindra bakal dominan. Akibatnya, empat parpol koalisi petahana lainnya tidak punya taring di pemerintahan Jokowi. Lalu, sejauh mana pertemuan Mega-Prabowo bakal menimbulkan pecah kongsi antar partai koalisi Jokowi-Ma’ruf?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Pernyataan yang disampaikan Mega dan Prabowo dalam konferensi pers terkait apa yang mereka bahas memang normatif. Mereka mengaku membicarakan persoalan kebangsaan. Di tambah lagi, pernyataan yang sifatnya gimmick-gimmick politik terkait suasana yang terjadi saat pertemuan, menu makanan, dan lain-lain.

Tapi poin pentingnya, pertemuan Mega-Prabowo harus dimaknai sebagai upaya dua tokoh bangsa untuk mempersatukan kembali masyarakat yang mengalami polarisasi sejak Pilkada DKI Jakarta 2019 hingga Pilpres 2019 kemarin. Selain itu, bisa juga dimaknai sebagai upaya menginginkan persatuan Indonesia serta memperkuat NKRI dan Pancasila.

Pertanyaannya, apa betul tujuan pertemuan tersebut hanya sekadar itu? Tentu publik tidak begitu saja percaya bahwa apa yang dibahas hanya sekedar itu. Apalagi, saat ini sedang hangat-hangatnya untuk membahas tentang bagaimana format koalisi dalam pembentukan kabinet Jokowi-Ma’ruf. Jadi, pertemuan Mega-Prabowo masih banyak menyisakkan pertanyaan, terutama bagi pihak-pihak yang memiliki pandangan bahwa pertemuan tersebut memiliki tendensi politik.

Pernyataan Mega dan Prabowo kan komunikasi politik di atas panggung, yang biasanya memang normatif. Sehingga apa yang terjadi di belakang panggung, ya masih belum terjawab. Jadi, Wajar saja jika pertemuan Mega-Prabowo menimbulkan banyak spekulasi.

Dengan adanya pertemuan Mega-Prabowo, publik menilai seolah-olah ada tarik menarik kepentingan di internal koalisi Jokowi-Ma’ruf. Tapi, itu dibantah oleh Megawati sendiri bahwa pertemuannya dengan Prabowo sudah direncanakan sejak lama. Kebetulan pertemuan itu baru bisa dilaksanakan setelah ada empat pimpinan parpol pengusung Jokowi Ma’ruf tanpa keterlibatan PDIP di kantor Nasdem dan bersamaan dengan pertemuan Surya Paloh dengan Anies Baswedan.

Pertemuan empat pimpinan parpol di kantor Nasdem, Mega-Prabowo, lalu pertemuan Surya Paloh-Anies Baswedan seolah-olah menggambarkan adanya perbedaan kepentingan dan pendapat di antara partai-partai koalisi pendukung Jokowi Ma’ruf.

Publik bisa saja menyimbolkan bahwa pertemuan Mega-Prabowo akibat partai koalisi Jokowi-Ma’ruf tidak solid Karena pernyataan keduanya terkait apa yang mereka bahas dalam pertemuan tersebut bersifat normatif, sehingga masih menyisakkan sejumlah pertanyaan yang memunculkan berbagai pendapat spekulatif.

Meski begitu, nampaknya memang partai koalisi Jokowi-Ma’ruf belum clear membahas soal perlu tidaknya partai lain bergabung di pemerintahan Jokowi.

Untuk mengukur sejauh mana pertemuan Mega-Prabowo bisa membuat Gerindra bergabung ke koalisi Jokowi Ma’ruf, itu bisa dilihat dari beberapa aspek. Kalau pertimbangannya ideolegi partai, PDIP dan Gerindra boleh dibilang relatif sama. Artinya, bisa saja PDIP yang notabene pemimpin partai koalisi Jokowi-Ma’ruf membuka ruang kepada Gerindra untuk bergabung di pemerintahan.

Tapi tentu saja itu akan membawa konsekuensi bagi partai-partai pengusung Jokowi yang lain. Kalau kita bicara kalkulasi politik yang berujung pada porsi kekuasaan, nah inilah yang menjadi persoalan. Sehingga tidak bisa dimungkiri jika ada resistensi dari partai-partai koalisi pengusung Jokowi terhadap langkah Mega itu. Bahkan konsekuensinya bisa menimbulkan ketidakkompakan di internal koalisi pemerintah.

Bila Gerindra bergabung dengan koalisi Jokowi-Ma’ruf, ujung-ujung pasti soal bagaimana pembagian jatah menteri. Nah, beberapa partai yang selama ini berada di barisan Jokowi boleh jadi ada rasa khawatir jatah kursi menjadi berkurang. Tapi dari segi efektifitas koalisi, sebenarnya jika kabinet pemerintahan Jokowi nanti terdiri dari partai koalisi Jokowi-Ma’ruf plus Gerindra itu lebih efektif daripada menampung Demokrat dan PAN.

Parpol koalisi Jokowi-Ma’ruf sampai sekarang belum clear membahas soal partai-partai mana yang akan di akomodir di pemerintahan. Ujung-ujungnya nanti, komposisi kabinet tetap berada di tangan presiden terpilih. Tapi itu tidak mudah juga, partai-partai koalisi pengusung Jokowi merasa paling berhak karena sudah berjuang memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Pertemuan Megawati dan Prabowo Subianto hanyalah silaturrahmi biasa. Pertemuan biasa. Namun pertemuan itu memiliki arti dan makna yang strategis. Persaingan pengaruh di antara sesama partai koalisi Jokowi-Ma'ruf pasti ada. 

Pertemuan Megawati-Prabowo hanya sebagai bagian dari proses memuluskan rekonsiliasi. Rekonsiliasi yang akan dibangunkan bukan hanya Prabowo dengan Jokowi. Tetapi perlu juga dapat restu dari partai-partai koalisi Jokowi. Nah Megawati ini kan merupakan salah satu ketua partai koalisi Jokowi yang senior, wajar jika ditemui oleh Prabowo. Dan saya yakin Prabowo juga akan bertemu dengan Ketum-ketum partai koalisi Jokowi. Ini soal waktu saja. 

Partai koalisi Jokowi-Ma'ruf memang sedikit ada gejolak. Karena persoalan Gerindra yang akan masuk koalisi Jokowi. Gerindra mengincar Ketua MPR RI. Juga melakukan bargaining jabatan menteri. Yang tentu ini akan mengurangi jatah menteri partai-partai koalisi Jokowi. Nah, inilah yang membuat mereka marah dan menolak Gerindra.

Pasca pertemuan Megawati-Prabowo, konstelasi politik masih akan memanas dan tegang. Karena ini kan persoalan siapa dapat apa kapan dan bagaimana. Ini kan soal perebutan kekuasaan. Persoalan bagi-bagi jabatan, pasti akan menimbulkan gesekan. Namun ujung-ujungnya riak-riak dan gejolak di internal partai koalisi Jokowi akan beres. Jika mereka mendapatkan jatah yang telah dijanjikan. 

Semua kemungkinan bisa terjadi. Tapi pertemuan Megawati-Prabowo tidak akan menyebabkan pecah kongsi antar partai koalisi pengusung Jokowi-Ma'ruf. Karena Jokowi yang akan kendalikan. 

Namun memang perebutan pengaruh di antara sesama partai koalisi Jokowi sedang terjadi. Siapa yang kuat dialah yang akan berpengaruh. Dan siapa yang lemah, merekalah yang kalah. Akan masuknya Gerindra, memang telah membuat partai-partai koalisi Jokowi meradang. Namun semuanya harus tenang. Kan semuanya masih bisa dimusyawarahkan. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF