Perang Bintang Timses Capres 2019
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 10 September 2018 09:00
Teka-teki siapa sosok Ketua Timses kedua Capres pada Pilpres 2019 sedikit terjawab sudah. Nama Erick Thohir mendadak jadi pembincangan hangat setelah dirinya terpilih sebagai Ketua Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. Pengumuman itu langsung disampaikan Jokowi di Posko Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/9/2018).

Dalam pengumuman itu, Jokowi menyampaikan sosok Erick Thohir adalah pengusaha sukses, “yang memiliki media, memiliki klub sepak bola, memiliki klub basket dan lain-lainnya”. Selain itu, Jokowi juga menegaskan, apapun yang dipimpin Erick Thohir selalu berakhir dengan sukses. Apa iya? Pasalnya, dalam kancah politik nasional, Erick Thohir belum memiliki jam terbang, apalagi harus menakhodai ribuan bahkan jutaan relawan dalam suatu kontestasi sekelas pilpres. Ditambah lagi, TKN Jokowi - Ma'ruf Amin berisi para politisi senior dengan beragam kepentingan yang mengiringi.

Pertanyaanya, sejauhmana peluang kesuksesan Erick Thohir dalam berbagai bidang seperti yang disampaikan Jokowi tersebut bisa memberikan kesuksesan juga dalam ajang gelaran pilpres nanti? Wajar kalau pertanyaan ini muncul karena dunia usaha dan dunia politik adalah dua hal yang berbeda.

Namun demikian, tentunya dengan ditunjukanya Erick Thohir sebagai Ketua Timses Jokowi-Ma’ruf Amin telah melalui berbagai pertimbangan penting. Mungkin saja dengan menempatkan sosok Erick Thohir sebagai ketua timses dapat dibaca sebagai salah satu upaya untuk menutupi “kelemahan” Ma’ruf Amin yang kita ketahui kurang milenial dari sosok usia. Pertanyaanya, sejauhmana sosok Erick Thohir nantinya mampu mewakili image kaum milenial? Mengingat pada Pilpres 2019 kaum milenial terdaftar sebagai pemilih terbanyak.

Sementara, di kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, nama Djoko Santoso, yang kini menjabat anggota Dewan Pembinan Partai Gerindra disebut-sebut sebagai kandidat kuat sebagai ketua timses. Walau pun belum ada keputusan resmi soal ini. Namun, dengan wacana ini banyak pihak menilai Djoko Santoso lebih unggul dibandingkan Erick Thohir dalam hal pengalaman karena sudah lebih dulu berkecimpung dikancah politik nasional. Ditambah lagi Djoko Santoso berlatarbelakang militer tentu mempunyai nilai lebih dalam membaca peta politik dan mengatur strategi.

Yang menjadi tanya, sejauhmana keunggulan pengalaman dalam dunia politik yang dimiliki Djoko Santoso dapat meningkatkan elektabilitas dan memperluas daya pengaruh Prabowo Subianto-Sandiaga Uno khususnya energi emak-emak dan kaum milenial? Lalu, bagaimana dengan rumor yang beredar mulai dari capres, cawapres, hingga ketua tim pemenangan seluruhnya adalah kader Gerindra?

Di satu sisi, peran timses adalah kepanjangan tangan para kandidat untuk memperkenalkan atau tepatnya mempromosikan apa yang harus diketahui publik mengenai sosok dan karakter kandidat serta program-program yang akan dilakukan. Untuk hal itu dibutuhkan figur “panglima perang” yang pandai berstrategi dan mengatur pasukannya dalam bertempur.

Saat ini mendekati gelaran pilpres, atmosfer politik Indonesia bukan lagi ditentukan oleh pertarungan elite-internal, tapi berpusat pada pertarungan “persepsi publik,” sehingga panggung tontonan menjadi dramaturgi yang memainkan peran sentral dalam mendongkrak elektabilitas. Siapa yang menguasai panggung tontonan, dia sudah menguasai panggung politik publik. Di sinilah perang sebenarnya untuk bisa menjaring suara paling banyak dan memenangkan konstetasi.

Pertanyaan kritisnya, bagaimana head to head potensi kesuksesan kedua “panglima perang” ini?  

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wakil Ketua DPW Kombatan Bali, Dosen Universitas Mahendradata Bali

Awalnya banyak figur peringkat teratas yang sering ditandemkan capres-cawapres oleh para pengamat, politisi, rakyat dan juga para nitizen. Mereka umumnya punya alasan kuat untuk mentandemkan capres-cawapres dengan track record, kepinteran, kedekatan dan tokoh tokoh yang peduli sebagai pembicara kondisi rakyat. Banyak yang menunggu-nunggu cawapres, siapa terpilih?  

Ketika Jokowi mengukuhkan Ma'ruf Amin sebagai cawapres banyak yang tersentak. Ibarat masang lotre semuanya jebol (kalah) karena dugaan mereka meleset telak. Ma'ruf Amin ibarat berlian dalam lumpur siapa pun rasanya tidak menduga tokoh ini akan muncul mencuat terdepan.

Tokoh seorang Ma'ruf tokoh agamais yang memiliki nasionaliame serta agamais yang dapat tampil dimanapun termasuk kelompok kelompok bersebrangan. Ketokohan Ma'ruf Amin bagi umatnya mengalahan kaliber Habib Rizieq Shihab, sehingga Habib Rizieq Shihab maunya tidak ambil bagian dari perhelatan politik Pilpres 2019. 

Langkah yang diambil Jokowi membuat orang tercengang alias kagum. Begitu pula terhadap Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin, yang semula diduga para elite PDIP atau orang orang dekat Jokowi yang berprestasi, ternyata tidak juga. Langkah Jokowi juga mengejutkan memilih Erick Thohir sebagai Ketua Tim pemenangan Jokowi Ma'ruf Amin. Siapa yang menduga Erick Tohir yang dibilang jauh dari ranah politik ini dipasang lokomotif terdepan termasuk kalangan PDIP tidak menduganya.

Erick Tohir adalah kalangan pengusaha yang sukses .seorang yang memiliki talenta strategis bisnis usaha yang sulit ditandingi, karena orangnya capable dan responbiity sehingga jaringan usahanya sukses. Nah, yang paling terakhir diketahui publik bahwa saham TV One dikuasai Erick Thohir. TV One oleh masyarakat menjustis TV ini ada sering dipandang mem-blow up berita berita politik yang kurang sedap dan tidak berimbang. Malah cenderung nitizen dapat terprovokasi ( meskipun dugaan itu selamanya tidak benar). Malah masyarakat sudah memilah-milah siaran pilih TV yang mana untuk dipercaya beritanya!

Dengan kehadiran Erick sebagai pemegang saham ini TV  One, minimal berita dominasi itu tidak akan terjadi lagi. Artinya berita tentang kiprah Jokowi lebih proporsional. 

Orang yang memiliki nalar supranatural menyebutkan orang-orang pilihan Jokowi adalah titipan Allah. Makanya orang tidak mampu memprediksinya lebih awal jadi rakyat baru tahu pada hari H nya saja. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Pilpres 2019 tidak semata-mata pertarungan ide, gagasan dan program, tetapi juga akan terjadi pertarungan figur, khususnya figur cawapres dan figur ketua tim pemenangan.

Pasangan Jokowi-Kyai Ma'ruf Amin (JKW-KMA) diprediksi akan mendapat dukungan dari kelompok nasionalis dan kelompok agama (islam) karena faktor cawapresnya. Figur KMA sangat menarik dan populair di kalangan pemilih muslim, beliau tidak hanya dikenal sebagai ulama, masyarakat juga mengenal KMA sebagai pakar ekonomi syari'ah. Keterlibatan beliau sebagai tokoh dibalik berkembangnya perbankan syari'ah di Indonesia diakui banyak kalangan dan para ekonom, terlebih dengan gagasanya tetang Arus Baru Ekonomi Indonesia yang sangat genuin.

Demikian juga dengan kehadiran Erick Thohir sebagai ketua TKN pasangan JKW-KMA, kehadirannya semakin melengkapi potensi kemenangan pasangan tersebut. Sosok Erick sangat potensial mengalihkan suara dari kalangan milenial yang selama ini ngefans dan menjadi pendukung Sandiaga Uno kepada pasangan JKW-KMA.

Erick Thohir populair sekali di kalangan milenial, terlebih pasca keberhasilannya mengetuai pelaksanaan Asian Games 2018 yang sangat spektakuler. Fakta itu susah terbantahkan, bahwa keberhasilan pelaksanaan Asian Games 2018 tidak lepas dari sentuhan tangan dingin Erick Thohir.

Perhelatan pilpres 2019 akan semakin seru jika pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (PS-SA) memilih ketua tim pemenangan dari unsur agamawan/ulama. Apapun argumennya, pasangan PS-SU lemah dalam menjawab isu atau tema-tema  keagamaan. Figur kyai Ma'ruf Amin sebagai pasangan cawapres Jokowi perlu diimbangi dengan figur agamawan yang mendekati seimbang. Dengan demikian pesta demokrasi dalam pemilihan presiden 2019 yang akan datang semakin gayeng dan menarik. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Advokat, Dosen Hukum Tata Negara FH-UKI

Dipasangnya Erick Thohir (ET) seorang pengusaha muda sukses dan teman baik Sandiaga Uno ini sebagai ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin seperti sebagai upaya menambal kekurangan yang dimiliki oleh pasangan tersebut. 

Disebut menambal karena jika 2 pasang capres yang berkompetisi, maka Jokowi akan diperhadapkan dengan Prabowo dan Ma'ruf Amin akan dihadapkan dengan Sandiaga Uno. Apakah pertarungan Ma'ruf Amin vs Sandiaga adalah pertarungan yang seimbang? Jika perdebatannya masalah agama tentu Sandiaga Uno akan kalah dengan Ma'ruf Amin yang seorang kiai haji, Ketua Rais Aam NU dan Ketum MUI. Akan tetapi kondisi objektif yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah permasalahan ekonomi yang akan semakin berat. Di titik ini figur Erick Thohir diharapkan dapat mengimbangi Sandiaga Uno di kubu seberang. Figur Ma'ruf Amin sebagai seorang kiai yang juga ahli ekonomi syariah mungkin dianggap tidak cukup kuat untuk mengimbangi Sandiaga Uno, karena banyaknya pemilih milenial dan emak-emak pada pilpres 2019.

Di kubu Prabowo-Sandi sampai saat ini belum memutuskan ketua TKN. Walaupun nama mantan Panglima TNI Djoko Santoso akan menjadi salah satu calon kuat. Jika cara berpikir yang digunakan oleh kubu Prabowo-Sandi adalah mengimbangi Erick Thohir, bukan tidak mungkin pengusaha sukses seperti Chaerul Tanjung atau Wisnu Wardana yang akan dipilih menjadi ketua TKN. Terlebih karena posisi Partai Demokrat yang berada satu kubu dengan pasangan Prabowo-Sandi. Jika hal ini yang terjadi maka pertarungan Pilpres 2019 sesungguhnya adalah pertarungan gagasan di antara para anak bangsa yang menjadi pengusaha nasional. Dan yang menjadi bintangnya bukanlah para purnawirawan, melainkan para pengusaha nasional sukses, muda dan tampan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Antropolog Agama Spesialisasi Tema Islam/ Muslim di Mexico dan Amerika Latin

Langkah bagus dari pihak Romo Presiden memilih ET (Erick Thohir), terutama untuk menutupi kekurangan Kiai Ma'ruf dalam meraih kaum muda. Kesuksesan ET dalam gelaran Asian Games 2018 sekaligus pertemananya dengan Sandiaga Uno menjadi salah satu faktor utama, lepas dari isu-isu negatif tentang ET yang kemudian bermunculan di media sosial. Langkah penguasa dalam memilih Kiai Maruf dan ET bisa diartikan juga sebagai langkah efektif penguasa untuk memecah kekuatan oposisi. 

Lepas dari itu, dalam sebuah pilpres, urusan logistik/amunisi pemilu adalah penting. ET dikenal pengusaha muda dengan jaringan yang luas yang sangat dibutuhkan dalam sebuah konstestasi politik yang tidak murah. Seperti Sandiaga Uno, ET termasuk baru dalam kancah politik nasional, ini merupakan nilai plus tersendiri untuk kedua kubu, dan dalam politik, tantangan utama bagi pemain baru adalah kemampuan di akar rumput serta amunisi/logistik yang mumpuni.

Penguasaan Media dan opini publik menjadi salah satu kunci utama di pilpres 2019, penguasaan media mainstream oleh kubu penguasa saat ini efektif untuk membendung opini-opini negatif dalam pemerintahan, namun demikian kekuatan sosial media menjadi faktor yang tidak bisa diremehkan. 2014 kita kenal relawan jasmev milik Pak Jokowi saat itu, untuk kontestasi 2019 bisa dipastikan akan bermunculan fenomena yang sama, baik yang resmi maupun tidak, untuk membuat verita asli, hoax atau sekedar false flag ,memproduksi tema, topik atau meme  yang dibikin sendiri, dipublikasikan sendiri, di ketawa-ketawain sendiri seakan dibikin oleh kubu lawan untuk menjatuhkan kubu lawan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen STAIN Bengkalis

Kehadiran Erick Thohir menakhodai Timses Jokowi-Ma'ruf menyita perhatian publik dan juga para tokoh politik, termasuk Sandiaga Uno. Bagi nya, Erick Thohir tidak mungkin menerima tawaran tersebut. Karena, bisnis dan politik, dalam bayangan Uno seperti air dan minyak, bisa dekat tapi tidak bisa menyatu.

Erick Thohir kelihatan menepis anggapan tersebut. Menurutnya, sepanjang segala sesuatu bisa dijalankan secara profesional, maka pekerjaan apapun bisa berhasil dengan baik.

Statemen Erick tersebut sebenarnya menu pembuka sebuah diskusi politik. Dia menilai, persoalan yang mendasar dari segala sesuatu (termasuk politik), adanya profesionalitas dalam mengemban suatu amanah. Jika faktor ini tidak dipenuhi, maka bangsa ini menjadi bangkrut. Ekonomi hancur, kepercayaan dunia internasional runtuh. Dari sini semakin jelas, bahwa bisnis dan politik hakikatnya bermuara pada kebersamaan, yaitu membangun kesejahteraan masyarakat.

Sebagai seorang pembisnis yang sudah malang melintang, Erick Thohir sangat memahami persoalan yang mendasar bangsa ini, dan komitmen tinggi pemerintah dalam membangun pondasi pondasi ekonomi dan peradaban. Ia melihat sosok ini ada pada Jokowi. Sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya. Justru, Ia ada kebanggaan tersendiri dalam menjaga dan memperbaiki kualitas karya pemerintah Jokowi di masa mendatang.

Baik Sandiaga atau Erick bukan dari latar belakang politik. Dua- duanya masih mualaf. Namun, bukan berarti buta sama sekali tentang politik. Karena, politik dan bisnis sama-sama seni. Tergantung bagaimana mereka mewarnai dalam lukisan politik yang menyenangkan dan memenangkan pesta demokrasi nanti.

Keduanya, akan berbicara dunia mereka. Bisnis dan ekonomi. Dua-duanya pun akan bicara seni menampilkan argumen yang ilmiah dan menarik. Sehingga isu ekonomi yang akan diangkat oleh kubu prabowo pun harus hati hati, karena segala kunci "tetek bengek" sandi sudah ada pada diri Erick. Jika ceroboh, maka hancurlah pertahanan Prabowo dalam memberikan gebrakan kampanye yang menggigit. Jika tidak hati-hati, bisa gigit jari.

Memang Erick Thohir bukan dari politisi, tapi sang pemilik wajah "baby face" ini, akan memberi suguhan yang menarik kepada grup Sandi. Dan suguhan ini bisa jadi lebih spektakuler ketimbang acara Asian Games yang telah lalu. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Arsitek, Aktivis dan Penulis

Masih ingatkhan dengan sinetron "Tersanjung"?. Sequelnya sampai seri 7. Ketikan Rampunjabi ditanya mengapa? Sederhana, alasannya: ratingnya masih tinggi. Jika, Jokowi menang Pilpres 2019-2024 itu sudah biasa, maklum namanya juga petahana. Dan jika Prabowo kalah itu juga biasa. Karena sudah biasa kalah.

Yang luar biasa adalah jika Jokowi kalah dan Prabowo menang.Ini bencana buat pembela HAM, yang anti militer. Dan anti cendana. Dan sebagian justru berpendapat berbeda. Kegigihan Prabowo untuk menjadi presiden begitu menggebu. Sehingga publik menjadi girang karena terbukti, bahwa, dunia milik petarung yang pantang menyerah.

Sekarang semua orang berharap Prabowo menang, bukan karena dia cakap. Melainkan penghargaan atas kegigihan. Dan semua orang berharap Jokowi menang, karena dia bagus dan baik.

Lalu, apa gunanya Ketua Timses? Itu maksudnya untuk mengoleksi biaya kampanye. Tak ada yang terlalu idealis. Ketua Timses wajib mencari dana kampanye. (cmk)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Jumat, 7 September, adalah 222 hari menjelang pilpres, Rabu 17 April 2019. Kampanye resmi baru dimulai 15 hari lagi, pada 24 September 2018, bertepatan dengan hari Landreform. Sehingga, hari itu mungkin bisa dibagikan sertifikat tanah untuk masyarakat yang pasti akan menaikkan apresiasi voters kepada petahana.

Sebetulnya, petahana memang tidak perlu berkampanye, melainkan memutuskan kebijakan yang berdampak naiknya popularitas dan elektabiltias secara lebih meyakinkan, ditengah isu SARA yang masih dihembuskan di medsos, meski di depan publik kedua kubu bersopan santun dan berbalas pantun.

Dalam rangka delivery ini maka pemerintah memang perlu mengambil prakarsa memutuskan kebijakan secara meyakinkan terutama menghadapi gejolak kurs mata uang.  Dengan situasi ekonomi global yang seolah mengalami gempa bumi, maka kita harus menjamin kepastian iklim berusaha yang sangat dipengaruhi oleh gejolak kurs.  Karena itu sebetulnya isu pokok pilpres bukan lagi ancaman fisik SARA, tapi keberlanjutan pembangunan ekonomi yang terhambat oleh gejolak global.

Jadi yang harus memegang peranan adalah ekonom dan entrepreneur, semuanya dalam semangat tempur seperti istilah Park Chung Hee dulu waktu mendirikan Posco yang ditentang oleh World Bank. Korea tidak perlu bikin pabrik baja karena tidak punya bahan baku, pasti tidak efisien, Pasti akan kalah bersaing dengan negara yang punya sumber daya alam bahan pembuatan besi baja. Jadi, waktu melantik sang dirut, yang  juga bermarga Park, ditekankan bahwa anda jenderal saya tempatkan jadi Dirut Posco untuk memimpin pertempuran memenangkan pasar besi baja global. 

Nah, dalam kaitan Pilpres 2019 ini, maka Penglima Tim Sukses kedua kubu harus menyadari tantangan ekonomi global, serta memilah kebijakan yang diambil untuk mengatasi gejolak itu dalam batasan kemampuan domestik nasional. Petahana tidak bisa berteori atau berusulan saja, sedang oposisi justru menikmati dengan gampang menyerang, mengeksploitasi ketidakpastian masyarakat terhadap kurs.

Mengingat pengalaman jatuhnya 2 presiden karena ekonomi tahun 1966 dan 1998, sebetulnya Presiden Jokowi menyadari bahwa masalah fundamental ekonomi Indonesia adalah tingginya ICOR 6,4 karena high cost of political bureaucraticrent seeking. Karena itu pemerintah sangat serius membasmi korupsi dan melancarkan saber pungli, agar kekuatan ekonomi Indonesia bisa tumbuh pesat dan bersaing dipasar global.

Sebab faktor utama kelemahan rupiah, adalah karena kita mengalami defisit 3 in1, Neraca Perdagangan, Neraca Pembayaran dan APBN. Itu karena kita tidak mampu surplus dalam mengkespor, karena impornya lebih besar dari kemampuan ekspor kita. Pembangunan infrastuktur adalah investasi untuk menambah pasokan public goods yang akan melancarkan perekonomian dan kemampuan produksi dan ekspor korporasi  dan masyarakat. Jadi waktu 7 bulan ini memang krusial tapi harus dikelola dengan optimal oleh presiden petahana yang mempunyai advantage karena bisa langsung mengambil putusan.

Menurut PDBI salah satu yang paling mendasar adalah mengoreksi kecerobohan kebijakan Soeharto ketika krismon 1998., Ketika krisis baht merebak di Thailand, PDBI sudah langsung mengusulkan kepada BI dan pemerintah untuk langsung menyerah men-devaluasikan rupiah yang waktu itu Rp2.250 langsung menjadi Rp5.000 per 1 dolar AS.

Tapi, pemerintah mengabaikan dengan menipu dan membohongi diri sendiri bahwa fundamental ekonomi RI kuat. Nah kesalahan fatal ialah pada 14 Agustus 1997 pemerintah menghentikan intervensi kurs dan membiarkankurs mengambang bebas, free float. Kemudian disusul dengan resep penutupan bank tanpa menyadari bahwa Indonesia belum mempunyai LPS waktu itu. Maka rupiah terjun bebas tanpa kendali.

Nah sekarang ini, Presiden Jokowi justru ketika RI sebagai tuan rumah WBIMF harus mendeklarasikan bahwa mulai sekarang RI kembali ke sistem managed floating. Kurs rupiah akan diintervensi oleh BI secara managed floating, untuk memulihkan kepastian berusaha dan berinvestasi jangka menengah panjang. Kebetulan sidang WBIMF Bali juga punya agenda substansial penting perubahan struktur pemegang saham, dimana RI berkesempatan naik kelas, naik quota saham dan voting powernya. Ini yang harus dimanfaatkan secara langsung. Bisa dilaksanakan sebagai kebijakan meredam seluruh gejolak kurs bukan hanya untuk 7 bulan tapi untuk 5-7 tahun yang akan datang.

Segala macam perang persepsi ditengah kemelut kurs ini tidak banyak artinya, kecuali putusan drastis yang membalikkan sumber kebijakan yang keliru ketika Orba menggali sendiri "kuburnya" dengan melepaskan sistem managed floating ke terjun bebas, 14 Agustus 1997. Sebagai petahana Presiden Jokowi bisa langsung mengambil kebijakan ini untuk menstabilkan kurs rupiah jangka menengah panjang. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

Dinamika politik Pilpres 2019 yang semula diprediksikan panas dan menegangkan sedikit mencair setelah masing-masing kubu mulai menyampaikan Ketua Timses. Di kubu Jokowi-Ma'ruf Amin terpilih nama Erick Thohir sebagai ketua Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin yang langsung disampaikan Jokowi di Posko Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin di Jalan Cemara Menteng, Jakarta Pusat, pada hari Jum'at, tanggal 7 September 2018.

Sementara itu di kubu Prabowo-Sandiaga Uno, sudah dapat dipastikan nama Djoko Santoso, mantan Panglima TNI (2007-2010) sebagai Ketua Timses. Jika melihat sosok kedua Ketua Timses tersebut terlihat ada kesan munculnya pertarungan para sahabat yang selama ini bahu membahu menjalankan bidang kerja yang sama. Sosok Erick Thohir adalah pengusaha sukses, yang memiliki media, klub sepak bola, basket dan lain-lainnya memiliki kedekatan dan sahabat karib Sandiaga Uno, baik sebagai sesama pengusaha muda maupun sebagai pengurus dan pemain basket.

Begitu juga dengan Djoko Santoso, memiliki kedekatan dengan Jenderal Moeldoko, mantan Panglima TNI (2013-2015) yang ditunjuk sebagai Wakil Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Oleh sebab itu kedua Ketua Timses tersebut selalu menyebut bahwa dalam Pilpres 2019 ini bukan sebagai pertarungan tapi kompetisi antar kandidat presiden. Pernyataan kedua timses tersebut baik untuk perkembangan demokrasi dan pendidikan politik Indonesia bahwa setiap pergantian pimpinan harus dilakukan dengan cara damai dan tertib dan menghindarkan dengan cara-cara kekerasan dan konflik. Oleh sebab itu pemilu adalah intrumen rekruitmen politik yang demokratis. Pemilu adalah adu gagasan, adu strategi untuk menuju Indonesia ke depan.

Membandingkan antara dua sosok Erick Thohir dan Djoko Santoso sebagai Ketua Timses Pilpres 2019 jelas memiliki track record dan latar belakang yang berbeda. Erick Thohir sebagai pengusaha muda belum memiliki pengalaman dan jam politik yang tinggi jika dibandingkan dengan sosok Djoko Santoso yang sudah cukup mumpungi dan sekarang menjabat sebagai anggota Dewan Pembina Partai Gerindra. Minimnya pengalaman tersebut sudah dapat dipastikan akan sangat sulit menggerakkan timses dari koalisi parpol pendukung dan jutaan relawan yang memiliki aneka ragam kepentingan politik. Berbeda dengan dunia usaha yang memiliki kepentingan yang sama yaitu bagaimana mendapatkan profit yang sebesar-besarnya. Inilah yang membedakan antara dunia usaha dan dunia politik yang akan dihadapi oleh Erick Thohir. Kesuksesan sebagai ketua penyelenggara Asian Games tidak menjamin keberhasilan sebagai ketua timses. Kekuatan Erick Thohir adalah dia sebagai profesional yang berasal dari kalangan milineal yang dengan kekuatan medianya dapat menggaet kaum milineal yang dikenal sebagai pemilih rasional dan kritis. Oleh sebab itu pertarungan Pilpres 2019 bukan lagi ditentukan oleh pertarungan elite-internal tapi merupakan pertarungan persepsi publik sebagai panggung tontonan para kandidat yang akan menjadi peran sentral dalam mendongkrak elektabilitas kandidat.

Betul siapa yang menguasai panggung tontonan, dia akan menguasai panggung politik publik. Untuk bisa menguasai panggung politik publik peran media menjadi sangat strategis. Kubu yang berhasil menggaet pemilik media cenderung akan berhasil menjaring suara dan memenangkan kontestasi pilpres. Pertimbangan inilah yang menjadi alasan utama kenapa kubu Jokowi-Ma'ruf Amin menggaet Erick Thohir sebagai ketua timses, disamping untuk menutup kelemahan sosok Ma'ruf Amin yang sudah sepuh dan kurang milineal. Mudah-mudahan Pilpres 2019 berjalan lancar dan damai dan tidak menimbulkan hura-hara politik sebagaimana yang sering terjadi di banyak negara-negara berkembang. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FX Sugiyanto, Prof.

Guru Besar Universitas Diponegoro

FOLLOW US

Kematian Petugas KPPS Tidak Ada Yang Aneh             Memerangi Narkoba Tanggung Jawab Semua Pihak             Pendekatan yang 'Teenager Friendly'             Pendampingan Tiga Tungku             Perda Dulu Baru IMB             Kelalaian Negara dalam Misi Kemanusiaan             Kematian Petugas Medis; Pemerintah Harus Berbenah             Daerah Terpencil Sebagai Indikator Keberhasilan             Resiko Petugas Sosial             Kebijakan RI Perbanyak Barang Impor Masuk