• Rabu, 30 November 2022

Bantah Anies Baswedan Lakukan Politik Identitas, PKB Minta Masyarakat Jernih Melihat

- Kamis, 24 November 2022 | 13:00 WIB
Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid  (mpr.go.id)
Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid (mpr.go.id)

Watyutink.com - Wakil Ketua Umum (Waketum) PKB Jazilul Fawaid meminta masyarakat lebih jernih dalam memandang figur-figur yang akan bertarung dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Termasuk dalam mencerna informasi yang berkembang terkait nama-nama yang bakal diusung sebagai Calon Presiden (Capres).

Salah satunya yang disinggung Jazilul adalah Capres Partai NasDem Anies Baswedan. Menurut Jazilul, Anies Baswedan saat ini tengah diserang dengan isu politik identitas. Berbicara di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu 23 November 2022, Jazilul membantah tuduhan tersebut. Menurutnya Anies sama sekali tidak memiliki rekam jejak politik identitas.

Jazilul bahkan mempertanyakan alasan pihak-pihak tertentu melempar isu politik identitas kepada mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Wakil Ketua MPR RI ini mengaku tidak paham bagaimana bisa Anies dituduh melakukan politik identitas padahal faktanya hal itu tidak ada.

“Di mana politik identitasnya Pak Anies? Di mana rekam jejak politik identitasnya Pak Anies? Saya harus sampaikan ini supaya tidak salah paham,” ujar Jazilul.

Politisi asal Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini menduga isu politik identitas sengaja dihembuskan untuk menjatuhkan dan mendegradasi figur Anies Baswedan. Langkah tersebut juga merupakan pembusukan terhadapap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu. Terutama terkait dengan status Anies sebagai Capres.

“Itu semua, menurutnya saya sedang dibuat semacam (upaya) pembusukan kepada Pak Anies,” jelasnya.

Jazilul menegaskan politik identitas bisa berdampak buruk dan mengancam persatuan. Itulah sebabnya penyebaran isu semacam itu harus diwaspadai dan diantisipasi. Terlebih jika pihak yang melakukannya memiliki kekuatan modal dan mampu merancang skenario jahat memecah-belah masyarakat dengan isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

“Selalu agama ini menjadi korban dianggap politisasi agama berbahaya, memang. Tapi lebih dari itu menurut saya kita juga harus mewaspadai bahayanya politisasi hukum, politisasi kapital, itu harus kita waspadai juga," tutu Jazilul.

Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an Jakarta ini menekankan sebenarnya politik identitas dan politisasi agama terjadi karena ada yang membiayai serta menskenario. Menurut Jazilul polistisasi agama tidak muncul secara murni. 

Halaman:

Editor: Yusuf Rinaldy

Tags

Terkini

X