Pilgub Jabar: Tes Ombak ala Banteng atau Pasrah Melepas Priangan?
berita
Politika

Sumber Foto: beritasatu.com

12 January 2018 17:00
Publik terkejut saat Ketum PDIP mengumumkan mengusung duet TB Hassanudin dan Anton Charliyan dalam Pilgub Jabar. Padahal beberapa hari sebelumnya Ridwan Kamil sempat bertandang ke DPP PDIP, menyusul rumor Kang Emil akan diusung PDIP berpasangan dengan Puti Guntur SP.

Sejumlah pihak mengapresiasi PDIP karena mengusung kader sendiri. Golkar juga mendapat apresiasi karena menarik dukungan dari non kader (Kang Emil) kemudian mengalihkannya pada kader setia beringin, Dedi Mulyadi (DM).

Namun sebagian pihak mempertanyakan pilihan PDIP yang mencalonkan TB Hasanudin berpasangan dengan Anton Charliyan yang notabenenya adalah perwira aktif Polri. Dinamika jelang Pilkada Serentak 2018 sangat terasa di Pulau Jawa. Terutama di Jabar dan Jatim.Tetapi dipastikannya TB Hasanudin-Anton sebagai paslon yang diusung PDIP membuat dinamika Pilgub Jabar berkurang.

Sejumlah pengamat menilai, PDIP seharusnya memahami karakteristik Jabar yang lebih kompleks ketimbang wilayah lain di Pulau Jawa. Di Pilpres 2014 lalu, di Jabar suara Jokowi kalah dari Prabowo. Apakah penunjukan paslon TB Hasanudin-Anton merupakan pilihan tepat? TB Hasanuddin dianggap tidak punya akar massa, di lain pihak FPI pernah meminta Anton dicopot dari jabatan Kapolda Jabar.

Jabar kental dengan kelompok agamis, dan tradisionalis. Karakter kelompok agama di Jabar kurang lebih mirip dengan Banten. Walaupun sempat membentuk koalisi semangka dengan PPP, banteng tetap terjungkal pada Pilkada Banten 2017 lalu. Apakah hal serupa akan terjadi lagi pada banteng dalam Pilgub Jabar 2018?

Oleh sebab itu, pasangan yang diusung PDIP sebagai single fighter (tanpa koalisi) dianggap sejumlah kalangan tidak memiliki nilai ‘jual’ untuk merebut kursi Jabar-1. Berbeda dengan dua cagub lain yang sempat merapat ke PDIP. Kang Emil dekat dengan kelompok Islam. Kakeknya ulama terpandang dan mendirikan sejumlah pesantren di Jabar. DM dianggap mewakili kaum tradisionalis Jabar. Keduanya memiliki elektabilitas yang cukup baik di Jabar. Hanya saja keduanya bukan kader PDIP.

Apa yang sebenarnya menjadi alasan PDIP tidak tertarik mencalonkan Kang Emil meski elektabilitasnya tinggi? Atau malah Kang Emil yang meninggalkan PDIP?

Ada kesan PDIP tidak mengharapkan kemenangan di Jabar dan punya target lain terkait Pilpres 2019.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ast)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Konsultan Politik, Wakil Direktur Eksekutif Jaringan Suara Indonesia (JSI)

PDIP pasti melakukan perhitungan, namun ini kan politik. Realitas politik yang membuat putusan itu diambil oleh PDIP sebagai pemenang pemilu di Jawa Barat.

Jika dilihat kandidat yang diusung oleh PDIP, maka memang bukan kandidat yang punya kans untuk menang. Karena ada Deddy Mizwar (Demiz), atau Ridwan Kamil yang lebih memiliki elektabilitas tinggi dibandingkan dengan kandidat usungan PDIP.

TB Hasanuddin sebagai kandidat gubernur juga belum pernah memiliki jabatan publik di Jawa Barat. Bahkan untuk pemilihan legislatif (pileg) di dapilnya, beliau hanya menempati urutan kedua di PDIP setelah Maruarar Sirait.

Anton Charlian juga hanya beberapa waktu saja memegang jabatan Kapolda Jawa Barat. Untuk mengejar posisi pengenalan yang layak untuk bertarung sebagai cagub-cawagub saja pasti membutuhkan cost dan effort yang sangat besar. Sementara kandidat lainnya sudah dalam posisi yang siap bertarung secara elektabilitas.

Menurut saya tidak mungkin perebutan kursi Jawa Barat 1 dijadikan ajang tes ombak. Alasannya karena PDIP sebagai pemenang pemilu di Jawa Barat, dan Jawa Barat itu termasuk jumlah pemilih yang banyak bersama Jatim dan Jateng

Dan yang perlu menjadi catatan dari 11 pilkada kabupaten/kota yang sudah selesai 2015 dan 2017, PDIP hanya menang di 2 kabupaten/kota (Cimahi dan Pangandaran). (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Ada sejumlah pertimbangan yang mendorong PDI Perjuangan mengusung pasangan TB Hasanudin-Anton Charliyan pada pilgub Jabar. PDIP mengalami dilema berat. Mau mengusung calon kuat seperti Ridwan Kamil (RK), tapi Wali Kota Bandung itu sudah merasa di atas angin karena sudah didukung Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura. Sehingga deal politik PDI Perjuangan tidak mendapat sambutan dari RK. Mau mengusung calon terkuat kedua Deddy Mizwar, namun Wakil Gubernur Jabar tersebut juga sudah diusung partai lain. 

Wacana mau mengusung Dedi Mulyadi pun tak kunjung terwujud. Kini justru Dedi Mulyadi malah berpasangan dengan Deddy Mizwar. Selain kerumitan tersebut, tidak mudah untuk membuat kesepakatan politik karena banyak variabel yang politik yang cukup rumit, seperti tarik menarik kepentingan antar parpol dan lain sebagainya.

Akhirnya, PDI Perjuangan memutuskan untuk mengusung TB Hasanudin kadernya sendiri berpasangan dengan mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan. Munculnya nama TB Hasanudin dalam bursa Cagub Jabar memang sudah lama tetapi keputusan untuk mengusungnya baru muncul di tengah situasi kepepet. Kalau saja dari awal TB Hasanudin sebagai kader hendak diusung PDI Perjuangan, mungkin ada cukup waktu untuk sosialisasi dan mempersiapkan diri menghadapi pehelatan di Jabar.

Jika dilihat dari aspek elektabilitas, jagoan PDI Perjuangan tersebut jauh di bawah pasangan RK-Uu dan Demiz-Demul. Karenanya, untuk memenangi pilkada Jabar. PDI Perjuangan harus bekerja keras. Tidak mudah menaklukkan lawan-lawannya. Saya kira, berat bagi TB Hasanudin untuk mengalahkan kedua pasangan yaitu RK- Uu dan Demiz Demul yang menjadi kandidat paling pavorit di mata pemilih Jabar. Apalagi, dalam sejararah pilkada Jabar, PDI Perjuangan memang menang di pemilu legislatif tapi selalu kalah di pilkada Jabar. Jika PDI Perjuangan menang di Pilgub 2018 berarti PDI Perjuangan berhasil mematahkan mitos politik tetsebut.

Kurang tepat jika mengatakan PDI Perjuangan merelakan kursi Jabar 1. Saya melihat bahwa Pilgub Jabar lebih kepada spekulasi politik yang dilakukan oleh PDI Perjuangan. Tidak ada partai yang mau kalah di dalam pertarungan meraih kursi gubernur. Namun kalau dikatakan ini sebagai ajang tes ombak, bisa saja. Tes ombak pada Pilgub 2018 dan juga jelang Pemilu 2019. Kalau nantinya spekulasi politik PDI Perjuangan membawa hasil postif, ditandai dengan kemenangan TB Hasanudin-Anton Carlyian, maka PDI Perjuangan bisa sedikit bernafas lega jelang Pemilu 2019. (ast)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF