Daging, Apel & Anggur Impor Banjiri Tanah Air
berita
Sumber Foto : koran.tempo.co
15 May 2019 16:15
Watyutink.com  - Meski pemerintah berjibaku menahan masuknya barang dari luar negeri, derasnya arus impor tak dapat dibendung hingga mencatat kenaikan 12,25 persen. Kenaikan tertinggi ditorehkan oleh barang konsumsi sebesar 24,12 persen.

Badan Pusat Statistik menyebutkan laju impor pada April 2019 cukup deras terjadi di semua sektor menurut penggunaan barang. Total nilai impor 15,10 miliar dolar AS, naik 12,25 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan kenaikan impor tertinggi  terjadi pada barang konsumsi sebesar 24,12 persen atau senilai 1,42 miliar dolar AS, menjelang Ramadan dan Lebaran 2019. "Barang konsumsi kalau lihat pattern-nya, menjelang Ramadan impor masih akan meningkat. Pattern-nya selalu begitu, ada peningkatan di sana, puncaknya mendekati akhir Ramadan maupun Lebaran," kata dia.

Jika dirinci lagi, barang konsumsi yang mengalami kenaikan impor cukup tinggi antara lain daging beku  senilai 64,1 juta dolar AS pada April, lebih tinggi dibandingkan dengan Maret senilai 40,5 juta dolar AS. Komoditas tersebut didatangkan dari  India dan Amerika Serikat untuk menjaga pasokan jika terjadi kenaikan permintaan.

Komoditas impor lain yang juga naik adalah buah-buahan, seperti apel asal Australia senilai 39,1 juta dolar AS pada April dari 18,8 juta dolar AS pada Maret 2019, disusul buah pir dari 10,3 juta dolar AS menjadi 24,5 juta dolar AS, serta anggur dari 24,4 juta dolar AS menjadi 27,7 juta dolar AS.

Tidak hanya impor buah-buahan yang naik, barang jenis sepatu olahraga atau atletik juga meningkat dari 10,8 juta dolar AS pada Maret 2019 menjadi 20 juta dolar AS pada April 2019. "Running and athletic shoes ini lebih karena pola Ramadan. Konsumsi meningkat 24,12 persen jadi memang berbagai barang konsumsi dibutuhkan," tuturnya.

Sementara itu, sektor barang bahan baku atau penolong juga naik sebesar 12,09 persen pada periode yang sama  dengan nilai 11,33 miliar dolar AS. Barang yang meningkat di sektor tersebut antara lain main board, beberapa barang kimia dan juga bungkil kedelai untuk pakan ternak.

Sulit membuat ekonomi Indonesia mandiri kalau impor naik terus. Apakah mau terus-terusan jadi bangsa yang konsumtif?

Tetaplah kritis membaca berita!

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Akibat Jalan Non Tol Tak Dipelihara             Catatan YLKI untuk Mudik Lebaran 2019             Tipis Prabowo-Sandi Menang di MK             Putusan MK Tidak Mengakhiri Polemik Pilpres 2019             LGBTIQ Merupakan Pilihan dan Hak Asasi             Asumsi RAPBN 2020 Sulit Tercapai             Strategi Ekspansif Tak Tampak di RAPBN 2020             Transisi Darurat (Demisioner) Permanen????             Membangun Sambil Menindas             Mitigasi Pengaruh Kejadian Politik terhadap Kegiatan Ekonomi