Bongkar Praktik Perburuan Rente Industri Nikel, Faisal Basri Sebut 90 Persen Keuntungan Dinikmati China
berita
Sumber Foto : detik.com/Ari Saputra
30 July 2021 10:00
Watyutink.com - Pengamat ekonomi Faisal Basri membeberkan fakta mencengangkan soal industri pengolahan biji nikel di Indonesia. Menurutnya industri yang banyak terdapat di Kabupaten Konawe dan Morowali, Sulawesi Barat itu keuntungannya sebagian besar dinikmati pengusaha China. 

Saat berbicara di kanal YouTube Refly Harun, Selasa 27 Juli 2021, Faisal menyebut hanya 10 persen keuntungan industri nikel yang dirasakan Indonesia. Meskipun pengusaha China banyak membangun smelter di Konawe dan Morowali tapi 90 persen keuntungannha justru diboyong ke negara asal mereka. 

Faisal mengungkapkan Indonesia hanya dijadikan eksistensi untuk mendukung industrialisasi China. Faisal mengatakan pengembangan industri nikel di kawasan ekonomi khusus Morowali dan Konawe sampai saat ini belum memenuhi hilirisasi. Pasalnya tidak ada fasilitas produksi untuk mengolah bijih nikel menjadi hidroksida dan nikel murni berkadar 99,9 persen. Padahal keduanya adalah bahan utama untuk diolah menjadi beterai lithium.

Dosen Universitas Indonesia (UI) ini menuturkan smelter atau pabrik pengolahan di Konawe dan Morowali sebagian besar hanya mengolah bijih nikel pig iron (NPI) 20-25 persen dari produk akhir. Menurut Faisal, investor China bisa membeli produk olahan nikel setengah jadi dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang diberikan negara.

Faisal mencontohkan adanya fasilitas seperti tax holiday dan keringanan pajak ekspor membuat investor China bisa membeli produk olahan nikel setengah jadi asal Konawe dan Morowali lebih murah setengah atau sepertiga dari harga pasar Internasional. 

Kebijakan ini diakui Faisal membuat nilai ekspor Indonesia naik. Namun nilai yang didapatkan Indonesia sebenarnya tidak maksimal. Fasial mencontohkan jika pabrik atau smelter berada di China, mereka harus membeli bijih nikel seharga 100 dolar AS per ton atau kilogram. Tapi dengan membuat smlter di Indonesia, China hanya membeli seharga 25-35 dolar AS per ton atau kilogram.  

Sesampai di Cina, nikel setengah jadi akan diolah menjadi aneka produk, sepertj sendok, garpu, pisau, atau lembaran baja yang tahan karat dengan kualitas tinggi. Produk-produk tersebut nantinya oleh China dijual kembali ke Indonesia. 

Dalam kesempatan terpisah di laman Faisalbasri.com, mantan pendiri PAN ini menduga industri nikel di tanah air menjadi sarang bagi praktik pemburuan rente secara besar-besaran. Faisal menyatakan sama sekali belum ada upaya mengembangkan bijih nikel menjadi bahan utama baterai lithium. 

Indonesia sejauh ini hanya dimanfaatkan sebagai penopang industrialisasi di Cina. Ongkos atau biaya yang disediakan Indonesia sangat murah dibandingkan jika kegiatan itu dilakukan di China. 

Kok mau-maunya dikibuli seperti itu!

Tetaplah kritis membaca berita!

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF