Bukannya Motivasi, Pakar Sebut Tindakan Risma Paksa Tuna Rungu Bicara Justru Bikin Minder
berita
Risma bersama penyandang disabilitas rungu. Sumber Foto : YouTube
05 December 2021 13:15
Watyutink.com - Tindakan Menteri Sosial Mensos Tri Rismaharini memaksa penyandang disabilitas rungu berbicara terus menjadi sorotan. Kali ini kritikan datang dari Dr dr Muhtarum Yusuf SpTHT KL, dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher (THTKL) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. 

Saat memberikan keterangan, Jumat 3 Desember 2021, dr Muhtarum menyatakan tindakan memaksa penyandang disabilitas rungu berbicara seperti yang dilakukan Risma kurang tepat. Pasalnya mereka memang belum mampu berbicara. Alih-alih menjadi motivasi, tindakan Risma justru membuat tuna rungu drop.

Ketua Departemen THTKL Fakultas Kedokteran (FK) Unair ini memaksakan perbuatan yang di luar kemampuan mereka bukannya memotivasi. Tapi menjadikan para penyandang disabilitas rungu minder hingga drop.

Menurut dr Muhtarum, seharusnya mantan Wali Kota Surabaya itu terlebih dahulu mengetahui dan mengerti kategori pendengaran anak tuna rungu. Jika dalam kondisi berat dan tidak mampu berkomunikasi, akan membuat trauma lantaran mereka dipaksa melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya. 

Dr Muhtarum menjelaskan pada dasarnya anak dengan gangguan pendengaran belum tentu ada kelainan di organ lain. Ada yang murni dengan gangguan pendengaran tapi kecerdasannya bagus.  Tapi ada juga yang mengalami gangguan pendengaran disertai kelainan organ lain, misalkan kelembaban otak, jantung dan lainnya atau multi organ anomali.

Jika ingin memaksimalkan potensi, menurut dr Muhtarum sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan para penyandang disabilitas. 
Ia menegaskan kata kuncinya yakni memaksimalkan potensi. Ketika potensi pendengarannya bisa berkembang seperti orang normal, maka akan baik. 

Mengembangkan motivasi para penyandang disabilitas rungu menurut dr Muhtarum juga harus menyertakan lingkungan sekitar, seperti rumah, orang tua, lingkungan, masyarakat hingga pendidikannya.

Sementara itu Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi) Angkie Yudistia juga turut berkomentar terkait tindakan Risma saat menghadiri peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) Rabu 1 Desember 2021 lalu. Angkie mengatakan anak disabilitas rungu punya cara yang berbeda-beda untuk berkomunikasi.

Saat memberikan komentar, Jumat 3 Desember 2021, Angkie yang juga penyandang disabilitas rungu ini menuturkan setiap anak mempunyai kebutuhan masing-masing, termasuk
penyandang disabilitas rungu atau tuli. Itulah sebabnya menurut Angkie mereka tidak bisa disama ratakan. 

Angkie mengatakan banyak cara komunikasi yang bisa dipilih oleh penyandang disabilitas rungu. Selain menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi, anak disabilitas rungu juga bisa menggunakan gerakan tubuh, atau bantuan teknologi.

Meski demikian penulis buku berjudul "Perempuan Tunarungu Menembus Batas" ini menilai sebenarnya tindakan Risma didasari niatan tulus ingin membantu penyandang disabilitas rungu. Angkie yakin Risma benar-benar ingin memaksimalkan kemampuan mereka. 

Angkie menyebut Risma punya komitmen untuk mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Hal itu dibuktikan lewat pembentukan Komite Nasional Disabilitas (KND).

Intinya cari dulu informasi sebelum bertindak. 

Tetaplah kritis membaca berita!

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF