Perang Minyak & Dagang Hantam RI
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
15 May 2019 10:00
Watyutink.com - Perang minyak yang dikobarkan Amerika bisa menggulingkan kekuasaan para mullah di Iran. Indonesia bisa getahnya karena harga minyak berpotensi melambung tinggi. Bagi Amerika, pokoknya Iran tak boleh lagi menjadi ancaman bagi kepentingannya, dan Israel harus tetap menjadi superpower di Timur Tengah.

Sejak Mei ini Presiden Amerika, Donald Trump, mau membuat Iran bertekuk lutut dengan menjatuhkan sanksi bagi negara mana saja yang membeli minyak dari Iran. Trump ingin membuat ekspor minyak Iran anjlok sampai titik nol, dan tak perduli bahwa perang minyaknya membuat para sekutu dekatnya seperti Jepang dan Korea Selatan kerepotan.  Maklum, Iran adalah salah satu pemasok penting minyak mereka.

Sesungguhnya tak ada masalah serius dengan menghilangnya minyak Iran dari pasar dunia. Produsen minyak lainnya, terutama saingan bebuyutan Iran yaitu Arab Saudi, siap menutup kekurangan pasok yang terjadi.

Harga minyak bisa melambung tinggi bila kekhawatiran Angkatan Laut Amerika menjadi kenyataan, di mana Iran dan para sekutunya akan menyerang kapal-kapal tanker dan niaga lainnya yang dianggap mewakili kepentingan Amerika. Selain itu, Iran sendiri juga sudah mengancam akan menutup salah satu jalur laut paling strategis di dunia yaitu Selat Hormuz.

Paling mengerikan adalah bila ternyata Iran punya misil berkepala nuklir. Sejauh ini, berbagai laporan menyebutkan bahwa Iran giat mengembangkan misil yang sanggup menjangkau Israel dan berbagai wilayah lain.

Selain nuklir, Iran juga sanggup membentuk pasukan komando berkelas dunia, dan memodifikasi senjata. Hal ini terbukti dalam serbuan Israel pada 2006 ke wilayah Hizbullah di Lebanon Selatan. Serangan ini adalah pembalasan atas penyusupan pasukan komando Hizbullah ke wilayah Israel. Pasukan yang dilatih Iran ini berhasil membunuh beberapa serdadu Israel, dan menculik dua di antaranya.

Sebagai ujung tombak, Israel mengerahkan 370 tank Merkava yang diklaim sebagai kendaraan lapis baja paling mematikan di dunia. Namun tank-tank ini tak berkutik menghadapi pasukan komando Hizbullah yang hanya bersenjatakan bazoka buatan Rusia. Sebagaimana prajurit yang memanggulnya, bazoka tersebut adalah hasil polesan Iran.

Bila penguasa Iran nanti benar-benar mengamuk, ini tentu karena ekspor migas menyumbang 40 persen dari penghasilan pemerintah. Maka mereka sadar betul, bila ekspor minyak macet total, krisis moneter tak terhindarkan. Lalu, seperti terjadi di Indonesia pada 1998, rakyat akan mengamuk di jalanan dan bisa menumbangkan kekuasaan para mullah.

Menggulingkan kekuasaan di Iran dengan merusak perekonomiannya lebih dahulu bukanlah hal baru bagi Amerika. Buku All the Shah's Men: An American Coup and the Roots of Middle East Terror karya Stephen Kinzer mengungkapkan, Amerika dan Inggris pada 1953 sukses mendalangi kudeta terhadap Perdana Menteri Mohamad Mosadegh yang terpilih secara demokratis.

Inggris dan Amerika kemudian menjadikan Shah Reza Pahlevi atau Syah Iran sebagai diktator Iran. Pemerintahan tangan besi yang dipraktekkan Syah Irah, menurut buku tersebut, membuat tokoh agama garis keras Ayatullah Khomeini sukses memperoleh dukungan luas dari rakyat Iran. Akhirnya, melalui People Power, Khomeini menumbangkan rezim Syah Iran dan mengubah kerajaan Iran menjadi Republik Islam Iran, dari pro Amerika menjadi anti Amerika. .

Kesalahan Mosadegh adalah melakukan nasionalisasi semua aset British Petroleum di Iran. Tindakan ini dibalas oleh Inggris dan Amerika dengan blokade ekonomi. Perekonomian Iran langsung dihantam krisis moneter, dan rakyat mengamuk di jalanan. Di tengah krisis inilah Mosadegh dipaksa menyerahkan kekuasaan kepada Syah Iran.

Sama dengan tahun 1953, perang minyak Trump tak lepas dari geostrategi Amerika, yakni mengembalikan Iran ke pangkuan Washington. Selain berada di kawasan strategis, Iran juga sangat kaya minyak. Cadangan migasnya adalah 158,4 miliar barel atau terbesar keempat di dunia. Di atas Iran adalah Venezuela, Arab Saudi, dan Kanada.

Sebagai produsen Migas, Iran berada di posisi enam dengan produksi sebesar 4,7 juta barel per hari. Posisi lima besar produsen minyak dunia diduduki oleh Amerika Serikat, Arab Saudi, Rusia, Canada, dan China.

Amerika tentu saja punya beberapa pilihan bila berhasil menumbangkan kekuasaan para mullah. Di antaranya adalah akan mendudukkan boneka sebagai diktator atau menjadikan Iran sebuah demokrasi. Bisa jadi, Amerika akan mendudukkan Reza Pahlavi, putra Syah Iran, sebagai raja dalam monarki konstitusional.

Hanya saja Rusia tak akan tinggal diam bila Iran kembali ke washington. Secara geopolitik, selain sebagai pasar, Iran memainkan peran penting bagi Rusia di Timur Tengah. Tanpa Iran, sekutu Rusia di Timur Tengah hanya Presiden Bashar al Assad dari Suriah. Nasib Assad kini sedang berada di ujung tanduk karena digempur terus menerus oleh pemberontak bersenjata dukungan Amerika.

Di masa lalu Rusia memiliki 4 sekutu di Timur Tengah: Presiden Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Presiden Hafez al Assad (ayah Bashar al Assad) dari Suriah, Presiden Saddam Husein dari Irak, dan pemimpin Libya Moammar Gadhafi.

Sebaliknya, Rusia bagi Iran adalah sekutu strategis untuk menghadapi tekanan Barat. Sejak bercerai dengan Amerika, Rusia sangat diandalkan untuk memperkuat persenjataan Iran. Meski industri militernya mengalami kemajuan pesat,  Iran tanpa Rusia nyaris telanjang secara militer, dan bisa menjadi bulan-bulanan dua lawan utamanya di Timur Tengah yaitu Israel dan Arab saudi.

Maka tak mengherankan bila pada 2015 lalu di Tehran, Iran dan Rusia menandatangani kerjasama militer jangka panjang. Perjanjian ini, menurut Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu, adalah kesepakatan menghadapi tantangan dan ancaman bersama harus dihadapi bersama pula.

Hal lain yang membuat Rusia memeluk erat Iran adalah krisis politik di Venezuela yang bisa menumbangkan rezim sosialis Presiden Nicolas Maduro. Kini perekknomian Venezuela morat marit akibat sanksi ekonomi Amerika. Sementara itu gerakan massa anti pemerintah, yang juga didukung Amerika, kian dahsyat. Maka, bila Maduro tumbang, Venezuela bakal putar haluan dari pro menjadi anti Rusia. Kini, bersama dengan Kuba, negara ini adalah sekutu terdekatnya di benua Amerika.

Rusia tentu paham betul bahwa apa yang sedang dilakukan Amerika terhadap Venezuela, juga juga berpola sama dengan yang dilakukan terhadap Bung Karno pada pertengahan 1960-an. Diawali dengan blokade ekonomi yang membuat harga-harga barang kebutuhan melambung tinggi sehingga memicu amuk massa. Lalu militer menunggangi kekalutan ekonomi-politik ini untuk menyingkirkan Bung Karno. Indonesia pun lalu berpindah kiblat dari Moskow ke Washington.

Kini Indonesia berbulan madu dengan China, yang  sedang dihantam oleh perang dagang Trump. Bila perang ini membuat perekonomian China makin loyo, Indonesian bakal kena getahnya. Maklum China adalah pasar terbesar produk ekapor Indonesia, dan penyandang dana utama pembangunan infrastruktur.

Ringkas kata, Indonesia seperti petinju yang kena pukulan one-two. Satu pukulan datang dari melambungnya harga minyak, lainnya dari loyonya perekonomian China.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Stabilitas Sangat Berdampak Pada Ekonomi             Tarik Investasi Tak Cukup Benahi Regulasi             Tidak Bijak Membandingkan Negara Lain             Semangat Reformasi Perpajakan             People Power and Power of Love             Polisi Tak Boleh Berpolitik             Laksanakan Reformasi Perpajakan Secara Konsekuen             Tunjukkan Sikap Politik yang Matang             Menagih Janji Deregulasi dan Perbaikan Infrastruktur Investasi             Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan