• Minggu, 29 Januari 2023

Hasil Autopsi Ulang Brigadir Yoshua, Dokter Forensik Sebut Tidak Ada Bekas Penyiksaan hanya Luka Tembak

- Senin, 22 Agustus 2022 | 16:30 WIB
dr Ade Firmansyah Sugiharto, Ketua Tim Dokter Forensik jenazah Brigadir Yoshua  (Instagram @ade_firmansyah_sugiharto)
dr Ade Firmansyah Sugiharto, Ketua Tim Dokter Forensik jenazah Brigadir Yoshua (Instagram @ade_firmansyah_sugiharto)

Watyutink.com - Tim Dokter Forensik telah memaparkan hasil autopsi kedua jenazah Brigadir Yoshua Nopryansah Hutabarat atau Brigadir J pada Senin 22 Agustus 2022. Hasilnya tim dokter menyatakan pada jenazah Brigadir Yoshua hanya ditemukan luka bekas tembakan. Tidak ditemukan luka lain, termasuk luka bekas penyiksaan.

"Tidak ada luka-luka di tubuhnya selain luka-luka akibat kekerasan senjata api," ujar Ketua Tim Dokter Forensik Ade Firmansyah Sugiharto saat memaparkan hasil autopsi.

Ade menjelaskan tim dokter forensik menemukan 5 bekas luka masuk dan 4 luka tembak akibat lintasan keluarnya peluru. Selain itu ditemukan pula 2 luka fatal di bagian kepala dan dada Brigadir Yoshua. Ade menyebut luka fatal itulah yang menyebabkan ajudan mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo itu meninggal dunia.

"Ada dua luka fatal yaitu luka di daerah dada dan kepala," tambah Ade.

Terkait luka di jari, Ade menepis dugaan adanya tindakan kekerasan yakni mencabut kuku Brigadir Yoshua. Menurutnya luka di jari kelingking dan jari manis itu akibat lintasan peluru.

"Luka di tangan itu alur lintasan peluru. Ada di dua jari kelingking dan jari manis sebelah kiri," kata Ade.

Ditambahkan bahwa semua luka bekas tembakan di tubuh Brigadir Yoshua masih terlihat saat dilakukan autopsi kedua. Namun Ade mengaku tidak bisa memastikan apakah tembakan dilakukan dari jarak dekat atau jauh. Pasalnya jenazah Brigadir Yoshua sebelumnya sudah menjalani proses autopsi pertama.

Soal berpindahnya posisi otak dari kepala ke perut, Ade menuturkan hal itu terjadi sebagai akibat proses autopsi pertama. Organ tubuh tersebut tidak dikembalikan ke tempatnya semula. Ade meyakini ada pertimbangan-pertimbangan tertentu mengapa otak tidak dikembalikan ke otak dan justru diletakkan di bagian perut.

"Pasti ada pertimbangan-pertimbangan baik itu misalnya ada bagian-bagian tubuh yang terbuka, sehingga saat jenazah itu akan ditransportasikan pasti ada pertimbangan-pertimbangan ke sana juga," ujarnya.

Halaman:

Editor: Yusuf Rinaldy

Tags

Terkini

X