Ramadhan+Lebaran: Beragama Terasa Indah
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
10 June 2019 14:00
Watytutink.com - Untung ada bulan Ramadhan yang hadir sebulan penuh dan ditutup dengan perayaan Hari Raya Idulfitri. Sepanjang menjalankan ibadah puasa yang ditutup dengan berlebaran bersama keluarga dan handai taulan, nikmat dan indahnya  beragama, sebagai muslim, sungguh sangat terasakan. Hampir di setiap sudut kota hingga di setiap lorong kampung dan pelosok desa, kehidupan yang sangat Islami begitu kuat dirasakan kehadirannya. Penuh toleransi dan murah memaafkan, bahkan sigap saling tolong menolong. 

Jauh sekali perbedaan yang dirasakan pada hari-hari sebelum bulan suci Ramadhan tiba. Kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai aktivitas keagamaan yang sangat masif, justru membuat kehidupan sehari-hari terasa sangar dan jauh dari rasa indah dan nyaman. Ironisnya, semakin berhamburan kegiatan keagamaan di mana-mana, suasana kehidupan yang berketuhanan justru malah terasa semakin tenggelam. Padahal, kegiatan ritual keagamaan, seremoni, dan berbagai aktivitas yang menggunakan atribut-simbol agama (Islam khususnya), begitu marak. Terjadi dan hadir hampir di seluruh lini kehidupan.

Herannya, semakin simbol-simbol dan kegiatan keagamaan hadir dalam kehidupan, mengapa kehadiran nilai-nilai yang islami justru semakin tak terasakan dalam pergaulan kehidupan sehari-hari? Dalam kaitan ini, kehidupan yang islami dimaksud adalah suatu kehidupan yang memanifestasikan nilai-nilai kehidupan dari Islam yang rahmatan lil alamin. Artinya, hadirnya kehidupan masyarakat pemeluk agama Islam yang mayoritas, mampu mengayomi pemeluk agama lain (minoritas) dengan menciptakan suasana kehidupan yang sejuk dan damai. Di mana kerukunan beragama menjadi realita kehidupan sehari-hari.

Hal yang indah dan sejuk seperti gambaran di atas ini, ternyata mampu dihadirkan sepanjang bulan ramadhan hingga hari-hari saat dan pasca merayakan Hari Raya Idulfitri 1440. Menjadi pertanyaan; mengapa kita bisa menghadirkan keindahan itu? Sebulan penuh tercatat sejumlah kegiatan keagamaan yang begitu indah. Sejumlah gereja dan kelenteng maupun organisasi keagamaan non-Muslim, turut berpartisipasi dalam kegiatan memuliakan bulan Ramadhan. Bahkan ada yang membiarkan tempat ibadah mereka digunakan untuk kegiatan kaum Muslim menjalankan kegiatan keagamaan di bulan suci Ramadhan. Berlanjut partisipasi aktif ini hingga saat masyarakat Muslim merayakan hari kemenangan, Idulfitri.

Salah satu jawaban mengapa kehidupan beragama bisa begitu sejuk, nyaman, dan indah di bulan Ramadhan dan Lebaran? Salah satunya adalah sikap umat yang pada saat menjalankan ibadah puasa, mengurung kegiatan keagamaan hanya berjalan dalam sirkel ruang gerak sosial budaya saja. Kegiatan keagamaan tidak masuk ke wilayah ekstrim politik-ekonomi. Sehingga seluruh lini kehidupan tidak terbelenggu oleh kegiatan politik yang menjejali kehidupan dengan semangat politik aliran. Dengan sikap yang ekstrim, pemisahan dan pemilahan pun dilakukan dan terjadi. Itulah sebabnya mengapa pengotak-kotakan begitu marak terjadi di hampir semua lini kehidupan.

Pemisahan dan pengkotak-kotakan pun dilakukan berdasarkan beda agama. Dan bahkan dalam satu agama pun, perbedaan mashab dan aliran menjadi masalah. Terkadang hingga pada tahapan saling menyerang dan meniadakan. Ditambah dengan muatan politik, permusuhan pun tak pelak merambah dan meluas hingga masuk ke dalam ranah kehidupan rumah-tangga. Hal ini dapat kita rasakan ketika rakyat terbelah ke dalam dua kubu yang saling berhadapan, bertentangan dan bermusuhan, berkelanjutan. Walhasil, seakan tengah berhadapan kubu Nasionalis di satu sisi; dan kubu agamis (Islam) di sisi lain. Yang non-Islam pun dengan mudah digolongkan sebagai kaum kafir. Suasana chaos nilai dan disorientasi tujuan beragama pun begitu menggejala dan cenderung membudaya. Pokoknya, serba reseh dan gak asik! 

Dari perjalan empirik ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada saat kegiatan keagamaan dihidupkan hanya dalam ruang kegiatan sosial-budaya, maka nilai-nilai keagamaan justru terasakan keberadaannya. Dalam kaitan Islam, maka nilai-nilai Islami yang berasal dari sumber Islam yang rahmatan lil alamin justru tersemai, tumbuh sehat dan subur. Tapi ketika agama diseret-seret ke dalam ranah kegiatan politik praktis, maka yang terjadi seperti yang kita rasakan belakangan ini. Bahkan sepanjang hari-minggu-bulan  memasuki tahun politik 2018-2019.

Bahwasanya nilai-nilai islami yang bersumber dari nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin justru diperjuangkan agar dilekatkan pada setiap kegiatan kehidupan, mengapa tidak?! Bahkan dalam kegiatan politik dan ekonomi pun, tidak menjadi masalah. Bahkan menjadi keharusan dalam kehidupan di Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia ini. Hanya tentunya bukan kegiatan politik Islam yang menggunakan Islam hanya sebagai alat politik memperebutkan kekuasaan semata. Ditambah dengan kesadaran Islam sebagai agama mayoritas yang bermuara pada tujuan membangun dan menghidupkan diktator mayoritas. 

Sikap-sikap inilah yang membuat peradaban kita dalam berbangsa dan benegara belakangan ini menjadi kehilangan arah. Banyak hal yang kontra produktif kita lakukan sebagai komunitas bangsa yang bercita-cita merdeka sepenuhnya. Keributan mempertentangan beda agama dan aliran, telah meresahkan dan mengancam pecahnya persatuan dan semangat gotongroyong sebagai manyarakat bepandangan hidup Pancasila. Sampai-sampai keresahan memuncak yang melahirkan pertanyaan; apakah harus menjadi Arab untuk menjadi Islam yang baik dan barokah? Karena simbol-simbol dan atribut yang lekat denga budaya arab, diselamurkan menjadi simbol yang mewakili nilai-nilai Islam yang sah dan ‘wajib’ diikuti.

Kesimpulannya, agama yang dipersempit pemahamannya dan dilekatkan pada kegiatan politik praktis, tidak ada hasil lain kecuali kekacauan dan kemunduran. Sudah saatnya kita menyadari bahwa sebagai bangsa kita sudah kehilangan jati dirinya; karena (mengutip Gus Dur) sudah terlalu jauh salah paham tentang agama yang akhirnya melahirkan paham yang salah.

Sebagai catatan, ternyata negara-negara yang terlalu melibatkan urusan agama dalam seluruh kegiatan kehidupan bangsanya, adalah negara-negara yang oleh sebuah penelitian digolongkan sebagai negara sulit maju. Dari 40 negara yang ditelaah, Indonesia menempati urutan ke tiga dari lima negara yang sangat melibatkan masalah agama di seluruh linie kehidupannya. Urutan teratas; 1.Ethiopia; 2. Senegal; 3. Indonesia; 4. Uganda; 5 Pakistan. Sedangkan yang kurang melibatkan masalah agama dalam kehidupan bernegara, China menempati urutan pertama, disusul Jepang, Perancis, Australia, dan Korea.

Nah… dari tabel di atas, silahkan resapi dan hayati. Pilih yang mana? Kalau pilih negara-negara yang terbukti maju, ada baiknya memasuki kehidupan ke depan, suasana kehidupan di bulan Ramadhan dan Lebaran, hendaknya kita jaga dan dipertahankan agar terus berkelanjutan. Para tokoh agama yang gemar memanas-manasi suasana, kita jauhkan. Sementara para ulama yang menyejukkan tapi tetap berjiwa revolusioner dan visioner, wajib kita beri ruang dan panggung lebih banyak dan lebih luas lagi. Agar Islam yang rahmatan lil alamin, dapat dihadirkan dan terasakan keberadaannya di negeri tercinta ini.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat