• Minggu, 29 Januari 2023

IPW Sebut Isu Setoran Tambang Ismail Bolong Buat Citra Polisi Makin Jatuh

- Senin, 7 November 2022 | 15:00 WIB
Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso (Instagram @santososugengteguh)
Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso (Instagram @santososugengteguh)

Watyutink.com - Indonesia Police Watch (IPW) menyebut beredarnya pengakuan mantan polisi Ismail Bolong telah memperburuk citra polisi di masyarakat. Pasalnya dalam pengakuannya Ismail menyatakan adanya setoran dana perlindungan tambang ilegal kepada oknum pejabat tinggi di institusi Kepolisian.

Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso mendesak Kapolri membentuk tim khusus mengusut kasus tersebut. Isu setoran tambang tidak bisa dibiarkan lantaran bakal semakin menjatuhkan citra Polri yang sedang terpuruk akibat berbagai kasus yang menimpa beberapa perwira tinggi seperti Ferdy Sambo dan Teddy Minahasa.

IPW mendesak Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo membentuk tim khusus kasus setoran uang perlindungan pertambangan ilegal pada oknum petinggi Polri terkait dua video tayangan pernyataan seorang bernama Aiptu (Purn) Ismail Bolong,” kata Sugeng dalam keterangan tertulisnya Senin 7 November 2022.

Sugeng menerangkan ada keanehan dalam video yang berisi pernyataan Ismail. Pada video pertama, Ismail mengaku telah menyetorkan dana sebesar Rp6 miliar kepada Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto. Uang setoran tersebut terkait dengan perlindungan terhadap pertambangan ilegal di Kalimantan Timur.

Tak berselang lama, muncul video kedua berisi permintaan maaf dari Ismail Bolong. Mantan anggota Polres Samarinda, Kalimantan Timur itu juga mengaku tidak pernah bertemu dengan Komjen Agus Andrianto. IPW menduga video kedua dibuat karena Ismail mendapat tekanan dari pihak tertentu.

Sugeng menambahkan video pengakuan Ismail Bolong semakin menguatkan kabar adanya 'perang bintang' diantara perwira tinggi di tubuh Polri. Sugeng juga menduga pengakuan Ismail Bolong sengaja disimpan oleh Divisi Propam Polri sejak masih dipimpin oleh Irjen Ferdy Sambo. Video tersebut digunakan sebagai alat untuk menyerang atau menyandera pihak lain.

Dugaan tersebut seolah terbukti lantaran video pengakuan Ismail Bolong beredar setelah Ferdy Sambo dan beberapa perwira lainnya menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yoshua Nopryansah Hutabarat atau Brigadir J.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) menuturkan video pengakuan terakhir Ismail Bolong adalah serangan lanjutan. Terlihat dengan Ismail yang mengaku mendapat tekanan dari Brigjen Hendra Kurniawan yang saat itu masih menjabat Kepala Biro Pengamanan Internal atau Karo Paminal.

“Pembuatan videonya diakui dilakukan pada bulan Februari 2022,” kata Sugeng.

Halaman:

Editor: Yusuf Rinaldy

Tags

Terkini

X