• Sabtu, 20 Agustus 2022

Sekjen PBB Desak Negara Pungut Pajak Atas Laba Fantastis Perusahaan Migas

- Kamis, 4 Agustus 2022 | 13:39 WIB
Sekjen PBB Antonio Guterres (twitter @antonioguterres)
Sekjen PBB Antonio Guterres (twitter @antonioguterres)

Watyutink.com -- Sekjen PBB Antonio Guterres mengecam ‘keserakahan yang tidak masuk akal’ (grotesque greed) perusahaan migas dan mendesak pemerintahan di dunia untuk memungut pajak atas keuntungan mereka yang fastastis demi menolong orang-orang miskin.

 "Tidak bermoral bagi perusahaan migas mencetak rekor keuntungan dari krisis energi di belakang rakyat miskin, dan menjadi beban besar bagi iklim," kata Guterres kepada wartawan, seperti dikutip Reuters, Kamis (5/8/20220.

Menurut Guterres, penghasilan dua perusahaan migas terbesar AS yakni Exxon Mobil Corp XOM.N dan Chevron Corp CVX.N, Shell di Inggris, dan TotalEnergies Prancis jika digabungkan menghasilkan setoran hampir 51 miliar dolar AS (Sekitar Rp760 triliun dengan kurs Rp14.900/dolar AS) pada kuartal II 2022, nyaris dua kali lipat dari yang didapat pada periode yang sama tahun lalu.

"Saya mendesak semua pemerintah untuk mengenakan pajak atas keuntungan yang berlebihan ini, dan menggunakan dana tersebut untuk membantu orang-orang yang paling rentan menghadapi masa-masa sulit saat ini," kata Guterres.

 "Dan saya mendesak semua orang di mana saja untuk mengirim pesan yang jelas kepada industri bahan bakar fosil dan pemodal mereka, bahwa keserakahan yang mengerikan ini menyiksa orang-orang miskin dan rentan, sekaligus menghancurkan bumi, satu-satunya rumah kita bersama," katanya.

 Politisi dan kelompok pembela konsumen telah mengkritik perusahaan minyak karena memanfaatkan kekurangan pasokan global untuk menggemukkan keuntungan dan menipu konsumen. Presiden AS Joe Biden mengatakan pada bulan Juni bahwa Exxon dan yang lainnya menghasilkan "lebih banyak uang daripada Tuhan" pada saat harga bahan bakar mencapai titik tertinggi.

Bulan lalu, Inggris mengenakan pajak ‘durian runtuh’ (windfall tax) sebesar 25 persen untuk produsen minyak dan gas di Laut Utara. Anggota parlemen AS telah membahas ide serupa, meskipun harus menghadapi perdebatan panjang di Kongres.

Guterres mengatakan perang Rusia di Ukraina dan kerusakan iklim memicu krisis pangan, energi, dan keuangan global.

"Banyak negara berkembang - tenggelam dalam utang, tanpa akses ke keuangan, dan berjuang untuk pulih dari pandemi COVID-19 – menuju ke tepi jurang," katanya. "Kami sudah melihat tanda-tanda gelombang pergolakan ekonomi, sosial dan politik yang tidak ada negara yang tidak mengalaminya."

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

X