• Jumat, 1 Juli 2022

Kedubes Inggris Kibarkan Bendera LGBT, NU-Muhammadiyah Beda Sikap

- Senin, 23 Mei 2022 | 13:00 WIB
Tangakapan layar pengibaran bendera LGBT oleh Kedubes Inggris. Foto : Instagram @ukindonesia
Tangakapan layar pengibaran bendera LGBT oleh Kedubes Inggris. Foto : Instagram @ukindonesia

Watyutink.com – Tindakan Kedutaan Besar (Kedubes) Inggris di Jakarta mengibarkan bendera warna-warni atau pelangi sangat disesalkan banyak pihak. Pasalnya selama ini bendera pelangi dianggap sebagai simbol kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Tindakan tersebut dilakukan Kedubes Inggris dalam rangka Hari Internasional Anti Homofobia yang jatuh pada 17 Mei.

Tindakan tersebut memancing reaksi beberapa pihak. Banyak yang menilai Kedubes Inggris tidak menghargai dan menghormati Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu pihak yang menyesalkan pengibaran bendera pelangi oleh Kedubes Inggris adalah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Saat memberikan keterangan, Sabtu 21 Mei 2022, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menyatakan seharusnya pihak Kedubes Inggris mengetahui, Indonesia mempunya falsafah Pancasila yang sangat menghormati nilai-nilai dan ajaran agama. Padahal LGBT tidak diakui oleh semua agama yang diakui di Indonesia.

Pria yang biasa disapa Buya Anwar ini menuturkan, 6 agama yang diakui di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu tidak mentolelir praktik LGBT.    

"Tidak menghormati Negara Republik Indonesia dengan mengibarkan bendera LGBT. Mereka harus tahu bahwa bangsa indonesia punya falsafah Pancasila dimana bangsa Indonesia sangat menghormati nilai-nilai dari ajaran agama," ujarnya.

Buya Anwar menegaskan dalam Islam, LGBT jelas dilarang. Selain itu menurut Buya Anwar, Muhammadiyah menilai LGBT bukanlah hak asasi manusia melainkan praktik menyimpang yang harus diluruskan atau diobati. Itulah sebabnya ia berharap negara hadir dalam membantu para pelaku LGBT keluar dan kembali pada jalan yang terpuji.

"Praktek LGBT tersebut merupakan tindakan yang secara jelas anti manusia dan kemanusiaan karena dia akan membuat punah umat manusia karena adalah mustahil laki-laki kawin dengan laki-laki atau perempuan kawin dengan perempuan akan melahirkan anak," tandas Buya Anwar.

Pendapat serupa disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Melalui Ketua Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh, MUI menyatakan tidakan Kedubes Inggris bisa memicu ketegangan. Selain itu aksi pengibaran bendera pelangi tidak sejalan dengan keadaban dan etika persahabatan.

"Langkah yang mempertontonkan pemihakan dan atau kampanye terhadap norma yang bertentangan dengan norma masyarakat Indonesia adalah tindakan yang tidak sejalan dengan keadaban etika persahabatan. Dan itu bisa memicu ketegangan yang seharusnya dihindari," kata Asrorun, Sabtu 21 Mei 2022.

Halaman:

Editor: Yusuf Rinaldy

Terkini

X