• Kamis, 8 Desember 2022

OJK Dorong Literasi Keuangan, Lindungi Konsumen dari Pinjol Ilegal

- Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:09 WIB
Gedung OJK Bidang Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB)  (ojk.go.id/id)
Gedung OJK Bidang Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) (ojk.go.id/id)

Keempat, mengingat tindakan melawan hukum di bidang penghimpunan dana dan pengelolaan investasi itu biasanya merupakan tindakan yang melintas jurisdiksi maka keberadaan SWI mutlak diperlukan dan bahkan diperkuat.

Baca Juga: Menko Perekonomian Airlangga: BI Tak Perlu Terburu-buru Naikkan Suku Bunga Acuan

Bukti Nyata Peran Fintech

Rina Apriana dari Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) dalam kesempatan yang sama menegaskan, asosiasi akan terus mendukung program literasi sebagaimana yang terus digaungkan oleh OJK.

Saat ini anggota AFPI yang berjumlah 102 anggota dengan lisensi resmi OJK di bidang usaha produktif. Artinya anggota AFPI melayani UMKM baik individu maupun institusi dengan pendanaan multiguna baik secara konvensional maupun dengan konsep syariah untuk tujuan produktif.

Rina menjelakan bahwa sejak kehadirannya pada lima-enam tahun lalu, AFPI yang didirikan sejak 2018 lalu telah mengalami perkembangannya sangat pesat. Anggota AFPI mengandalkan teknologi untuk bisa menjangkau layanan inklusi ke pelosok wilayah di Tanah Air.

Baca Juga: Menko Perekonomian Airlangga Optimistis Ekonomi Tumbuh 5,2 Persen Sepanjang Tahun Ini

“Jadi tidak perlu buka cabang di suatu daerah tapi bisa melayani masyarakat. Tetapi kita mempunyai code of conduct, kode etik dan juga memiliki pengaduan konsumen. Kalau misalnya sekarang kita kenal dengan adanya pinjol ilegal, sudah pasti itu bukan anggota AFPI, dan tidak termasuk yang diawasi oleh OJK, karena tidak mendaftar,” tegasnya.

Dia menyebutkan, saat ini peran anggota AFPI secara jelas telah mendorong inklusi keuangan. Hal ini bisa dilihat dari sisi borrower atau peminjam itu sudah lebih dari 85 juta, sementara dari sisi lender atau yang pemilik dana telah mencapai 900 ratus ribu lebih. Sedangkan agregat pinjaman sampai dengan Juni 2002 telah mencapai lebih dari Rp400 triliun. Dan tingkat keberhasilan bayar lebih dari 97 persen.

“Jadi bagaimana fintech meningkatkan inklusi keuangan, ya tentu saja ada beberapa peluang yang kita manfaatkan. Ada 186 juta individu produktif, kemudian yang un-bankable baik UMKM maupun yang individual itu 32 juta. Kemudian adanya gap penyaluran kredit UMKM nasional sebesar Rp1.650 triliun. Kita masuk mendukung inklusi keuangan dan literasi keuangan dengan teknologi, ketika bank tidak bisa menjangkau potensi itu,” papar Rina.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

X