Polda Riau Tetapkan 52 Orang dan Satu Perusahaan Sebagai Tersangka Kebakaran Hutan
berita

21 September 2019 14:55
Watyutink.com – Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto menyatakan polisi telah menetapkan 53 pihak sebagai tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pihak tersebut terdiri dari 52 tersangka perorangan dan satu tersangka korporasi, yakni PT SSS, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di Kabupaten Pelalawan.

Saat memberikan keterangan pada Sabtu (21/9/2019) Sunarto menjelaskan dari 53 kasus karhutla yang ditangani Polda Riau, baru satu yang sudah P21 dan siap dilimpahkan ke kejaksaan. Sedangkan sisanya masih dalam proses pengusutan, terdiri dari 30 kasus masih dalam tahap penyidikan, empat kasus masuk tahap satu dan 16 kasus sudah masuk tahap dua. Sunarto menambahkan luas areal yang terbakar di Riau mencapai 1.017,795 hektar.

Kapolda Riau, Irjen Widodo Eko Prihastopo sebelumnya sudah menegaskan pihaknya tidak akan main-main dalam mengusut kasus karhutla. Polisi menurut Widodo akan bekerja secara profesional dan menindak tegas setiap pelanggaran karhutla, baik perorangan maupun korporasi.  

Sementara itu Kabid Humas Polda Kalimantan Barat (Kalbar), Kombes Donny Charles Go mengatakan penyidik Polda Kalbar telah menetapkan dua perusahaan sebagai tersangka tidak pidana karhutla. Keduanya adalah PT Surya Agro Palma (SAP) dan PT Sepanjang Inti Surya Usaha (SISU). Donny menjelaskan , kedua perusahaan yang berada di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat itu didugalalaian hingga mengakibatkan lahannya terbakar.

Donny menambahkan kasus ini segera dilimpahkan ke kejaksaan. Saat ini polisi mengadakan pemeriksaan saksi ahli dan uji laboratorium. Donny menyebut Polda Kalbar bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) guna melakukan uji laboraturium.

Wajib dihukum berat!

Tetaplah kritis membaca berita

(cp)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja