Pelukan Jokowi-Prabowo Diharapkan Berlanjut
berita
Politika
Sumber Foto : tribunnews.com (gie/watyutink.com) 31 August 2018 14:00
Kehadiran Presiden Joko widodo dan Prabowo Subianto di arena final pencak silat Asia Games 2018, Rabu (29/82018) menjadi trending topic di media sosial. Bakal capres di Pemilu 2019 itu terpantau duduk berdampingan, bahkan keduanya terlihat akrab. Selain mereka, ada juga Ketua Kontingen (CdM) Indonesia di Asian Games 2018, Komjen (Purn) Syafruddin, Menteri Koordinator PMK Puan Maharani, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri.

Menariknya, ada momen langka yang terjadi setelah pertandingan final pencak silat Asian Games 2018. pesilat Hanifan Yudani Kusumah, yang keluar sebagai juara, memeluk Presiden Jokowi dan Prabowo. Sontak saja momen pelukan Hanif, Jokowi dan Prabowo mendapat tepuk tangan haru dari ribuan penonton yang hadir.

Jokowi pun mengukapkan kesannya setelah momen itu. Ia mengatakan Prabowo baunya harum, “tapi baunya harum karena menang”. Apapun kalau menang, baunya harum. Begitu juga Prabowo mengaku gembira saat ditanya mengenai momen pelukan itu, "perasaannya gembira dan kita satu keluarga”.

Bertolak dari citra damai yang dipertontonkan Jokowi dan Prabowo, tak berlebihan bila publik bertanya-tanya, apakah momen final tersebut dapat meruntuhkan perbedaan negatif di antara pendukung keduanya yang kerap mewarnai tabir politik Indonesia? Dan juga, apakah momen ini akan berlanjut saat masa kampanye Pemilu Presiden 2019?

Di satu sisi, sejumlah pengamat politik menilai ajang Asian Games 2018 bisa saja di“manfaatkan” sebagai panggung politik bagi para konstestan. Mereka yang mempunyai kepentingan politik pada Pemilu 2019 bisa memanfaatkan liputan media massa gratis. Citra positif bisa dibangun yang nantinya bisa semakin meningkatkan popularitas menjelang pemilu nanti. Apa iya?

Memang, selama penyelenggaraan Asian Games 2018, Jokowi selalu menyempatkan diri mendukung langsung perjuangan para atlet-atlet Indonesia. Sementara kehadiran Prabowo di venue pencak silat juga hal yang wajar mengingat beliau berstatus sebagai ketua IPSI.  Pertanyaannya, apakah keberhasilan-prestasi selama gelaran Asian Games nantinya akan digunakan sebagai bahan kampanye di Pilpres 2019 nanti?

Bukan sesuatu yang aneh dan baru, jika ada politikus hari ini berprilaku A, esok berubah jadi B, lusa lagi jadi C, D,E,G dan seterusnya, kemudian dianggap wajar dan biasa saja, karena ada kepentingan yang jauh lebih diutamakan. Pada titik ini pertanyaan kritisnya, apakah momen ini sebagai upaya untuk menciptakan pemilu yang damai atau jangan-jangan hanya upaya “berebut” pencitraan?

Wajar kalau pertanyaan ini muncul ketika momen kehangatan itu berlangsung, Presiden Jokowi mengarahkan handphone-nya kepada rivalnya yang sontak menjadi perhatian warganet. Seperti diketahui, Presiden Jokowi memang hobi membuat vlog. Hampir di setiap momen beliau abadikan dalam sebuah video dan dibagikan keseluruh media sosialnya. Sedangkan Prabowo sebaliknya. Jika benar Prabowo ada dalam vlog Presiden Jokowi, maka ini vlog perdana presiden Jokowi dengan Prabowo menjelang Pilpres 2019. Lalu, siapa yang diuntungkan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar, Spesialis Bisnis Internasional, Ahli dalam Bisnis, Pemasaran, Pendidikan, Organisasi dan Manajemen

Saya membaca momentum dengan rekonsiliatoris itu dengan berterimakasih kepada Prabowo Subianto yang tetap teguh berpegang kepada prinsip negara Indonesia yang Pancasilais. Pentas dan kontestasi politik, sesengit apapun memang seharusnya menghadirkan suasana keteduhan dan kegembiraan. Bukan kegelisahan, caci maki apalagi pertumpahan darah.Apa yang terjadi di pentas Asian Games tersebut seharusnya diapresiasi dan diperbanyak. Berbagai tindakan simbolik semacam itu penting untuk menciptakan kesejukan terutama di massa akar rumput.

Sebelumnya, Prabowo Subianto pun dengan tegas dan gagah perkasa memilih Sandiaga Uno sebagai cawapresnya, bukan dari kelompok lain yang deras mendesakkan calon-calon yang memiliki latar belakang orientasi politiknya ke luar Indonesia. Sinyal-sinyal jelas itu menunjukkan komitmen Prabowo Subianto buat Indonesia yang setia kepada Indonesia, bukan kepada kekuatan asing.

Prabowo Subianto menunjukkan bahwa di tengah kontestasi pileg dan terutama pilpres yang keras ia tetap dekat dengan Jokowi dan Megawati Sukarnoputri dalam bingkai ke Indonesia an. Dengan ini Prabowo Subianto pun membuktikan bahwa dia tidak bisa didorong atau didesak ke arah yang tidak disukai Prabowo Subianto, misalnya oleh rekan koalisinya ataupun oleh pendukungnya yang lain. Sebuah langkah kuda politik yang pintar dari Prabowo Subianto. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Kehadiran tokoh politik. Capres di Asian Games 2019 sedikit akan dapat menurunkan tensi persaingan antara kubu Jokowi dan Prabowo. Boleh saja pertemuan kedua tokoh capres ini di Asian games ini di interpretasikan macam-macam oleh elite politik maupun kaum intelektual di negeri ini.

Namun, hal paling positif yang dapat kita lihat bersama di ajang Asian Games ini dengan saling berangkulan kedua capres ini sangat menyejukan kita semua baik itu dari pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Peristiwa ini bisa menjadi contoh kedewasaan berpolitk dari kedua tokoh ini patut diteladani terlepas, apakah ini strategi politik dari masing-masing kandidat untuk mencari simpati masyarakat.

Yang jelas di depan mata kita telah dipertontonkan dengan sikap kenegarawan dari kedua tokoh bangsa ini yang akan bertarung di Pilpres 2019 nanti. Mudah-mudahan saja tidak ada strategi-strategi politik dibalik momen saling rangkulnya kedua tokoh ini.

Dalam artian demi berjuang membela bangsa dan negara ini sudah selayaknya semua anak bangsa harus saling mendukung dan saling memberikan apa yang dimilikinya tanpa melihat perbedaan-perbedaan yang ada.

Pertanyaanya kenapa kedua tokoh bangsa ini bisa rukun sedangkan kita dibawah saling serang menpertahankan militansi ke masing-masing dukungan? Apakah kita tidak bisa berfikir jernih bahwa perhelatan pilpres ini hanya sifatnya sementara saja dan setelah itu kita akan bersatu kembali untuk NKRI?

Mungkin hal seperti ini yang hatus kita pahami bersama bahwa pesta demokrasi itu adalah pesta rakyat dan rakyat akan menentukan pemimpinya. Hendaknya saling serang di medsos kita sudahi dan kita memilih sesuai program.visi.misi dari kedua tokoh yang akan berkompetisi ini.

Sebaiknya juga kedua tokoh ini adu gagasan adu program untuk kemajuan bangsa dan negara dan jangan menggunakan issu-issu yang bernuansa memecah belah rakyat yang tidak mengerti politik. Sudah saatnya hilangkan isu SARA yang selama ini berpotensi memecah belah bangsa, mari kita manfaatkan momemtum pilpres ini sebagai pesta demokrasi yang memberi pendidikan politik kepada masyarakat untuk lebih dewasa dalam berdemokrasi.

Kita semua berharap agar kejadian rukunnya kedua tokoh capres ini di Asian games ini akan memberikan contoh yang sangat positif bagi para pendukung masing-masing kandidat. Semoga Pilpres 2019 yang kita harapkan kan berjalan dengan aman dan damai dapat terwujud dan kita bisa memilih dengan LUBER ( Langsung.Umum.Bebas dan  Rahasia). (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Hari Rabu kemarin terjadi terobosan psikologis luar biasa ketika pemenang medali emas Hanifan memeluk Presiden RI Jokowi dan Presiden IPSI Prabowo Subianto di depan jutaan penonton TV. Semoga ini menjadi perlambang kematangan demokrasi Indonesia dan pemilu legislatif maupun Pilpres 17 April 2019, berlangsung aman nyaman damai tanpa gejolak apalagi kekerasan berdarah model suksesi 1966 dan 1998.

Kiranya olahraga Asian Games 2018 bisa merupakan katalisator ajaib merekatkan kembali luka SARA Pilgub DKI, dengan belbagai perolehan medali oleh atlet keturunan Tionghoa sehingga bangsa ini bisa kembali ke Pancasila sejati, bhinneka tunggal ika, meritokrasi dan penghormatan kepada kinerja sesama bangsa diberlbagai kehidupan, apakah sebagai atlet maupun sebagai politisi.

Tidak ada zero sum game, semua bisa diulang, revans secara damai dan win-win solution. Kita sudah diabad XXI bukan Gladiator sebelum Masehi yang harus bertarung sampai mati satu sama lain sebagai pola pertarungan final.  Di zaman modern ini kalah menang bisa diulang dalam turnamen selanjutnya tidak perlu semua hal diselesaikan secara zero sum game, salah satu harus mati.  Itu juga politik zaman modern, pasca suksesi dan kudeta primitif. From the bullet to the balot itulah hakekat demokrasi dan suksesi serta rekrutmen politisi menjadi negarawan dan pimpinan. Apakah bernama Presiden atau Perdana Menteri. Kali ini si A menang termin selanjutnya si B atau si A lagi, kalau memang bisa diizinkan lebih dari 1 termin.

 Beberapa negara bahkan sudah membatasi 1 termin supaya tidak ada vested interest menyalahgunakan jabatan untuk bertahan. Semua itu merupakan akumulasi pengalaman sejarah seluruh bangsa bukan cuma Indonesia. Kalau kita tidak mau belajar dengan dewasa, dan tetap berkukuh mau memakai pola gladiatar bernuansa SARA untuk mengacaukan pemilu menjadi anarki primitif primordial, maka bangsa ini akan mengalami kemunduran besar luar biasa.

Syukur terobosan Wewey Wita dan Hanifan serta banyak lagi atlet berjiwa nasionallis tanpa pamrih dan beban SARA, telah mengentaskan bangsa ini dari primordialisme primitif zaman baheula. Dengan terobosan kedamaian pelukan Hanifan kepada Jokowi dan Prabowo diharapkan pemilu legislatif dan pilreps 17 April 2019 akan aman damai nyaman dan sukses mengantarkan Indonesia kegerbang status negara demokrasi mantap, matang, dewasa dan panutan seluruh dunia. (cmk)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen STAIN Bengkalis

Dalam kamus politik tidak ada musuh abadi, yang ada adalah kepentingan itu sendiri. Kalimat sederhana ini menggambarkan wajah politikus laksana seorang artis yang harus bisa memerankan yang terbaik dalam setiap momen. Kegagalan membaca moment, maka kerugian baginya.

Ketika ada pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dan yang dirugikan, tergantung dari  dari masing-masing timses mengemas sebagai suatu iklan yang menarik. Karena, daya beli barang akan naik jika iklan tersebut bisa memberi kesan positif kepada masyarakat.

Saya menilai, baik pak Prabowo atau Jokowi sama sama diuntungkan. Pak prabowo sebagai ketua umum IPSI, bisa menunjukan keberhasilan nya. Namun juga tidak kalah dahsyatnya, pak Jokowi adalah presiden nya, dan hal yang luar biasa Asian Games tahun ini merupakan Asian Games yang cukup berprestasi dalam berbagai bidang olahraga. Ini prestasi Jokowi yang menurut saya sangat luar biasa. Artinya, dalam berbagai sisi, jokowi masih lebih diunggulkan dari efek berpelukan.

Hal ini ditambah gaya Jokowi yang nge-vlog, adalah sebagai bentuk perilaku politik kaum milenial. Sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh Prabowo. Namun, politik tetap politik. Setetes air sangat penting untuk mengurangi kegersangan.

Secara pribadi sikap dua orang capres ini patut diapresiasi. Bahwa ada suatu yang lebih penting saat sekarang ini, yaitu melaksanakan pilpres dengan baik dan bisa dipertanggung jawabkan secara moral dan hukum. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati Sosial, Spasial & Lingkungan

Momen saat pelukan mereka bertiga, Hanif, Jokowi, dan Prabowo, yang dapat merepresentasikan keakraban ternyata momen yang sangat dirindukan oleh bangsa Indonesia, ditandai dengan riuhnya tepuk tangan haru ribuan penonton di lokasi pertandingan pencak silat Asia Games 2018. Ya, rakyat Indonesia sudah bosan dan jenuh dengan kegaduhan baik di ‘udara’ seperti media sosial ataupun di ‘darat’ dengan saling menyerang dan menghalau antar ‘kubu’. Kejadian yang dilakukan para kalangan bawah. Entah ada perintah atau tidak. Tetapi para elit di atas terlihat akrab. Paling tidak itu yang terlihat kasat mata. Kita cuma bisa berharap keakraban tersebut dapat menular hingga kalangan sosial masyarakat bawah.

Baik Jokowi ataupun Prabowo wajar saja memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan citranya. Jokowi sebagai capres sekaligus kepala negara yang selalu mendukung para atlet Indonesia. Prabowo, selain juga capres pun sebagai pucuk pimpinan IPSI yang pasti selalu eksis dalam perhelatan pencak silat yang kini menjadi primadona dan lumbung emas bagi Indonesia di Asian games ini. Siapa dapat memanfaatkan momen, dia yang dapat menuai dari kebermanfaatan di era informasi dan media sosial ini. Momen tidak datang dua kali. Maka manfaatkan sebaik-baiknya. 

Penilaian masyarakat apakah ini pencitraan atau bukan, tak usah dihiraukan. Yang penting manfaatkan sebisa mungkin momen yang ada. Wajar saja jika mereka berlomba memanfaatkan momen. Justru aneh jika tidak tahu atau tidak dapat mendeteksi momen berharga ini.  Dan jangan lupa, ide brillian dan spontan dari seorang Hanif untuk memeluk mereka berdua sehingga memberikan kesan positif dan persatuan dari kedua kubu. Kejadian ini diharapkan dapat memberikan dampak persatuan dan perdamaian dalam menghadapi perhelatan pilpres yang akan datang.

Mengenai persaingan kontestasi capres tahun depan hadapi saja secara sportif. Saat waktunya kampanye, silakan masing-masing kubu berkampanye dengan damai. Di sini diuji kembali aparat dan penguasa untuk bertindak seadil-adilnya. Rakyat makin pintar dan dapat menilai, jika ada kebijakan berstandar ganda, dapat dengan mudah menjadi preseden negatif pembuat kebijakan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Cendikiawan Muslim Nahdlatul Ulama (NU), Staf Ahli Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP), Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya

Olahraga bukan sekadar menang dan kalah. Melampaui itu. Mengajarkan sportivitas dan kejujuran. Ternyata yang menyatukan politik bipolar capres-cawapres bukan silat lidah, tapi pencak silat.

Jokowi dan Prabowo berangkulan. Harapannya bukan hanya fisik tapi juga jiwanya. Tidak sekedar jasad tapi merembesi sukmanya. Bahwa relasi kemanusiaan jauh di atas segalanya. Politik itu fana, yang abadi adalah silaturahmi. Pilpres hanya lima tahun sekali, tapi pewarisan karakter politik adiluhung akan menjadi pandu yang melintasi ruang waktu.

Pesan simbolik itu tentu saja diharapkan berimbas kepada supertor, simpatisan, tim sukses dan kaum pemilih. Sehingga menjelang pilpres 2019 tidak lagi kita temukan pelintiran kebencian, berkecambahnya hoax, kampanye hitam atau tagar (tanda pagar) yang jauh dari kesantunan.

Asian Games 2018 bukan hanya layak dirayakan karena telah melampaui target medali emas yang dicanangkan, tapi juga menginjeksikan makna penting kejujuran, perkawanan, dan sportivitas dalam hal ihwal. 

Jojo dan kawan kawan, terimakasih telah mengorbitkan kegembiraan sekaligus sudah kembali membersitkan kebanggaan sebagai bangsa. Kalian menyatukan yang bersengketa dan memaknai nasionalisme secara nyata dan penuh gempita. O ya, tentang tubuhmu yang kotak-kotak semoga menjadi inspirasi tersembunyi bahwa kita tak boleh tersandera politik identitas kotak-kotak. Selebihnya, biarkan ibu ibu sekejap histeris menjumpai tubuhmu yang berbanding terbalik dengan rupa tubuh suaminya di rumah. Selamat ya. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Rekonsiliasi di tengah suhu politik yang demikian panas ibarat 'mimpi di siang bolong'. Apalagi sekarang ini pertarungan sudah sampai ke tahap fisik dan SARA, sementara fitnah dan kebencian terus berhamburan di segala pelosok negeri.

Nyaris tak ada lagi yang berbicara tentang kepentingan rakyat dan HAM.  Yang ada adalah "kita harus menang! " dengan cara apapun. Demokrasi pun tertinggal makin jauh di belakang!

Para pejuang demokrasi dan HAM yang pernah gigih melawan Orba, setelah dapat jatah kekuasaan dan uang,  kini bahkan bergaya seperti rezim yang telah tumbang itu. Persis angkatan 66 yang ikut menumbangkan rezim Soekarno demi tegaknya demokrasi.

Agama seolah kehilangan kesakralannya, dan menjadi alat untuk membangun solidaritas politik. Obyek pemujaan beralih dari Yang Maha Kuasa menjadi capres.

Dengan penuh napsu kekuasaan,  para binatang politik yang berprofesi macam-macam beraksi bagaikan tentara di medan perang.  Siapa saja yang bukan kawan adalah lawan yang wajib digempur.

Mereka yang berpendidikan tinggi bukan pengecualian. Banyak dari mereka terang-terangan terjun sebagai provokator. Ikut menebar ketakutan seolah kalau junjungan politiknya kalah  Pilpres, Indonesia akan kacau-balau bahkan bubar.

Pers juga kian sulit dipercaya karena keberpihakannya makin tak kenal malu. Wartawan seolah bekerja hanya untuk melayani para majikan yang punya berbagai kepentingan politik.

Sialnya lagi,  para wartawan sendiri banyak yang ikut bermain demi segempok uang atau kekuasaan atau keduanya.

Semoga masyarakat sadar bahwa politik adalah permainan kekuasaan untuk kepentingan sekelompok kecil orang yang berada di puncak piramida ekonomi dan politik sehingga tidak perlu ikut saling benci apalagi sampai melakukan kekerasan.

Meski belakangan ini berbagai Ormas,  termasuk yang dadakan, sering muncul di TV dengan berbagai kekerasan fisik maupun verbal, sebaiknya jangan anggap mereka serius mewakili kepentingan rakyat. Mereka cuma sebagian dari pion yang tersebar di segala pelosok Indonesia.

Ringkas kata,  masyarakat harus cepat sadar bahwa para binatang politik sedang menggila.  Mereka tak perduli bila aksi-aksi mereka akan membangun citra bahwa seolah fitnah dan kekerasan sudah menjadi identitas nasional.

Ingat kata mendiang John Lennon, "didalam diri diri kita ada Hitler. Tapi kita juga punya rasa cinta dan perdaiaman.  Maka berilah perdamaian kesempatan. Give peace a chance! " (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI

Olahraga itu bahasa dunia. Kegiatan yang bukan semata fisik saja, namun juga mengandalkan kekuatan otak dan kecerdasan manusia. Dipertandingkan antar bangsa di dunia yang menjunjung tinggi nilai  fair play, sportivitas, dan keteraturan hukum.

Olahraga mampu menyatukan keperbedaan politik. Menghilangkan sekat etnis, ras, golongan, dan stratifikasi sosial. Semua sekat dan perbedaan itu menjadi hilang, tergantikan oleh perasaan dan keberpihakan untuk kemenangan negara bangsa dalam  pertandingan.

Atlet pujaan tidak dilihat dari agama, ras, dan sukunya. Tapi diukur dari ketangguhannya berlaga memenangkan pertandingan. 

Kultur olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas, fair play, profesionalitas, dan kecintaan terhadap prestasi negara bangsanya mengukir prestasi, telah mempertemukan calon presiden Prabowo dan Jokowi.

Masyarakat tentu senang, lega, dan gembira atas pertemuan itu. Mereka akrab bak saudara sekandung. Tidak ada tirai pembatas. Apalagi ada Bu Megawati dan Wapres Jusuf Kalla sebagai saksi.

Hal itu menjadi tuntunan sejarah politik yang baik. Bahwa meskipun berbeda dalam posisi dan pandangan politik, tengah melangsungkan kompetisi di pilpres nanti, tidak menjadi penghalang untuk memberikan energi bagi atlet yang berlaga di lapangan Asian Games.

Seharusnya, tradisi politik seperti ini dapat merembes ke tingkat akar rumput. Sejuk dan damai, meski sedang berkompetisi.

Kompetisi politik dalam pemerintahan demokrasi melalui saluran pemilu telah kita laksanakan secara konstitusional setiap lima tahun sekali. Seiring waktu, bangsa Indonesia sudah berpengalaman bahwa kompetisi itu semakin hari semakin terlembaga dengan baik. Kesadaran politik rakyat meningkat karena arus informasi dan iptek setiap detik hadir di rumah-rumah, meski rumah kita di pelosok desa.

Demokrasi di era digital harus diarahkan untuk penguatan kelembagaan dan peningkatan kecerdasan politik rakyat.

Masyarakat senang jika pemimpin nasional sering bertemu, tertawa riang, berbicara tentang perjuangan prestasi dan kemajuan bangsa. Upaya membangun kultur politik elit yang intelek dan argumentatif diperlukan agar proses politik berjalan secara kualitatif, jernih, dan bersih. Tidak terjebak pada ukuran elektabilitas dan popularitas, yang terkadang dapat menyesatkan dan membuat kecerdasan bangsa menjadi kerdil dan hilang.

Wacana politik Indonesia harus di isi oleh narasi kebangsaan dan penyebaran energi positif untuk memperkuat dan memajukan bangsa. Siapapun yang berkuasa. Kekuasaan itu harus mensejahterakan.

Perebutan kekuasaan melalui jalur elektoral pemilu harus menjadi titik tumpu demi membangun peradaban Indonesia yang adil, makmur, dan beradab. Buat apa berkuasa tapi menyengsarakan rakyat. Buat apa punya kuasa tapi tak memberi manfaat untuk rakyat, bangsa, dan negara.

Jadi, kebersamaan pimpinan nasional di tengah perebutan kekuasaan harus diarahkan untuk tetap pada jalur demokrasi. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Duta Besar RI untuk Jepang 1979-1983, Gubernur Lemahanas 1974-1978, Wakasad 1973-1974

Menurut saya Asian Games 2018 menguntungkan Jokowi dan Prabowo dalam memperjuangkan ambisi politik mereka. Jokowi untung karena Asian Games 2018 berjalan lancar dan hasilkan prestasi tinggi ketika ia berfungsi sebagai Presiden RI. 

Begitu juga Prabowo untung karena cabang OlahragaPencak Silat membuat prestasi mencolok  dengan merebut semua mendali yang dilombakan ketika ia jadi Ketua Pencak Silat Indonesia (IPSI). 

Secara tidak langsung berapa banyak keuntungan itu berdampak pada perjuangan politik mereka amat tergantung pada kemampuan mereka masing-masing mengambil manfaat dari keuntungan yang mereka peroleh. Itu baru terlihat setelah Asia Games 2018 selesai. Termasuk usaha dari kalangan-kalangan yang mendukung mereka masing-masing. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Ketua DPW Kombatan Bali, Dosen Universitas Mahendradata Bali

Berangkulan kedua capres Probowo-Jokowi ketika bertemu adalah kultur nusantara kita yang sebenarnya saling menghargai. Keakraban dari dua pasangan kandidat ketika bertemu, apalagi di depan publik adalah hal yang wajar. Justru saling sindir dan nyinyir adalah yang dilakukan para pendukung. Padahal oknum pendukung belum tentu dikenal Prabowo atau Jokowi. Lalu siapa yang memperkeruh situasi politik saat ini?

Satu kekuatan yang tergabung pada kubu Jokowi adalah tokoh prulalisme karena mengakui bahwa Bhineka Tunggal Eka, menaungi kultur Nusantara yang beragam suku adat , ras, agama bagian kekuatan sejatinya nusantara yang bernama Indonesia.

Probowo pun adalah tokoh nasionalis cuman dimanfaatkan kelompok kelompok tertentu untuk meraih tujuan yang tentu di indikasikan berbanding terbalik dengan tujuan NKRI harga mati. Meskipun itu baru dugaan namun dalam kemajuan dan keterbukaan komunikasi informasi justru secara vulgar diungkapkan ada gejala gejala yang bertentangan dengan kuktur bangsa ini. Kepentingan kelompok ektrim kanan dimana agama dipolitisi menyebabkan kegundahan rakyat yang banyak tidak memaknai indahnya persatuan.

Serangan-serangan ini bukan baru periode ini terjadi, tetapi sudah sejak dulu. Pada pemerintahan Presiden Sukarno hingga periode Jokowi pun gerakan gerakan ini ada bahkan sekarang lebih terbuka dan vulgar. Oleh karena itu sikap berangkulan kedua kandidat Presiden adalah kultur anak bangsa ketika berada di hadapan publik. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Pelukan Jokowi dan Prabowo di ajang Pencak Silat Asian Games 2018 menjadi viral di berbagai media. Adegan pelukan yang menandakan kemesraan kedua tokoh yang akan berlaga di Pilpres 2019 mendatang itu menjadi perbincangan publik. Saya menilai peristiwa itu bagaikan oase di padang pasir yang panas dan kering, dan dapat menjadi penyejuk di tengah memanasnya suhu politik saat ini. Dia berharap momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk meredakan ketegangan yang terjadi di akar rumput. Sehingga para elite politik yang lain, termasuk para penggerak aksi 2019 Ganti Presiden semestinya bisa belajar dari sikap Jokowi dan Prabowo.

Sejatinya adegan pelukan Jokowi dan Prabowo memiliki pesan politik yang hendak disampaikan ke khalayak. Pesan yang terselip dalam pelukan dua bakal Capres 2019 tersebut adalah perdamaian. Keduanya secara tersirat ingin menyampaikan pesan agar Pilpres 2019 berlangsung damai. Selain pesan perdamaian, makna pelukan yang dilakukan di tengah arena Asian Games 2018, tepatnya di ajang pertandingan Pencak Silat tersebut memiliki makna agar Pilpres 2019 berlangsung fair play, profesional, saling menghormati, siap menang dan siap kalah. Seolah ingin menghimbau agar pertarungan pilpres belajar dari pertandingan pencak silat di Asian Games. Siapapun pemenangnya tetap harus saling menghormati dan mengedepankan  persatuan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Pelukan mesra Jokowi-Prabowo bisa menurunkan ketegangan di akar rumput asalkan diikuti dengan instruksi dan komando oleh kedua tokoh beserta tim pendukungnya. Tapi jika tidak, maka kemesraan kedua capres tersebut hanya menjadi fatamorgana.

Tapi memang tidak mudah mengendalikan emosi pendukung fanatik. Apalagi di tengah kultur politik yang saling menegasikan seperti yang terjadi saat ini. Meskipun tokoh sentral sudah memberikan contoh berpolitik yang baik tetapi pengaruhnya tidak signifikan dalam mencegah ketegangan terutama ketegangan di media sosial.

Faktor lainnya adalah syahwat politik yang mengaibaikan etika dan moral lebih mendominasi ruang politik menjadi penyebab kegaduhan politik selama dua dekade ini. Untuk itu sikap Jokowi dan Prabowo yang telah memberikan contoh berpolitik yang menjunjung tinggi persatuan ini harus terus dilakukan dan menjadi contoh bagi elit politik yang lain. Tapi catatan pentingnya adalah harus diikuti dengan membangun kesadaran kolektif di masyarakat tentang berdemokrasi yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Jadi harus menggunakan pendekatan secara holistik untuk membangun kultur politik dan demokrasi yang sehat sesuai dengan jiwa Pancasila. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

Di tengah maraknya masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan RI ke 73 kita mendengar berita yang sangat mengkhawatirkan bagi kesatuan dan persatuan bangsa yaitu terjadinya bentrokan antara dua kelompok massa pro dan kontra # 2019 Ganti Presiden di depan masjid Kemayoran, Surabaya, 26 Agustus 2018.Peristiwa ini menjadi preseden buruk bagi perkembangan demokrasi Indonesia menjelang pilpres 2019. Energi rakyat terus dikuras dan digiring dalam persaingan politik tingkat elit demi memperjuangan kekuasaan.

Saling hujat, caci maki terus terjadi, seakan tidak akan mau berhenti di anak negeri yang merindukan kontestasi politik yang penuh arti. 

Pendidikan politik rakyat seharusnya terus digulirkan agar rakyat bisa memaknai bahwa pemilu adalah pesta rakyat yang penuh suka cita dan bukan aksi massa yang saling berhadapan. Kondisi yang mencemaskan ini direspon sangat positip oleh kehadiran calon presiden Jokowi dan Prabowo Subianto di arena final pencak silat AsianGame 2018, Rabu, 29 Agustus 2018. Ini menunjukk

anjiwa kenegarawan dan kebangsaan kedua tokoh nasional tersebut bahwa demi kepentingan dan harga diri bangsa mereka harus bersatu di tengah kontestasi sebagai peserta Pilpres 2019.

Citra damai yang dipertontonkan kedua tokoh tersebut akan dapat meredahkan konflik politik yang semakin panas menjelang Pilpres 2019.

Sikap kedua tokoh tersebut menjadi pelajaran bagi para massa pendukung  bahwa di antara mereka tidak ada masalah secara personal. Momen ini merupakan pelajaran bagi masyarakat awam bahwa di tingkat elite sebenarnya tidak ada masalah di antara mereka. Permasalah utama mereka adalah perebutan kekuasaan. Demi kekuasaan seakan-akan di antara mereka saling berhadapan, saling menjatuhkan satu sama lain demi mewujudkan kekuasaan tersebut. Kepentingan elit ini harus disikapi dengan bijak oleh masyarakat bahwa dalam politik itu merupakan suatu kewajaran.

Dalam aksioma politik mengatakan bahwa tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang tetap dan yang tetap adalah kepentingan. Biarkan kandidat presiden berimprovisasi sesuai dengan minat dan hobi nya masing. Jokowi dengan vlog nya, dan Prabowo dengan kudanya. Masing-masing tentu saja ada muatan politik untuk menarik simpati masyarakat. 

Lepas dari pada itu momen kehangatan Jokowi-Prabowo akan segera berakhir ketika kampanye Pilpres 2019 akan dimulai. Masyarakat di akar rumput harus menyadari jangan sampai Pilpres 2019 terjebak dalam kampanye politik indentitas (suku, etnis,agama dan ras) yang akan diusung oleh kelompok-kelompok tertentu yang dapat membahayakan bagi nilai-nilai kebangsaan kita.

Mudah-mudahan Pemilu Presiden dan Legislatif 2019 dapat berjalan secara damai dan lancar serta masyarakat akan menjadi pemilih yang cerdas, yang bebas menentukan pilihan sesuai dengan hati nurani nya. ,(cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik