‘The New Prabowo’ Ibarat Senjata Makan Tuan?
berita
Politika
Sumber Foto : twitter.com (gie/watyutink.com) 25 August 2018 11:00
Penulis
Rebranding ‘The New Prabowo’ menjadi perbincangan warganet. Istilah itu pertama kali dilontarkan oleh cawapresnya Prabowo, Sandiaga Uno, Rabu (22/6/2018). Ia mengatakan, The New Prabowo sebagai sosok yang sangat cair, mendengar, dan menghormati. Menurut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu, rebranding tersebut guna menggaet suara kaum milenial di Pilpres 2019 mendatang. Lalu, apakah The New Prabowo bisa efektif?

Belum juga strategi The New Prabowo dijalankan, cibiran dari kubu petahana datang silih berganti. Nyaris semua parpol pengusung Jokowi-Ma’ruf turut memberikan komentar negatif. Misalnya, PKB menganggap strategi tersebut tidak akan berpengaruh, karena publik sudah mafhum rekam jejak Prabowo. Pendapat ini seolah dipertegas kembali oleh Wasekjen PPP Ahmad Baidowi. Ia menilai masa lalu mantan Pangkostrad itu tidak bisa terhapus oleh branding the new. Bahkan Ketua DPP Nasdem Irma Suryani Chaniago menilai The New Prabowo seperti memaksa Prabowo tidak menjadi diri sendiri.

Menurut analisis Anda, sejauh mana pernyataan kubu petahana itu sejalan dengan penilaian publik (bukan pendukung fanatik kubu Jokowi dan Prabowo)? Tentu wajar jika kubu petahana mencibir The New Prabowo karena memang lawan politik. Boleh jadi komentar itu sekadar untuk mempengaruhi persepsi publik; membegal The New Prabowo sebelum berhasil menghipnotis pemilih. Bila benar begitu, tampaknya kubu  Jokowi menyadari rebranding tersebut potensial membuat kaum milenial memilih Prabowo-Sandi.

Namun ada yang mengatakan The New Prabowo itu justru mempertegas bahwa selama ini Prabowo tidak santai, tak mudah mendengar, dan tidak menghormati. Bila publik punya penilaian demikian, bisa jadi The New Prabowo dinilai sekadar pencitraan--merekayasa diri bukan seperti karakter sesungguhnya. Lantas, apakah itu artinya The New Prabowo ibarat senjata makan tuan?

Meski demikian, Andre Rosiade menegaskan bahwa Prabowo tidak memiliki sikap temperamental. Politisi Partai Gerindra ini meyakinkan, dirinya tak mungkin bisa bertahan sampai sekarang menjadi kader Gerindra jika Prabowo tempramental. Tetapi, konon Prabowo selama ini terlalu kaku. Bahkan ia terkesan sedang marah-marah ketika berpidato, misalnya, di depan publik. Alih-alih mendapat simpatik, justru pidatonya berujung hujan kritik publik. Pada titik itu, dapat dipahami Prabowo perlu mengubah citranyanya di hadapan publik. Tampaknya perubahan sikap itu bisa menjadi kunci Prabowo-Sandi memenangkan Pilpres 2019.

Tetapi, mengapa Sandi justru mengumbar The New Prabowo ke publik? Sebab, mengumbar strategi itu di awal malah bisa berujung menggerus suara Prabowo-Sandi, alih-alih berjalan efektif. Terlebih, kabarnya Jokowi begitu lihai memainkan persepsi publik.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Efektif atau tidaknya rebranding “The New Prabowo”, waktu lah yang akan membuktikan. Rebranding tersebut bisa saja ingin mengupas dan mensosialisasikan Prabowo muda yang humanis. Sehingga wajar jika The New Prabowo diangkat sebagai sebuah wacana dan ingin melihat respons publik. Namun The New Prabowo tidak akan berjalan efektif jika tidak dibarengi dengan program-program real untuk masyarakat. Karena masyarakat saat ini butuh yang kongkrit. Bukan lagi wacana-wacana politik.

Hal yang wajar jika kubu petahana tidak suka dengan gagasan The New Prabowo. Karena apapun yang datang dari Prabowo pasti akan dikomentari miring. Dalam politik itu kan bagaimana caranya membusuki lawan. Dan mengangkat citra kubunya.

Publik akan lebih menilai The New Prabowo secara objektif. Tentu publik pun akan menilai dalam dua sisi: ada yang setuju dan pasti ada yang nyinyir. Sebagai sebuah ide, tidak salah jika The New Prabowo terus disosilisasikan. Dan biarlah publik yang akan menilai. Apakah gagasan tersebut diterima atau ditolak. Karena terkadang apa yang dinyatakan oleh para elite politik berbeda dengan apa yang dikehendaki rakyat. Jadi, kritik terhadap The New Prabowo dari elite dari kubu Jokowi, bisa saja berbeda dengan kehendak publik.

Saya pikir, rebranding The New Prabowo bukan senjata makan tuan. Gagasan yang disampaikan Sandiaga Uno itu memang harus disebarluaskan. Sekali lagi, biarlah rakyat akan akan memberi penilaian. Jika gagal pun kan tidak ada ruginya. Yang rugi adalah yang tidak pernah kreatif mencoba ide baru. Selama ide The New Prabowo itu bagus pasti akan diterima publik. Namun sebaliknya jika kurang baik, maka dengan sendirinya masyarakat akan diam.

Dengan demikian, pernyataan Sandi soal The New Prabowo tak lebih sekadar ingin melihat respons publik. Dan Sandi adalah sosok muda yang kreatif. Tak ada salahnya mengusung The New Prabowo. Tak akan membuat rugi kubu Prabowo-Sandi. Jika respons publik baik, maka akan dilanjutkan. Dan jika responsnya adem-adem saja atau bahkan nyinyir, kan hanya tinggal menghentikan ide tersebut. Mencoba ide-ide baru dalam politik itu penting. Walau terkadang respons yang diterima tidak sesuai kenyataan. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Humas dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Nampaknya rebranding “The New Prabowo” agak berhasil untuk orang-orang--terutama di kalangan milenial dan kelompok ibu-ibu--yang memang kurang tercerahkan tentang siapa Prabowo sesungguhnya. Jadi, upaya rebranding itu tetap akan memiliki dampak walau tidak signifikan terhadap elektoral Prabowo-Sandiaga Uno. Namun dalam beberapa hal tetap melekat dalam ingatan publik soal bagaimana Prabowo di tahun 1998.

Kalau pun kita bicara dalam konteks masa lalu Prabowo selama 5 tahun belakangan ini,  tetap ada kesan publik bahwa Prabowo adalah seorang yang tempramental. Berbicara yang menggebu-gebu. Kemudian, kurang punya sensibilitas terhadap audience. Jadi, itu tipikal seorang mantan jenderal yang sudah pernah kalah.

Itu alasan saya bilang dampak The New Prabowo tidak signifikan, hanya efektif bagi orang-orang yang tidak terpapar masa lalu Prabowo. Jadi, rebranding bahwa dia kini lebih mendengarkan orang lain, kemudian lebih tenang, dan menghargai orang, itu kan memang tidak terkesan apapun dari apa yang kita lihat selama ini.

Rebranding The New Prabowo tak lepas sebagai upaya mengimbangi citra Jokowi. Karena Jokowi selama ini dikenal sebagai sosok yang tenang dan nyaris tidak pernah menunjukan kemarahan di depan publik. Terutama bagi masyarakat Jawa, itu dianggap tipikal pemimpin ideal. Misalnya, saat SBY menang Pilpres 2004 karena dicitrakan sebagai orang yang dikalahkan oleh politik di pemerintahan Megawati. Kemudian, SBY betul-betul mewakili sosok yang ideal dalam pandangan publik, terutama masyarakat Jawa, karena SBY mencitrakan sebagai orang yang tenang, murah senyum, berbicara tertata, dan lainnya. Sikap seperti itu disenangi oleh sebagian besar publik.

Kalau Prabowo ingin melakukan rebranding dalam artian terkesan “palsu”, ini juga akan menjadi senjata makan tuan memang. Karena publik tentu akan bertanya-tanya. Jadi, ada hal-hal yang disebut dengan marketing politik, salah satunya dengan melakukan pencitraan. Tapi pencitraan yang 180 derajat berbeda dengan aslinya, itu bisa saja dianggap sebagai sesuatu yang berpura-pura. Langkah seperti ini di sebagian besar masyarakat tidak akan menjadi pilihan.

Sebagian pemilih yang kemudian mendukung Prabowo adalah orang yang kecewa dengan pemerintahan Jokowi yang dianggap tidak cukup progresif. Misalnya, orang yang melihat angka pertumbuhan ekonomi yang tidak bisa lebih dari 6 persen. Kemudian, orang yang melihat situasi saat ini ketika pajak dinaikkan dan dinilai memberatkan masyarakat. Kelompok-kelompok ini yang kemudian bisa menjadi limpahan suara bagi Prabowo-Sandi. Saya pikir The New Prabowo kurang begitu efektif, karena orang yang memilih Prabowo pasti orang yang ingin anti-thesis dari Jokowi. Misalnya, karena menilai Prabowo sosok yang tegas.

Jadi, rebranding The New Prabowo bisa jadi tidak banyak bermanfaat bagi Prabowo. Misalnya, branding yang dibangun sejak deklarasi, Sandiaga Uno dicitrakan sebagai sosok muda, muslim, dan santri. Padahal yang kita lihat sebelumnya Sandiaga Uno tidak pernah mendapat kesan sebagai santri. Citra Sandi ini juga tidak akan bertahan lama, kecuali bagi komunitas seperti ibu-ibu yang tidak begitu tahu sosok Sandi dan kelompok milenial yang juga kurang literasi politik.

Overall, saya lihat strategi yang akan dilakukan oleh kubu Prabowo-Sandi semacam mereaksi apa yang sudah dilakukan oleh kubu pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Sehingga, rebranding The New Prabowo seperti orang yang sudah kalah di tengah jalan, kemudian mencoba mengubah citranya dengan berharap ada gerusan suara dari kelompok pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar