• Selasa, 9 Agustus 2022

Siap-siap Ditagih, Pemerintah Patok Penerimaan Pajak Naik 50 Persen Tahun Ini

- Selasa, 26 Juli 2022 | 09:59 WIB
Kantor Pelayanan Pajak KPP Pratama Jakarta Jagakarsa (KPP Pratama Jakarta Jagakarsa id)
Kantor Pelayanan Pajak KPP Pratama Jakarta Jagakarsa (KPP Pratama Jakarta Jagakarsa id)

Watyutink.com – Pemerintah mematok kenaikan penerimaan pajak sebesar 50 persen pada tahun ini dari angka yang berhasil dikumpulkan pada tahun lalu senilai Rp Rp1.277,5 triliun.

Staf Ahli Bidang Kepatuhan Pajak Kemenkeu Yon Arsal mengatakan dasar penetapan target kenaikan penerimaan pajak yang cukup tinggi itu adalah moncernya pertumbuhan ekonomi pada semester I 2022.

"Dengan perkembangan penerimaan yang signifikan (naik), rata-rata pertumbuhan (penerimaan pajak) tahun ini diharapkan 50 persen lebih tinggi dibandingkan 2021," kata Yon dalam salah satu diskusi, Senin (25/7/2022).

Penerimaan pajak pada tahun lalu mencapai Rp1.277,5 triliun atau 103,9 persen dari target sebesar Rp1.229,6 triliun dan membukukan kenaikan 19,2 persen secara tahunan.

Kinerja tersebut tercatat sebagai lonjakan yang cukup tinggi setelah pada tahun 2020 mencatatkan penurunan penerimaan pajak yang sangat signifikan hingga negatif 19,6 persen. Angka ini tercatat sebagai penurunan paling besar sepanjang sejarah APBN Indonesia.

Pertumbuhan penerimaan pajak yang relatif tinggi pada tahun lalu membuat pemerintah percaya diri untuk menaikkan target penerimaan pajak tahun ini, karena hal itu menunjukkan telah terjadi pembalikan arah pada pertumbuhan ekonomi yang semula minus.
Pemulihan ekonomi diperkirakan akan terus berlangsung, bahkan lebih tinggi lagi pada tahun ini. Ditambah lagi peningkatan harga komoditas di pasar global semakin tinggi, terutama batu bara yang berimbas langsung pada penerimaan pajak.

"Penerimaan-penerimaan dari sektor lain yang tak terdampak langsung, masih tumbuh 37 persen. Angka signifikan di tengah ekonomi yang belum pulih. Kontribusi masih sangat besar," ujarnya.

Pemulihan ekonomi diperkiakan masih akan berlangsung ke depan, sekalipun banyak ketidakpastian di tingkat global yang bisa menekan pertumbuhan.

"Kontribusi komoditas masih sangat besar ini memberikan optimisme kita bahwa ke depan masih melihat penguatan, ditambah dengan reformasi yang kita lakukan. Ke depan fiskal masih memadai dan berbagai kebutuhan pembiayaan pembangunan masih terkelola dengan baik," kata Yon.

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

X