• Kamis, 8 Desember 2022

OJK Dorong Literasi Keuangan, Lindungi Konsumen dari Pinjol Ilegal

- Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:09 WIB
Gedung OJK Bidang Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB)  (ojk.go.id/id)
Gedung OJK Bidang Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) (ojk.go.id/id)

Baca Juga: Sri Mulyani: APBN Berperan Penting Turunkan Angka Stunting

Muhammad Tiarso, Head of Fundung ALAMI Group, pada kesempatan webinar PWI dan IKWI ini juga menjelaskan peran membangun UMKM melalui teknologi oleh fintech syariah. Antara lain dengan mengalokasikan pinjol atau pembiayaan dalam perbankan syariah itu ke dalam sektor-sektor yang produktif.

Hal tersebut menjadi peluang fintech syariah mengintai Indonesia yang merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Tak heran dari sisi fashion, Indonesia menempati peringkat tiga, dari sisi makanan halal pada peringkat ke empat. “Bagaimana kita masih berada di bawah negara tetangga  Malaysia? Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa masuk ke dalam peringkat tiga besar dunia.”

ALAMI sendiri telah mengakusisi salah satu BPR Syariah dan mengubahnya menajdi Hijrah Bank dan telah mencairkan pinjaman sebesar Rp1,6 triliun di 2021 dan di tahun ini telah menyalurkan sekitar Rp3,2 triliun dengan rata-rata pencairan setiap bulan senilai Rp300 miliar. “Dengan pencapaian ini, kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan pinjaman yang legal. Karena kalau ilegal pastinya akan merugikan secara keekonomian,” imbuhnya.

Adapun skema yang ditawarkan ALAMI Group menurut Tiarso, sebagai platform pihaknya mencoba mendanai semua medium enterprise dari sektor logistik, kesehatan, pertambangan, power supply, hingga small medium enterprise. “Kami melakukan analisa, scoring terhadap project yang akan kita biayai. Setelah project-nya siap visible, kami tawarkan ke financial institution seperti bank. Jadi banyak juga perbankan yang saat sedang kelebihan dana dan belum ada penyaluran,” urainya.

Dia menambakan, ALAMI akan menambah 27 financial institusi untuk bekerja sama dalam mendanai proyek-proyek yang telah disiapkan. “Saat ini yang sudah register itu ada lebih dari 100.000 di aplikasi kami, dan yang sudah aktif setiap bulannya mendanai itu ada sekitar 8000 sampai 10.000 orang. Jadi kami dalam support UMKM berbasis teknologi Insya Allah tidak kekurangan dana. Ada sekitar 16 lender korporasi yang siap mendanai,” ungkap Tiarso.

Sementara itu, Lalavenya Sara, Head of CRM Maucash dalam webinar PWI dan IKWI ini membeberkan tips cerdas dalam dalam memilih Fintech (pinjol), apabila memang layanan keuangan berbasis digital ini dirasa sebagai solusi keuangan. Langkah pertama, masyarakat terutama ibu-ibu, harus memastikan sebelum meminjam bahwa Fintech yang dituju itu adalah perusahaan yang terdaftar dan berlisensi OJK. Hal itu dapat diakses langsung pada website OJK.

Kedua, lanjut Sara, pinjamlah sesuai kebutuhan dan dijaga maksimal 30 persen dari penghasilan. “Ini tujuannya supaya nanti pinjaman yang dicairkan itu dapat dibayarkan juga ketika sudah jatuh tempo. Jadi jangan meminjam lebih dari kemampuan kita.”

Ketiga, lanjut Sara, lunasi cicilan tepat waktu. “Jadi misalnya jatuh tempo setiap tanggal 15, maka lunasi juga cicilannya sebelum tanggal 15 atau pada tanggal 15 untuk menghindari konsekuensi dan risiko ke depannya yaitu mengenai catatan kredit yang buruk,” imbuhnya.

Tips keempat yakni menghindari berutang dengan cara ‘gali lubang tutup lubang’. Sebab mengambil utang untuk membayar utang yang lain nantinya tidak akan sehat buat keuangan. Kemudian yang kelima, ketahui bunga dan denda pinjaman di awal sebelum pinjaman. “Tujuannya agar kita bisa mengukur juga kemampuan kita.”

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

X